hasil bola, bola news, sepakbola dunia, berita bola hari ini, hasil pertandingan, score bola, live bola, berita bola dunia, dunia bola, hasil sepakbola, prediksi sepakbola, jadwal pertandingan, live streaming bola

Joe Hart, Komparasi Kemampuan dan Prediksi Kariernya di Italia

Joe Hart, Komparasi Kemampuan dan Prediksi Kariernya di Italia
Joe Hart, Torino 2016
Joe Hart menyapa fans Torino. Hart resmi berpetualang ke Italia selama semusim penuh. Sumber foto: Dailymail

Diresmikannya proses transfer Claudio Bravo dari Barcelona ke Manchester City beberapa saat lalu memastikan bahwa tak ada lagi tempat untuk Joe Hart di skuad utama City arahan Pep Guardiola. Namun mengingat sumbangsih kiper kelahiran Shrewsbury ini, City tak lantas menjualnya begitu saja. Jalan tengah terbaik kemudian diambil guna mengakomodasi kemampuan Hart, yakni opsi peminjaman.

Yang cukup mengejutkan banyak orang kemudian adalah destinasi dimana Joe Hart dipinjamkan. Alih-alih dipinjamkan ke sesama klub Inggris, Joe Hart malah diterbangkan jauh ke Eropa Selatan, tepatnya di kota Turin, Italia. Torino, klub yang musim lalu hanya berperingkat 12 di klasemen akhir Serie A, resmi menjadi rumah sementara Joe Hart selama semusim penuh.

Yang menarik kemudian adalah wacana bagaimana kira-kira nasib Joe Hart di luar Inggris. Akan sukseskah? Atau justru akan menjadi salah satu catatan karier yang mudah dilupakan? Untuk Anda ketahui, dalam rentang waktu kurang lebih 65 tahun, Joe Hart hanya menjadi pemain Britania Raya (+ Republik Irlandia) ke-35 yang pernah ditransfer dan bermain di tanah Italia. Dari 34 pemain sebelumnya, 70% bisa dikatakan gagal dan sangat sedikit sekali yang bisa disebut sukses. 

Paul Ince, cukup sukses bersama Inter meski hanya 2 musim
Jika ukurannya prestasi di lapangan, pemain Inggris terakhir yang bisa disebut sukses ketika menjajal Serie A adalah Paul Ince, yang berseragam Inter Milan pada periode 1995-1997, alias sudah hampir 2 dekade berlalu. Nama-nama sukses lain datang dari generasi yang sudah lampau, seperti David Platt (1991-1995), yang bisa disebut sebagai salah satu legenda Bari, atau Trevor Francis (1982-1987), yang pernah mengangkat Piala Coppa Italia bersama Sampdoria.

Seperti yang sudah disinggung di atas, pemain-pemain Inggris atau Britania Raya lebih banyak gagal ketika berkarier di luar Inggris atau dalam konteks ini, Serie A Italia. Mulai dari legenda Manchester United, Denis Law, kemudian ada Ashley Cole, salah satu bek kiri terbaik yang pernah dimiliki Inggris, lalu ada David Beckham yang so so saja, hingga yang terbaru, Ravel Morrison, yang sempat disebut-sebut sebagai wonderkid ber-skill maha komplit, yang gagal bersinar bersama Lazio. Uniknya, sampai saat ini klub ibukota ternama Italia tersebut tetap mempertahankannya sebagai sebuah aset yang berharga alih-alih memulangkannya kembali ke Inggris. Is there something about Ravel?

Yang menarik adalah kenyataan bahwa Joe Hart kini akan menjadi kiper Inggris pertama yang pernah bermain di Serie A. Tak seperti kompatriot Britania lainnya yang kebanyakan berposisi gelandang atau penyerang, histori sukses untuk Joe Hart menjadi sulit diukur karena memang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika menilik rekor musim lalu, dimana El Toro Torino kebobolan 55 gol dari 38 pertandingan, sulit rasanya membayangkan Joe Hart akan banyak membantu.

Pada dua laga awal Serie A musim ini saja, El Toro sudah kebobolan 4 gol meski sanggup melesakkan 7 gol ke gawang lawan. Lini pertahanan Torino jauh dari kata kuat untuk dapat mem-filter datangnya bola sebelum berhadapan dengan Joe Hart. Disinilah kemampuan Hart akan diuji. Tugasnya adalah melakukan saves sebanyak mungkin. Terlepas dari apapun hasil yang didapat Torino nanti di akhir musim, jika Hart mampu melakukan banyak saves dan atau passing, seperti yang diinginkan Guardiola, maka ia sudah bisa disebut sukses dan kita mungkin bisa melihat Hart kembali memakai seragam kebesaran City musim depan. Mungkin.

Beberapa saat lalu, situs Squawka membuat komparasi menarik tentang kemampuan Hart dibandingkan dengan kiper-kiper dengan nama besar di Serie A. Dengan perbandingan ini, sedikit banyak kita bisa mengukur dan memrediksi apakah Hart akan sukses menjaga tempatnya di tim inti Torino sekaligus menjauhkannya dari cacian media. Ini dia.

Statistis perbandingan Joe Hart vs Buffon vs Handanovic vs Pepe Reina vs Donnarumma
Statistis perbandingan Joe Hart vs Buffon vs Handanovic vs Pepe Reina vs Donnarumma

Dari perbandingan data statistik di atas, kita bisa melihat bahwa sebenarnya Hart memang tidak jelek-jelek amat. Hart unggul cukup jauh pada poin punches dan catches, yang entah apakah ini disebabkan oleh kultur sepakbola Inggris dan Italia yang berbeda, yang jelas kelebihannya pada poin ini artinya sangat bermanfaat terhadap lini defensif Torino yang rapuh. 

Yang menjadi kelemahan Hart, dan kebanyakan kiper Inggris lainnya, adalah distribusi terhadap permainan tim. Dengan persentase hanya 59%, Hart lebih banyak menjadi kiper yang sudah old-fashioned. Itulah sebabnya ia tersingkir dari skuad Guardiola yang menginginkan kipernya lebih banyak aktif dalam permainan (sweeper-keeper). Bahkan kiper Torino musim lalu, Daniele Padelli, memiliki persentase akurasi distribusi yang jauh lebih baik dari Hart. Apakah ini pertanda Hart belum tentu menjadi kiper utama Torino? Saya tidak tahu. 

Prediksi singkat kami jika Hart diplot sebagai kiper utama Torino, kami kira dia akan mampu memaksimalkan kemampuan akrobatiknya untuk melakukan saves-saves penting meski mungkin jumlah gol yang bersarang di gawangnya akan tetap banyak. Dan jika selama di Italia Hart mau belajar mengembangkan kemampuan distribution accuracy-nya, bukan tidak mungkin musim depan ia akan pulang ke Inggris sebagai sosok pemenang.
Share This :