hasil bola, bola news, sepakbola dunia, berita bola hari ini, hasil pertandingan, score bola, live bola, berita bola dunia, dunia bola, hasil sepakbola, prediksi sepakbola, jadwal pertandingan, live streaming bola

Piala Sakit Hati Louis van Gaal

Piala Sakit Hati Louis van Gaal
Louis van Gaal mengangkat piala pertamanya sebagai pelatih Manchester United. Sumber: Eurosport

Louis van Gaal resmi diberhentikan dari tugas manajerialnya di Manchester United pada Senin, 23 Mei 2016 dengan masih menyisakan waktu 1 tahun dalam surat perjanjian kontraknya. Meski Piala FA berhasil diraih beberapa waktu lalu saat Setan Merah menumbangkan Crystal Palace 2-1 (ET) pada partai puncak di Stadion Wembley, rupanya itu tidak cukup untuk menyelamatkan karir tactician senior asal Belanda tersebut. Sejatinya raihan Piala FA juga yang pernah menyelamatkan karir seorang legenda semacam Sir Alex Ferguson (baca: Crystal Palace vs Manchester United). Namun raihan Piala FA kali ini bukan sukacita yang didapat melainkan sebuah 'penghakiman'. Kami menyebutnya sebagai 'Piala Sakit Hati'. Apakah Van Gaal sakit hati saat akhirnya dipecat? Kami tidak tahu. Tetapi ketika seseorang berhasil meraih sesuatu namun tidak mendapatkan apresiasi yang layak, ya, kami pikir Louis van Gaal sedikit banyak pastilah sakit hati.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, Apakah Louis van Gaal pantas untuk didepak? Maaf meneer van Gaal, Anda memang layak didepak, terlepas dari raihan trofi di penghujung sisa musim 2015/2016 ini. Alasannya ternyata macam-macam dan sangat panjang. Namun alasan yang paling utama mengarah pada gaya kepemimpinan van Gaal dan taktiknya di atas lapangan yang membingungkan.

Pertandingan terakhir LvG bersama MU. Sumber: The Sun
Puncak kegerahan sebagian besar fans United, dan mungkin beberapa petinggi klub, adalah ketika pasukan Setan Merah menang tipis atas Sheffield United di babak ketiga FA Cup medio Januari silam. Saat itu, meski akhirnya menang, permainan MU dinilai sangat membosankan hingga beberapa fans dalam stadion pun tertangkap kamera sampai menguap. Theatre of Dreams, julukan stadion Old Trafford pun disindir media Inggris kala itu dan diganti menjadi Theatre of Yawns. Praktis sejak saat itu pula, legenda hidup Manchester United, Paul Scholes, mulai sering mengkritik taktik dan kebijakan-kebijakan Louis van Gaal. Perlahan namun pasti, kepercayaan publik Old Trafford terhadap pria yang telah membawa Belanda meraih peringkat ke-3 di Piala Dunia 2014 ini mulai menurun drastis. Tak ada lagi van Gaal yang identik dengan Totaal Voetbal ala Negeri Kincir Angin. Manchester United di eranya benar-benar dibuat bagai opera yang berjalan amat lambat kalau tidak mau dibilang menjemukan.

LvG dalam sebuah sesi latihan. Sumber: The Sun
Kehilangan Ruang Ganti

Kesalahan fatal van Gaal kedua, yang gosipnya berperan paling besar dalam pemecatan dirinya, adalah ketidakmampuannya mengontrol ego para pemain di dressing room.

Seperti kita tahu, salah satu resep era keemasan Manchester United dibawah kendali Sir Alex Ferguson adalah kapabilitas Sang Manajer Skotlandia mengakomodir ruang ganti. Hairdryer Treatment menjadi metode paling terkenal saat itu dimana Fergie mampu menunjukkan pada seluruh skuadnya, siapa Big Boss yang harus dipatuhi. Dan hal-hal semacam itu tak ada lagi di era LvG. Bastian Schweinsteiger diperbolehkan berkeliling dunia saat cedera dan atau kelakuan liar Memphis Depay yang dia biarkan adalah beberapa contoh kasus yang membuat LvG kehilangan respek dari anak-anak buahnya. Sudah menjadi rahasia umum dalam sejarah panjang sepakbola, seorang manajer yang 'kehilangan ruang ganti', hanya tinggal menunggu waktu saja untuk segera dilengserkan dari singgasananya.

Secara statistik, seperti yang telah disinggung di banyak media sebelum ini, MU di era LvG telah menghasilkan angka-angka yang berkonotasi negatif. Tim dengan rekor backpass tertinggi musim ini adalah salah satu 'prestasi' LvG. Setan Merah musim ini juga menghasilkan persentase shots on goals dan juga rataan gol terendah sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Premier League. Hal itu belum diperparah dengan sejumlah rekrutan MU dengan nilai transfer bernilai besar yang akhirnya gagal bersinar seperti Radamel Falcao, Angel di Maria, hingga Memphis Depay. Statistik-statistik minus itu akhirnya ditutup dengan kegagalan MU menembus zona Liga Champions musim depan. Dengan melihat rapor merah semacam itu, sulit mengharapkan manajemen untuk mempertahankan Sang Meneer.

#ThankYouLouisVanGaal. Sumber foto: The Sun (edited)

Keberhasilan MU meraih piala FA akhir pekan lalu, setelah 12 tahun lamanya absen menjadi yang terbaik di ajang tersebut, sedikit banyak sebenarnya telah membelah opini para fans. Tidak sedikit yang menyayangkan keputusan manajemen yang dinilai terlalu tergesa-gesa karena LvG jelas menuntut perhatian lebih lama. Bagaimanapun juga, van Gaal adalah orang yang berjasa mengangkat darah muda - darah muda United. Marcus Rashford bisa dibilang adalah salah satu kesuksesan terbesar van Gaal selama 2 tahun menangani Setan Merah hingga bocah 19 tahun tersebut berkesempatan menjajal Euro 2016 (baca: Peluang Inggris di Euro 2016).

Apapun prestasi maupun wanprestasi yang berhasil diraih Louis van Gaal dalam 2 musim ini, kenyataannya palu keputusan pemecatan dirinya sudah diketok. Piala FA 2016 mungkin akan selalu dia kenang sebagai Piala Sakit Hati. #TerimaKasihLouisVanGaal.
Share This :