"Mesut Oezil Seharusnya Mengundurkan Diri dari Tim Nasional Jerman"

"Mesut Oezil Seharusnya Mengundurkan Diri dari Tim Nasional Jerman"
"Mesut Oezil Seharusnya Mengundurkan Diri dari Tim Nasional Jerman"

Kiprah Mesut Oezil tidak berjalan terlalu mulus di Piala Dunia 2018 ini. Dari musim ke musim, dari tahun ke tahun, ia tak pernah lepas dari yang namanya kritikan. Seringkali, adalah bahasa tubuhnya yang belakangan dianggap sebagai kontributor besar perusak karirnya sendiri.

Kita semua tahu bagaimana kapasitas seorang Oezil. Operan-operannya yang begitu presisi, umpan lambungnya yang sangat nikmat disosor para striker, dan sentuhan akhirnya yang seringkali mematikan, menjadikan Oezil sebagai salah satu pemain paling bertalenta di muka bumi. Namun, ketika suatu pertandingan berjalan sulit, Oezil seringkali juga ikut 'menghilang'. Dan itulah yang kemudian terjadi di pertandingan pembuka Jerman melawan Meksiko, yang dimenangkan Tim Sombrero dengan skor tipis 0-1.

Beberapa orang menyebut kekalahan Jerman atas Meksiko bagai sebuah krisis nasional. Namun, seseorang dengan lantang menyebut bahwa kekalahan tersebut adalah tanggung jawab seorang pemain. "Oezil adalah pesepakbola yang overrated", kata Mario Basler (mantan punggawa legendaris Die Mannschaft) dengan kesal, seperti dikutip jurnalis Chris Hatherall dari Daily Star. "Bahasa tubuhnya seperti tubuh seekor katak yang telah mati!"

Bahkan sebelum turnamen Piala Dunia 2018 digelar, Basler adalah salah seorang yang paling vokal mengkritik Oezil. "Dia (Oezil) benar-benar overrated. Bahkan jika dia telah bermain 100 kali untuk Jerman, dia hanyalah seorang pengekor bagi saya. Pemain tanpa prinsip. Oke, benar dia dianugerahi talenta yang bagus, namun ketika diharuskan menghadapi pertandingan besar, semuanya (talenta) itu lenyap!"

Menilik statistik pertandingan ketika Jerman kalah dari Meksiko, sejatinya pertandingan tersebut bukanlah yang terburuk bagi Oezil. Dia masih bisa melakukan empat operan kunci, dan mencatatkan 91,9% akurasi dari total 74 operannya.

Bermain pada pertandingan tersebut, dan penampilannya tidak terlihat begitu buruk namun ia tetap harus turut mengangkat permainan tim Jerman yang memang di bawah ekspektasi saat itu. Pemain legendaris Jerman, Lothar Matthaus, turut mengkritik Oezil sebagai pemain yang “tidak bahagia di pertandingan tersebut.” Dia melanjutkan penjelasannya, kepada Alex Richard dari The Mirror: ”Saya sering merasakan, ketika berada di lapangan Oezil seperti merasa tidak nyaman berseragam DFB, tidak bebas – hampir seakan-akan dia tidak ingin bermain.”

 “Tidak ada hati, kebahagiaan, ataupun gairah bermain. Setelah kesan terakhir itu, tak terkecuali bagi saya bahwa dia seharusnya mengundurkan diri dari timnas setelah Piala Dunia.”

Jadi, bagaimana bisa Oezil membuat orang-orang yang seharusnya mendukungnya menjadi jengkel?
Jochen Stutzky, yang bekerja di TV Sport 1 serta mencakup timnas Jerman membeberkan teorinya sendiri.
”Mudah untuk mengeluarkannya dari tim, karena mudah untuk mengkritiknya,” katanya. “Selalu ada satu hal yang dapat dikritisi, dan kali ini adalah bahasa tubuhnya.”

 “Sangat mudah untuk mengkritiknya. Bagian dari masalahnya adalah Oezil bisa saja menjadi pemain terbaik dunia. Namun dia tidak selalu berada di level tersebut.”

Mungkin Oezil adalah musuh terbesar dari sosok yang satu ini. Dr. Jack Brown adalah ahli bahasa tubuh dan kecerdasan emosional asal Amerika. Dia mempelajari foto-foto bintang Jerman tersebut untuk Bleacher Report untuk kemudian mengobservasi bagaimana Ozil membawa dirinya di lapangan. "Saya juga seorang dokter mata, dan saya perhatikan dia memiliki kondisi yang disebut ptosis kongenital," katanya dengan cepat. "Sebuah istilah umum untuk kelopak mata yang turun.

