hasil bola, bola news, sepakbola dunia, berita bola hari ini, hasil pertandingan, score bola, live bola, berita bola dunia, dunia bola, hasil sepakbola, prediksi sepakbola, jadwal pertandingan, live streaming bola

Real Madrid Juara UCL 2016, Terlalu Banyak Andai Untuk Atletico

Real Madrid Juara UCL 2016, Terlalu Banyak Andai Untuk Atletico
Sergio Ramos mengangkat Piala Champions ke-11 Madrid sebagai Kapten. Sumber foto: Independent

Real Madrid resmi mencetak sejarah baru dengan memenangi La Undecima alias gelar ke-11 di ajang Liga Champions setelah pada Minggu dini hari, 29 Mei 2016, mengalahkan seteru sekotanya Atletico Madrid melalui adu penalti setelah keduanya bertarung imbang 1-1 selama 120 menit. Cristiano Ronaldo sebagai penendang terakhir mencetak gol penentu bagi Los Galacticos menggenapkan kesalahan Juanfran yang gagal menaklukkan Keylor Navas. Sebelas gelar Liga Champions membuat Real Madrid makin tak tersentuh sebagai tim terbaik sebenua biru. Congratulations!

Zinedine Zidane, satu dari sedikit orang yang sukses merengkuh gelar Champions League sebagai pemain dan pelatih. Sumber foto: The Guardian

Los Colchoneros musim ini banyak dikenal karena sistim pertahanannya yang kokoh (yang kemudian disebut orang-orang dengan sebutan "Cholismo") namun tidak defensive. Sayangnya yang terjadi semalam agak diluar perkiraan karena sejak menit pertama Fernando Torres dkk justru tampil terlalu hati-hati dan memang cenderung defensive. Atletico yang bermain semalam seperti bukan Atletico yang sama yang telah menyingkirkan Barcelona dan Bayern Munchen. Hal tersebut praktis membuat Real Madrid leluasa mengurung saudara derby-nya tersebut. Benar saja, Sergio Ramos berhasil mengoyak gawang Atletico meski pertandingan baru berumur 15 menit. Tak ada protes berlebihan dari para pemain Atletico meski gol Ramos sedikit berbau offside. Gol tersebut seperti menyadarkan pasukan Diego Simeone bahwa saat ini mereka sedang melakukan pertandingan final. Mereka mulai berani keluar menyerang dan melakukan manuver-manuver berbahaya. Tapi disinilah justru taktik brilian Zinedine Zidane terlihat bekerja dengan baik. Zizou menempatkan 3 gelandang yang memiliki kemampuan bertahan di 3/4 area pertahanan mereka. Taktik ini ternyata berhasil memutus distribusi bola Atletico, dimana lini tengah Los Colchoneros jadi seperti memiliki jarak yang terlalu lebar dengan kedua striker mereka, Torres dan Antoine Griezmann. Nama yang disebutkan terakhir ini akhirnya jadi seperti sedang off-day, terlalu banyak memaksakan diri dan tak dapat bekerjasama dengan baik dengan Torres. Kenyataannya, hampir seluruh punggawa Atletico, khususnya di babak pertama, tampil tidak dalam form terbaiknya. Bagai mesin diesel yang terlambat panas, Atletico menutup babak pertama dengan tertinggal satu gol dari sang rival.

Carrasco merayakan gol penyeimbang bersama sang kekasih
Diego Simeone seperti tahu ada puzzle yang tak bekerja dengan baik di timnya pada babak pertama. Yannick Ferreira-Carrasco akhirnya dimasukkan menjelang babak kedua dimulai. Hasilnya ternyata menakjubkan. Carrasco berhasil menjadi katalisator tim yang mampu membahayakan lawan. Pada satu kesempatan, Pepe dengan kecerobohannya yang seakan menjadi menu makan sehari-hari, menjatuhkan Torres di kotak terlarang hingga berbuah hadiah penalti. Sayang seribu sayang, kesempatan menyamakan kedudukan disia-siakan oleh Antoine Griezmann selaku eksekutor. Untungnya pasukan Merah Putih tak patah arang meski beberapa kali hampir tertinggal 2 gol sejak kegagalan penalti Griezmann. Carrasco akhirnya menggenapkan penampilan kebangkitan Atletico di babak kedua dengan sebuah gol skematis yang tak dapat dibendung Navas. Skor imbang 1-1 bertahan hingga waktu normal 90 menit usai. Tambahan waktu 30 menit rasanya sudah terlalu melelahkan bagi kedua tim hingga akhirnya babak adu tos-tos-an harus diambil untuk menentukan pemenang. Pada babak ini, Anda bisa melihat banyak muka seorang kiper. Beberapa kiper memang seperti ditakdirkan hanya hebat pada satu skill tertentu dan lemah pada poin yang lain.

Ronaldo meluapkan kegembiraan setelah jadi penentu juara
Tanpa memandang rendah para penalty-taker,  babak adu penalti sejatinya akan menjadi ujian susungguhnya bagi para kiper. Sayangnya, kedua kiper, terutama Jan Oblak, benar-benar membuat saya kecewa. Meski tampil bagus sepanjang laga, Oblak bak seorang kiper amatir ketika harus menjadi penalty stopper, bahkan seorang bek yang menjadi kiper dadakan saja mungkin masih bisa lebih bagus dari penampilannya semalam. Dan ketika Juanfran akhirnya gagal menyarangkan penalti ke-4 Atletico, Cristiano Ronaldo tanpa kesalahan menghukum penampilan tanggung Oblak dan mengantar Real Madrid pada sejarah baru. Terkhusus Ronaldo, sesuai prediksi awal (baca: Prediksi Final UCL 2016), peraih Ballon D'Or 3 kali tersebut benar-benar tak menunjukkan tanda-tanda akan bersinar sejak menit pertama. Entah karena memang atmosfer San Siro yang menjadi semacam antidot baginya, ataukah karena cedera yang didapatnya beberapa jam sebelum laga dimulai. Untungnya, hampir semua punggawa Los Merengues tampil brilian. Beberapa media menyebut Sergio Ramos dan atau Gareth Bale sebagai yang pantas menyandang predikat Man of the Match. Bahkan Ramos mencetak sejarah tersendiri dengan selalu mencetak gol ketika tampil di final Champions League.

Highlights Final UCL 2016 : Real Madrid vs Atletico Madrid


Andai Atletico tak terlalu berhati-hati sejak menit pertama, mungkin hasil pertandingan akan lain. Andai Griezmann tak gagal mengeksekusi penalti pada awal babak ke-2 dan andai saja Yannick Carrasco sudah diturunkan sejak menit awal, mungkin saja pemegang piala itu akan lain. Ah, terlalu banyak pengandaian. Atletico sendirilah yang harus bertanggunjawab terhadap kekalahan ketiga beruntun di final ke-3 Champions League mereka ini. Sekali lagi selamat untuk Real Madrid for being the best of the best!
Share This :