hasil bola, bola news, sepakbola dunia, berita bola hari ini, hasil pertandingan, score bola, live bola, berita bola dunia, dunia bola, hasil sepakbola, prediksi sepakbola, jadwal pertandingan, live streaming bola

Evolusi Manchester City Di Bawah Kendali Pep Guardiola

Evolusi Manchester City Di Bawah Kendali Pep Guardiola
Sergio Aguero, Nolito, Manchester City 2-1 Sunderland, EPL 2016/2017
Duet Sergio Aguero dan Nolito menjadi ujung tombak baru evolusi Man City di bawah kendali Pep Guardiola

Ketika nama Pep Guardiola ditunjuk bakal menjadi suksesor Manuel Pellegrini sebagai pelatih kepala Manchester City tengah musim lalu, banyak pundit bola dunia akan memrediksi bahwa mantan gelandang andalan Barcelona tersebut akan mengubah wajah sepakbola Liga Inggris. Banyak orang kemudian bertanya-tanya, mengubah seperti apakah yang dimaksud? Dan jawabannya langsung tersaji di dua game perdana City di Premier League.

Tadinya saya mengira impact Guardiola akan berjalan perlahan karena praktis sepakbola Inggris sama sekali berbeda dengan ladang dimana ia sebelumnya banyak menghabiskan karirnya, La Liga Spanyol. Namun ternyata saya salah. City berevolusi dengan sangat cepat hingga tim ini benar-benar berubah secara drastis. Satu yang kemudian paling kentara tentu saja, adalah tentang ball possession.

Dalam 2 game awal, baik saat melawan Sunderland maupun Stoke City, Segio Aguero dkk begitu mendominasi posesi bola. Saya tidak mengatakan bahwa dulunya, baik di era Pellegrini maupun era sebelum itu, City tidak pernah menguasai pertandingan. Tidak, tidak seperti itu. Bahkan saat menjamu The Black Cats di pekan perdana, saya hampir-hampir terkantuk karena City terlalu berlama-lama memegang bola kalau tidak mau dibilang membosankan.

ball possesion Manchester City vs Sunderland, EPL 2016/17
City membuat setidaknya 500 passing hanya di lini tengah saat menghadapi Sunderland di pekan perdana. FFT

Ini jelas hal yang baru di Liga Inggris dimana rata-rata tim selalu bermain terbuka dan langsung menyerang pada intinya. Sedikit banyak, sekarang saya mengerti mengapa Pep juga tidak terlalu disukai oleh sebagian besar pendukung Bayern Munchen karena di tangan Pep, penguasa tanah Jerman itu disulap menjadi tim yang tidak mereka kenali.

Untuk saat ini, saya tidak tahu bagaimana reaksi para fans Citizens karena toh sebelumnya City pun tidak identik dengan gaya tertentu. Hanya, untuk saat ini, bagi saya City-nya Pep tidak menunjukkan permainan yang menghibur. Belum. Bahkan ketika mereka menang telak 1-4 atas tuan rumah Stoke City beberapa saat yang lalu pun, gaya bermain City tidaklah terlalu elok dipandang mata.

Itu dari segi permainan, dari segi pemilihan skuad ternyata juga tak kalah revolusionernya. Tentu saja, satu yang paling kentara adalah tersingkirnya the man number one, Joe Hart. Saya mungkin termasuk yang paling jengah dengan penampilan kiper yang satu ini dimana performanya di Euro 2016 pernah saya kritik. Namun yang tidak saya duga adalah Hart nyatanya disingkirkan begitu cepat.

Caballero vs Hart, Manchester City 2016
Cara Pep menyingkirkan Hart dianggap terlalu kejam
Tadinya saya mengira Hart bakal improve di bawah kendali Pep, namun ternyata Pep jauh lebih tegas. Di matanya bad is bad, dan Hart tidak pernah diberi kepercayaan turun satu kalipun di 3 game resmi perdana Pep bersama City. Fakta ini sempat membuat sebagian besar fans City mengkritik keras Pep. Bagaimanapun juga, Joe Hart adalah bagian tak terpisahkan dari masa transisi City menjadi klub besar sejak sebelum dan setelah diakuisisi oleh Sheik Mansour. Menyingkirkannya seperti ini memang terkesan tak ada respect sama sekali, meski jika dilihat dari sudut pandang yang lain, tentu saja menyingkirkan Hart adalah tindakan yang sudah seharusnya.