“Ini membuatnya memiliki tampilan psikologis seperti seorang yang malas, lelah, atau apatis, sehingga menempatkannya pada posisi yang kurang menguntungkan. Jika seseorang memiliki jenis kelopak mata ini, kita melihat mereka tampak lebih malas daripada kita melihat orang lain.”



Dia melanjutkan: “Saya lihat dia juga memiliki bahu yang merosot dan kepala yang miring, dan ini menunjukkan kondisi energi yang rendah. Sebagai seorang pemimpin, hal ini menunjukkan pola pikir bertenaga lemah kepada para pemain lain, dan mereka akan cenderung menirunya. Bahkan anggota tim paling junior pun seharusnya memiliki postur tubuh yang lebih percaya diri dan kuat secara emosional. Dia terlihat hampir seperti anak laki-laki berumur 10 tahun yang kecewa karena diberitahu bahwa tidak akan diberikan permen setelah makan malam."

Kemudian, melihat foto Oezil menundukkan kepalanya, Dr. Brown berkata, “Itu hal negatif untuk dilakukan, meskipun mudah dilakukan pada keadaan kalah. Sangat penting untuk tidak melakukan hal semacam ini. Saya benar-benar menyarankan untuk tidak melakukannya. “Hal lain yang seharusnya tidak pernah dilakukan seorang pemain adalah menyentuh wajahnya. Hal ini menunjukkan kecemasan – itulah alasan utama kita menyentuh wajah kita. Hal ini membuat diri anda merasakan seperti itu pula, dan anda lebih terlihat lemah dan kalah. Beberapa tim olahraga bahkan memberlakukan denda finansial kepada para pemain yang melakukan bahasa tubuh yang buruk.”

Cara Oezil membawa dirinya di lapangan jelas mempengaruhi bagaimana orang-orang menganggapnya, tidak peduli seberapa besar usaha yang dilakukannya. Faktor lain yang sama sekali tak menolongnya sekarang adalah profil publiknya. Pemain yang sedikit berbicara, dia menjadi topik utama menjelang Piala Dunia. Oezil, bersama rekan setim internasionalnya, Ilkay Gundogan, mem-posting foto bersama Presiden Turki yang kontroversial, Recep Tayyip Erdogan.

Hubungan antara Turki dan Jerman telah menjadi tegang, dan bahkan foto tersebut menimbulkan reaksi dari partai politik AfD (Alternative für Deutschland / Alternative for Germany) yang menyerukan agar kedua pemain tersebut dikeluarkan dari skuad Piala Dunia.


Tina, penggemar Jerman asal Munich, percaya bahwa masalah yang semakin membesar adalah kekurang harmonisan hubungan Oezil dengan para suporter. Dia membeberkan, “Saya rasa orang-orang secara umum tidak bahagia dengan kekurangan Ozil, yakni ketidakterbukaannya. Dia terlihat jauh, yang sebagian memang karena salahnya sendiri, tetapi para pendukung jauh mengharapkan lebih besar. Timnas kami sangat besar, lebih besar dari tim mana pun."

Stutzky dari TV Sport 1 menambahkan, “Ada banyak sekali orang yang tidak menyukainya (Oezil) di timnas Jerman, yang tidak menyukai situasinya karena dia tidak pernah mau diwawancarai media. Sehingga dia terlihat sangat negatif, dan orang-orang tersebut tidak melihat kualitasnya lagi. Saya bisa berkata hanyalah kesuksesan yang bisa memperbaiki situasi ini untuknya. Membukukan gol, menciptakan peluang, memenangkan trofi. Menurut pendapat saya, tak ada hal lain lagi yang dapat dia lakukan."

“Jika anda melihat statistiknya, tentu sangat baik – saya pikir untuk 90 pertandingan bersama Jerman, dan jika digabungkan jumlah gol dan assist-nya, ada lebih dari 60. Tetapi di pertandingan besar? Dia bukanlah Mezut Oezil yang ingin kita lihat. Hanya satu orang yang dapat mengubah cerita ini, dan membuktikan diri atas berbagai kritik dengan sebuah penampilan hebat. Bagi Oezil, itu harus dimulai sekarang.

sumber : Bleacher Report
Share This :