Review Pekan ke-16 EPL 2017/2018

Review Pekan ke-16 EPL 2017/2018
Review Pekan ke-16 EPL 2017/2018

West Ham 1-0 Chelsea
Tamat. Itu mungkin kata paling tepat untuk disematkan pada peluang Chelsea untuk mempertahankan gelar juaranya musim ini. Sudah menelan 4 kekalahan bahkan sebelum pergantian tahun bukanlah rekor yang layak dijadikan pegangan untuk menuntaskan musim dengan gelar juara. Tentu saja selama hitungan matematis masih ada, Chelsea belum benar-benar bisa dicoret dari kandidat juara, meski kita semua tahu peluang untuk menuju tangga teratas itu sudah semakin rapuh. David Moyes di lain sisi, membuktikan bahwa ia manajer yang layak mendapatkan apresiasi lebih dari yang diterimanya saat ini. Moyes, meski sering diolok-olok, selalu berhasil setidaknya sekali dalam semusim membungkam tim besar dan tentu saja menjungkirbalikkan prediksi banyak orang. Untuk sesaat, mungkin benar dia adalah The Chosen One.

Burnley 1-0 Watford
Sensasi Burnley terus berlanjut. Sean Dyche menjadi manajer lokal Inggris yang berhasil menandingi top six clubs dan sekaligus memisahkan diri dari kejaran tim-tim di bawahnya dengan keunggulan poin yang cukup lumayan. Jika di Italia pernah ada istilah Magnificent Seven, maka Burnley pantas menjadi anggota terakhir, setidaknya untuk satu musim ini. Secara luar biasa, The Clarets bahkan menjadi tim yang paling sulit dibobol di EPL, dengan hanya kemasukan 12 gol dari 16 pertandingan yang sudah dijalani, alias hanya kalah dari duo Manchester yang masing-masing kebobolan 11 gol.

Manchester United 1-2 Manchester City
Salah satu pertandingan paling ditunggu musim ini dari seluruh jajaran top 5 leagues Eropa. Sayangnya, yang saya lihat justru pertandingan yang tak begitu saya harapkan. Tidak, pertandingannya tidak jelek sama sekali ataupun membosankan. Pertandingan justru berjalan menarik. Hanya saja, pihak United-lah yang membuat saya kecewa. Jose Mourinho lagi-lagi menjalankan taktik bertahan yang membuat City justru leluasa mendikte permainan. Memang 2 gol City tercipta bukan dari open play, yang artinya taktik bertahan Mou berjalan dengan baik. Namun dengan taktik ini MU akhirnya jarang mendapatkan peluang padahal mereka mampu melakukannya. Lihat saja ketika MU tertinggal satu gol, mereka langsung tampil menyerang dan City sempat kewalahan yang akhirnya berujung pada 1 gol balasan dari Marcus Rashford. Sial, setelah berhasil menyamakan kedudukan, MU malah kembali bermain bertahan. Ini benar-benar menjengkelkan. Rekor home unbeaten MU akhirnya berhenti di angka 40, sebaliknya City malah berhasil mempertajam rekor win streak-nya menjadi 14 kali.

Share This :