Perubahan krusial juga terjadi di lini belakang. Sejak Vincent Kompany lebih banyak berkutat dengan cedera, dan sepertinya akan segera mengakhiri kariernya, pilihan utama Pep sebagai pengawal utama area ini adalah John Stones. Meski diakui sebagai bek yang bagus, namun tidak sedikit yang bertanya-tanya mengapa pemuda ini dihargai sedemikian mahal hingga memecahkan rekor transfer termahal. Pantaskah Stones?

Jika kita melihat ke masa lalu Pep, kita akan mendapati bek yang kurang lebih bertipe sama seperti Stones. Gerard Pique di Barcelona dan atau Medhi Benatia di Bayern, keduanya juga dipandang bukan sebagai bek yang tangguh atau garang oleh kebanyakan orang. Namun ketiganya memiliki kesamaan, yakni lebih skillful jika dibandingkan centre-back kebanyakan, dan terutama tentu saja, memiliki rataan pass completion yang sangat tinggi, yang menjadi jembatan penting sepakbola ball possession ala Pep.

Bergerak ke tengah, nama Kevin de Bruyne hampir dipastikan akan menjadi pilihan utama Pep. Sejak melatih Bayern, konon Pep sangat menyukai gaya bermain de Bruyne. Dalam 2 game perdana liga, kita sudah bisa melihat peran gelandang Belgia ini sudah berubah peran. Jika musim lalu kita melihat pemain berjuluk 'Tin Tin' ini lebih banyak merangsek ke kotak penalti lawan dan mencetak gol, di tangan Pep perannya lebih banyak menjadi pembagi bola utama. Sekali lagi, jika dibandingkan dengan klub-klub sebelumnya Pep, maka kita bisa berharap de Bruyne kedepannya akan menjadi Xavi Hernandez ataupun Xabi Alonso-nya City.

Raheem Sterling, Stoke vs Manchester City, EPL 2016/17
Raheem Sterling bisa menjadi Lionle Messi-nya City
Pertanyaannya sekarang, siapakah yang akan menjadi Lionel Messi-nya City? Jawabannya adalah Raheem Sterling. Sama seperti Hart, Sterling juga saya anggap patut menjadi kambing hitam penampilan buruk Inggris di Euro 2016. Namun hal itu tidak serta merta membuat Pep men-drop Sterling seperti Hart. Justru sebaliknya, dalam 2 game awal, kita bisa melihat Sterling berkembang dengan sangat baik, lebih berani melakukan dribble namun tidak ngawur, membuka ruang, pun dengan shooting-shooting deras. Meski tidak jarang mendapatkan booing dari para pendukung lawan, saya pikir Sterling adalah salah satu pemain yang paling patut diwaspadai lawan manapun saat ini.

Perubahan lainnya, tentu saja adalah menyingkirkan nama-nama yang sekiranya 'tak terpakai' lagi. Samir Nasri baru saja didepak dan dipinjamkan ke Besiktas. Yaya Toure, yang sejak jauh-jauh hari diprediksi akan tersingkir setelah hubungan yang buruk dengan Pep semasa di Barcelona, rasanya tidak akan menunggu terlalu lama untuk kembali mengalami nasib yang sama. Jesus Navas dan kemudian Fernando, yang memang bukan tipe pemain yang disukai Pep, kemungkinan besar akan cepat menyusul angkat kaki dari Etihad Stadium.

Evolusi ala Pep Guardiola, meski sejauh ini menorehkan hasil yang fantastis, 11 gol dan 2 kebobolan dari 3 pertandingan, namun secara sajian entertaining sepakbola ala Pep belum dapat dinikmati, setidaknya bagi saya. Namun di sisi lain, saya juga tak menutup mata bagaimana ball possession seperti ini cukup dapat menyakiti lawan terutama karena sulit menciptakan peluang yang mengancam gawang City.

Dengan cara bermain seperti ini, ditambah dengan talenta-talenta luar biasa yang mengisi skuad Manchester Biru, harus diakui City memiliki peluang sangat tinggi untuk dapat menjadi yang terbaik di tanah Inggris. Jika tak ada kejadian luar biasa, seperti saat Burnley mempermalukan Liverpool misalnya, saya pikir musim pertama Guardiola di EPL akan dapat berakhir dengan trofi juara. Bagaimana menurut Anda?


Bagaimana Peluang Manchester City di Premier League 2016/2017?

Juara
Runner-Up
Top 4 (Posisi 3-4)
Zona Europa (Posisi 5-6)
10 Besar
Di luar 10 Besar
quotes
Share This :