hasil bola, bola news, sepakbola dunia, berita bola hari ini, hasil pertandingan, score bola, live bola, berita bola dunia, dunia bola, hasil sepakbola, prediksi sepakbola, jadwal pertandingan, live streaming bola

Manajer FPL Sebaiknya Berpikir Dua Kali Untuk Memakai Jasa Rooney

Manajer FPL Sebaiknya Berpikir Dua Kali Untuk Memakai Jasa Rooney

Beberapa saat lalu, ketika Manchester United memutuskan untuk melepas Wayne Rooney kembali ke Everton, sejatinya tidak sedikit para Manchunian yang merasa patah hati. Bagaimana tidak, dengan masa bakti selama kurang lebih 13 tahun dan status sebagai pencetak gol terbanyak Setan Merah sepanjang masa, melepas Rooney begitu saja tanpa pesta perpisahan ibarat sebuah pengkhianatan yang menyakitkan. Kendati kemudian dalam sebuah jumpa pers Rooney mengatakan senang bisa kembali ke tempat dimana namanya pertama kali diukir, namun saya yakin jauh di dalam lubuk hatinya, pastilah ada tersisa sedikit rasa kecewa. Rasa yang pastinya juga dirasakan sebagian besar pendukungnya. Mengapa harus Rooney? Mengapa tidak membiarkan saja dia menjadi legenda di Manchester United? Begitu mungkin pekikan hati beberapa teman saya yang merupakan pendukung setia Setan Merah.

Namun, diluar rasa bersalah yang menyertai kembalinya Rooney ke Everton, sejatinya andai dilihat dari sudut pandang teknis, keputusan MU itu sudah tepat. Musim lalu, Rooney tercatat hanya 25 kali bermain untuk Setan Merah yang tidak semuanya berstatus sebagai starter. Dengan catatan 5 gol dan 5 assists, menjadikan performanya musim lalu sebagai titik terendah dalam karirnya sebagai pemain Setan Merah. Bahkan, jika kita runut sedikit ke belakang, dari tahun ke tahun Rooney memang mengalami degradasi performa yang cukup signifikan.


Dapat kita lihat dari infografik di atas, puncak karir personal Rooney bersama MU terjadi pada musim 2013/2014, saat ia berusia 28 tahun. Di musim tersebut, Rooney berhasil terlibat dalam 27 gol yang dicetak MU dari hanya 29 penampilan alias mencatat rata-rata involved in goal per minute tertinggi sepanjang karirnya. Barulah setelah musim itu selesai, dengan cepat performa Rooney terus anjlok. Ibarat sepeda motor atau benda-benda elektronik yang nilainya langsung jatuh begitu kita beli, nilai mesin Rooney turun begitu drastisnya dari waktu ke waktu.

Banyak orang berharap kepindahan Rooney ke Everton dapat mengasah kembali kemampuannya, membuat insting mencetak golnya kembali tajam. Seperti kisah kera sakti Sun Go Kong yang sempat kehilangan kekuatan dan akhirnya mendapatkannya kembali begitu berlatih di tempat asalnya, saya pribadi sebenarnya juga berharap Rooney akan kembali menemukan sentuhannya ketika berseragam biru The Toffees.


Namun, faktor usia juga tak dapat ditampik. Saat ini, setidaknya jika dilihat dari gebrakan transfer, Everton tampak sebagai tim yang ambisius. Rooney, di satu sisi, dapat menyalurkan sejuta pengalamannya sekaligus menjadi mentor yang baik bagi para pemain muda The Toffees. Namun di sisi lain, keberadaannya, dengan statistik tak meyakinkannya di atas, justru bisa menjadi penghambat laju ambisi Everton andai ia benar-benar gagal mengembalikan performanya.

Manajer FPL Sebaiknya Berpikir Dua Kali Untuk Memakai Jasa Rooney. Dengan harga awal yang termasuk kelas menengah (7,5), Rooney memang tampak sebagai alternatif striker FPL yang dapat diandalkan setidaknya untuk menghemat budget. Namun mengingat penurunan performanya yang drastis dalam 3 musim terakhir, saya pribadi, andai tidak dalam keadaan benar-benar terpaksa, mungkin akan menghindari memakai jasanya bahkan sebagai pilihan striker ke-3 sekalipun. Kecuali ya, jika ternyata ia sanggup untuk reborn, itu akan menjadi cerita yang lain. Kita lihat saja nanti.
Share This :