Liverpool Bisa Menjadi Penantang Gelar Paling Berat

Liverpool Bisa Menjadi Penantang Gelar Paling Berat
Liverpool Bisa Menjadi Penantang Gelar Paling Berat

Sepakan Mohamed Salah yang menggetarkan gawang Ederson pada saat pertandingan Minggu malam membuat Anfield Stadium bersorak. Benar-benar bersorak. Momen luar biasa di tempat bersejarah sekelas Anfield yang tak bisa dilakukan klub Inggris lainnya. Kemenangan Liverpool 4-3 atas Manchester City hari Minggu lalu menegaskan bahwa The Reds menjadi ancaman serius bagi dominasi Pep Guardiola di Negeri Ratu Elizabeth tersebut.

Bicara tentang Liverpool, mereka hampir selalu dianggap tertinggal dari duo klub Manchester, juga Chelsea, dari segi finansial. Namun, semua itu dibuktikan Liverpool kala mereka hampir saja menjadi juara Liga Inggris pada musim 2013/2014, meski pada akhirnya kita semua tahu, Liverpool terjungkal di fase-fase akhir. Semenjak itu, Si Merah sudah dianggap telah kembali ke persaingan papan atas Liga Inggris, walau inkonsistensi tetap menjadi masalah utama. Apalagi sepeninggal Suarez yang hijrah ke Barcelona, alih-alih mendapatkan pengganti yang setara sang bintang, Liverpool malah memboroskan uang mereka dengan merekrut pemain-pemain yang sayangnya tidak mampu menggantikan kegemilangan Suarez.

The Reds pernah hampir mendaratkan Alexis Sanchez ke tanah Inggris, namun gagal karena striker Chile tersebut rupanya lebih memilih bergabung dengan Arsenal. Sesudahnya, Liverpool sering dicap memboroskan uang dan melakukan pembelian yang buruk untuk membeli pemain yang pada akhirnya gagal menjadi bintang.

Namun, perekrutan Virgil Van Dijk dengan harga 75 juta Pounsterling dan menjadikannya rekor klub membuat Liverpool saat ini dianggap berada di atas Arsenal, Chelsea atau pun Hotspurs terkait harga bagi satu pemain. Di sisi lain, Liverpool telah menjual pemain bintangnya, Philippe Coutinho ke Barca dengan mahar 142 juta Pounsterling.

Sejatinya, Liverpool tidak menjual Coutinho hanya untuk menyeimbangkan neraca keuangan klub yang baru saja menggelontorkan dana untuk merekrut Naby Keita dan Van Dijk. Coutinho pergi karena keinginan pribadinya membela klub raksasa Spanyol tersebut. Klopp pun mengakui, bahwa finansial klubnya sedang dalam kondisi yang baik sekali pun mengeluarkan dana besar untuk membeli Keita dan Van Dijk.

Argumen tentang membiarkan Coutinho pergi di tengah musim ini adalah murni kebijakan Klopp dan sekaligus keinginan pribadi sang pemain. Klopp beralasan bahwa Coutinho sudah berhasil mencapai ambisi klubnya, dan di sisi lain Adam Lallana sudah kembali dari cedera, serta Chamberlain yang semakin membaik performanya tanpa terburu-buru merekrut pemain baru.

Saat ini, Liverpool sedang berada di performa puncaknya setelah melibas Manchester City. Seorang legenda Manchester United beberapa musim lalu pernah mengatakan bahwa target paling penting timnya adalah harus finish di atas Liverpool dan melemparkan Si Merah dari zona Liga Champions Eropa, menggambarkan betapa Liverpool bisa jadi benar adalah raksasa yang sedang terbangun. Ancaman terbesar bagi tim besar lainnya.

Sudah 28 tahun semenjak terakhir kali Liverpool mengangkat trofi juara Liga Inggris. Namun, mereka tetap bertahan dalam persaingan papan atas dengan tim besar lainnya seperti Arsenal dan United, bahkan memiliki potensi daya ledak yang luar biasa.

Well ya, mungkin sedikit aneh jika mengatakan Liverpool-nya Klopp memiliki potensi besar untuk meledak, sementara musim mereka diisi dengan hal-hal yang tak bisa dibilang baik, seperti dihajar Spurs, imbang melawan Newcastle United dan West Bromwich yang saat ini bahkan berkutat di zona degradasi, serta dibobol 3 kali oleh tim seperti Watford.

Namun, kebesaran Liverpool terkuak dan sukses menjadi tim pertama yang menorehkan kekalahan kepada City musim ini, kemenangan yang mengantar The Reds tak terkalahkan dalam 18 pertandingan, catatan unbeaten terpanjang yang kembali berhasil diraih setelah era Rafael Benitez.

Ada cita rasa keberanian - termasuk menjual Coutinho - dalam pendekatan taktik yang dijalankan Klopp ketika memutuskan untuk berduel secara terbuka dengan Guardiola and City. Ini juga sekaligus menyindir taktik Jose Mourinho di Manchester United dan menggarisbawahi bahwa sepak bola modern adalah tentang menyerang dan mengambil inisiatif. Liverpool seperti mengajarkan pada sisa kontestan Liga Primer bagaimana cara melakukannya.

Liverpool (mungkin) tidak akan memenangkan gelar liga musim ini. Mereka (mungkin) juga tidak akan menjadi favorit musim depan, tapi satu hal yang pasti, performa mereka terus meningkat. Dan itu artinya, Liverpool bisa menjadi penantang gelar paling berat di kemudian hari.

sumber : The Telegraph
Share This :