hasil bola, bola news, sepakbola dunia, berita bola hari ini, hasil pertandingan, score bola, live bola, berita bola dunia, dunia bola, hasil sepakbola, prediksi sepakbola, jadwal pertandingan, live streaming bola

Diego Simeone, Manajer Terbaik 2016 Versi FourFourTwo

Diego Simeone, Manajer Terbaik 2016 Versi FourFourTwo
Diego Simeone terbaik 2016
Majalah/Situs FourFourTwo menobatkan pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone, sebagai manajer terbaik 2016

"Sekali Anda pernah berada dalam kubangan lumpur yang penuh dengan kotoran, Anda harus selalu mengingatnya, jangan pernah lupa, sehingga ketika Anda berhasil melakukan sesuatu dengan baik, Anda akan terus maju dan takkan pernah terpikirkan lagi untuk mau kembali ke tempat yang menjijikan itu" 

Begitulah kira-kira bunyi salah satu quote paling terkenal dari Diego Simeone, yang pekan ini dinobatkan oleh majalah/situs FourFourTwo sebagai Football Manager of The Year 2016. Simeone menyisihkan nama-nama kuat macam Pep Guardiola dan atau manajer terbaik tahun 2015 lalu versi majalah/situs yang sama, Jose Mourinho. Mengapa bukan Zinedine Zidane yang mampu memenangkan gelar Champions League musim lalu? Mengapa penghargaan tertinggi ini tidak diberikan pada Fernando Santos, yang baru saja memenangkan gelar Euro 2016 bersama Portugal? Tentu saja pemilihan semacam ini akan menimbulkan pro dan kontra, setuju dan tidak setuju. Itu wajar. Namun ada baiknya Anda simak dahulu apa yang membuat FourFourTwo akhirnya menobatkan Diego Simeone sebagai manajer terbaik tahun 2016 berikut ini.

"Diego Simeone adalah Steve Jobs-nya Atletico Madrid", tulis Martin Mazur, kolumnis kondang FourFourTwo dan La Gazzetta dello Sport. "Dari tahun ke tahun, pelatih asal Argentina tersebut hampir selalu dapat meraih pencapaian di atas ekspektasi banyak orang, dan itu tak dapat diperdebatkan."

Ditunjuk pertama kali untuk melatih Los Colchoneros pada tahun 2011, klub ibukota Spanyol tersebut perlahan namun pasti dibawanya dari klub yang dengan susah payah menembus 10 besar klasemen hanya agar tidak malu kepada tetangganya yang lebih mentereng, Real Madrid, menjadi klub yang secara stabil mampu bersaing menjadi jawara La Liga, bahkan Champions League. El Cholo, julukan Simeone, berhasil mengubah status dan identitas Atletico Madrid menjadi klub yang jauh lebih disegani. Terlebih, saat kedatangannya dulu, sepakbola spanyol, bahkan dunia, begitu terpesona dengan hegemoni tiki-taka nya Barcelona/Pep Guardiola, bahwa sepakbola adalah tentang ball possession, membuat munculnya filosofi bermain ala Simeone, yang bahkan tidak mementingkan posesi bola, atau pressing sekalipun, menjadi sesuatu yang menarik, atau bagi sebagian orang mungkin aneh. Anda mungkin juga termasuk yang tak menyukai gaya sepakbola Simeone, namun Anda tak bisa membantah keberadaannya, atau hasil-hasilnya.

"Sepakbola adalah tentang kesalahan-kesalahan", sebut Simeone suatu kali. Semakin sedikit Anda melakukan kesalahan, semakin dekat Anda dengan kemenangan. Bohong jika ada yang bilang tim yang paling banyak menyerang adalah tim yang dekat dengan kemenangan. Salah. Yang menang adalah yang membuat sedikit kesalahan, dan itulah yang Atletico Madrid kerjakan selama ini."

Tak seperti kebanyakan pelatih besar yang hampir selalu dianugerahi skuad berisi pemain-pemain kelas A, sejak pertama kali datang, bahkan hingga sekarang, Simeone hampir selalu 'hanya' diberi skuad berisi pemain-pemain dengan label 'Average'. Setiap musim, Simeone selalu seperti dipaksa untuk membangun kembali timnya dari nol. Namun, hal itu tak pernah menghalangi Atletico Madrid untuk selalu dapat berada di atas. Teamwork adalah kunci utama yang selalu dipegang teguh oleh Simeone.

