hasil bola, bola news, sepakbola dunia, berita bola hari ini, hasil pertandingan, score bola, live bola, berita bola dunia, dunia bola, hasil sepakbola, prediksi sepakbola, jadwal pertandingan, live streaming bola

Sam Allardyce, Raja Baru Tiga Singa

Sam Allardyce, Raja Baru Tiga Singa
Sam Allardyce resmi menjadi pelatih anyar Tim Tiga Singa. Sumber foto: Mirror

Setelah Roy Hodgson resmi mengundurkan diri dari jabatan pelatih tim nasional Inggris pasca kegagalan di Euro 2016 beberapa saat yang lalu, hari ini, Kamis, 21 Juli 2016, hampir sebulan setelah pengunduran diri Hodgson, Football Association akhirnya resmi mengangkat pelatih Sunderland musim lalu, Sam Allardyce, sebagai pelatih kepala The Three Lions yang ke-15. Big Sam, julukan Allardyce, menyisihkan beberapa kandidat yang sebelumnya sempat dikait-kaitkan dengan jabatan ini seperti Arsene Wenger, Juergen Klinsmann, hingga kandidat terkuat lainnya, Steve Bruce. Pertanyaannya sekarang, Apakah Sam Allardyce adalah pilihan tepat untuk Inggris?

Jika patokannya adalah prestasi, maka penunjukkan Allardyce sebagai pelatih Inggris bisa dibilang adalah sebuah tanda tanya besar sejak pria 61 tahun tersebut tak pernah mendapatkan trofi mayor apa-apa selama berkarir sebagai pelatih. Sebuah akun Twitter dari seorang fans three lions bahkan berujar dengan pedas bahwa Inggris kini tak lebih dari sebuah tim medioker, tim-tim yang memang identik dengan karir kepelatihan Allardyce.

Namun, penunjukkan Allardyce tentunya sudah berdasarkan perhitungan matang dan bukannya semudah membalikkan telapak tangan. Big Sam, meski banyak tahunnya dihabiskan bukan untuk menangani tim-tim besar, namun hampir semua pemain yang pernah ditanganinya menaruh hormat padanya terlebih karena kemampuannya dalam menggali kemampuan terpendam seorang pemain hingga hati lapangnya untuk selalu mendengarkan keluh kesah setiap pemain. Benar-benar mendengarkan setiap pemain.

Tahukah Anda? Sam Allardyce telah melewati 467 pertandingan di Premier League sepanjang karir kepelatihannya. Angka ini hanya kalah dari Sir Alex FergusonArsene Wenger, dan Harry Redknapp.

Salah satu curriculum vitae paling cemerlang dari pelatih yang telah lebih dari 25 tahun malang melintang di dunia manajerial sepakbola ini adalah ketika menangangi Bolton Wanderers pada rentang waktu 1999 hingga 2007, terlama diantara waktunya bersama tim lain. Pada masa-masa tersebut, Bolton, yang bukanlah siapa-siapa pada waktu itu, berhasil dibawanya promosi ke Premier League, dan kemudian secara kontinyu menjadi pengganjal paling meresahkan tim-tim besar tradisional EPL. Bolton bahkan kemudian juga dibawanya berkancah di Eropa, meski sekali lagi, tak ada trofi yang berhasil dipersembahkan.

Reaksi Big Sam saat Sunderland resmi selamat musim lalu
Salah satu kelemahan Allardyce, begitu yang dianggap banyak orang, adalah kesukaannya memainkan direct football. Gaya taktiknya ini membuat tim-tim yang ditanganinya kebanyakan selalu kalah dalam ball possession. Disinilah kemampuan 'mendengar' Big Sam patut diacungi jempol. Saat menangani Bolton, dengan pemain-pemain kelas dunia yang saat itu terbuang macam Youri Djorkaeff, Jay-Jay Okocha, Nicolas Anelka hingga Fernando Hierro, yang hampir semuanya tampak tak senang dengan gaya taktik direct football, Allardyce pun mendengarkan mereka. Alhasil, gaya bermain Bolton pun diubahnya menjadi lebih atraktif dan enak dilihat, sesuai keinginan sebagian besar pemainnya. Allardyce tunduk pada para pemain? Tidak, tidak seperti itu. Jangan samakan antara menuruti dan mendengarkan.

Big Sam memang tak pernah memenangkan trofi mayor apapun. Satu-satunya 'trofi' yang pernah dimenangkannya hanyalah Football League Trophy, trofi yang diberikan kepada Notts County pada musim 1997-1998 sebagai juara divisi empat Liga Inggris. Namun, ukuran kesuksesan setiap pelatih tentu saja berbeda-beda. Alih-alih memenangkan banyak piala, julukan keberhasilan Big Sam adalah sebagai sang penyelamat, the saviour. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana musim lalu Big Sam secara luar biasa menyelamatkan Sunderland.

Sepintas, Big Sam memang bukan pelatih idaman untuk Inggris. Dengan masa lalunya yang minim gelar, sulit mengharapkan Inggris akan meraih prestasi tertinggi di kancah internasional apapun. Tapi, dengan runtuhnya kepercayaan diri para pemain Inggris pasca kegagalan di Euro 2016, Sam Allardyce bisa jadi adalah orang paling tepat untuk membangun kembali puing-puing konfidensi yang berserakan itu. The right man on the right place and time. Bukan tidak mungkin, dengan kemampuannya memaksimalkan kemampuan seorang pemain, Inggris bisa jadi malah akan tampil beringas di bawah kendalinya. Mungkin saja.
Share This :