Diego Simeone mengiringi latihan Atletico Madrid
Diego Simeone di sela-sela latihan Atletico Madrid. Sumber foto: Dailymail

"Saya lebih memilih untuk meningkatkan atribut pemain saya, karena saya mengerti bahwa itu membantu saya untuk meraih kemenangan," tulis Simeone pada buku otobiografinya yang bertajuk 'Believe'. "Saya tidak ingin merayu para kritikus, saya ingin merayu pemain saya karena investasi terbaik saya ada di dalamnya, karena mereka adalah satu-satunya yang memungkinkan Anda untuk terus maju dan menjadi lebih baik."

"Marcelo Bielsa pernah berkata, tim yang bagus harus tahu bagaimana cara bermain buruk. Di setiap pertandingan dimana akan selalu ada saat-saat menguasai permainan, terpojok, atau mulai mengambil alih permainan, tim harus tahu bagaimana bereaksi dengan momen-momen semacam itu. Tanpa kerjasama tim, tanpa persiapan menderita sebagai suatu kesatuan, momen-momen seperti itu akan terasa jauh lebih buruk."


Sejak kedatangannya ke Eropa - setelah memenangkan gelar juara liga bersama Estudiantes dan River Plate - Simeone dikenal tidak hanya karena taktiknya yang cemerlang, ia dikenal juga karena keahliannya meramu strategi yang langsung dapat berjalan di atas lapangan, saat itu juga. Proses meracik strategi yang mampu memenangkan pertandingan itulah saat-saat yang paling ia nikmati, ketimbang satu pertandingan penentuan untuk menentukan gelar juara. Itu sebabnya kita sering melihat Atletico Madrid selalu bermain seperti layaknya di pertandingan final sejak hari pertama. Mereka tak peduli apakah sedang bermain menghadapi klub divisi 3 di Copa del Rey misalnya, atau Bayern Munchen di Liga Champions, pasukan Diego Simeone selalu mempertontonkan determinasi yang sama.

Diego Simeone
Diego Simeone. Sumber foto: Dailymail
"Sebagai pemain, saya selalu merasa pertandingan sepakbola adalah sebuah perang dimana saya harus membunuh musuh. Saya harus menjadi lebih kuat, berlari lebih banyak, dan mengalahkan lawan. Ini seperti sebuah pertarungan jalanan. Ada momen ketika lawan kita menunjukkan sedikit rasa takut dan keraguan di matanya, itulah saat terbaik untuk menjatuhkan musuh. Terkadang Anda ada di sisi inferior, tetapi Anda selalu dapat untuk menebar ancaman."

Dalam sebuah wawancara baru-baru ini yang dilakukan oleh surat kabar La Nacion, Cesar Menotti, pelatih yang membawa Argentina menjuarai piala dunia 1978, berkata, "Seorang manajer sepakbola ibaratnya adalah seorang kapten dalam medan tempur. Dia harus mempersiapkan pasukannya dengan baik. Jika sang kapten tahu mana prajuritnya yang paling handal menggunakan pistol, tapi kemudian memerintahkannya pergi ke dapur dan menyuruh koki masak untuk menggantikannya di medan pertempuran, maka dia adalah kapten yang tolol."

"Aturan pertama seorang manajer adalah menemukan pemain yang paling dapat merepresentasikan ide-idenya di atas lapangan. Pemain yang kemudian dapat terus mempertahankan filosofi sang pelatih."

Bakat terbesar yang dimiliki Diego Simeone adalah membentuk pasukan elit dari pria-pria yang sebelumnya hanya bekerja di dapur. Pria-pria yang kemudian menjadi tentara yang mau berjuang mati-matian mempertahankan manifesto yang hanya berlandaskan pada satu kata: Kemenangan.

dikutip dari Daftar 50 Manajer Terbaik Dunia 2016 versi FourFourTwo
Share This :