Revolusi Hebat Islandia di Mata Eidur Gudjohnsen

Revolusi Hebat Islandia di Mata Eidur Gudjohnsen

Banyak orang sepertinya lebih memilih untuk mengolok-olok Lionel Messi ketika gagal mengeksekusi pinalti melawan Hannes Halldorsson ketimbang mengagumi bagaimana tim "kecil" seperti Islandia berhasil menahan imbang tim raksasa Argentina. Ya, dengan status sebagai tim peserta yang populasi penduduknya paling mini di Piala Dunia, Islandia sukses menghadirkan kemewahan yang sulit didapat tim-tim yang secara tradisi jauh lebih kuat. Bagaimana mereka dapat melakukannya?

Eidur Gudjohnsen, salah satu sosok legenda sepakbola milik Islandia, memutar kembali memorinya dan berkata bahwa revolusi hebat negaranya dimulai dari Zagreb, November 2013, saat timnya kalah 2-0 oleh tuan rumah Kroasia dan memaksa mereka mengubur mimpi berlaga di Piala Dunia 2014. Efek merasakan sakitnya kekalahan menjadikan sebuah ide terbentuk. Perlahan tapi pasti, rasa kekecewaan mulai tergantikan setelah malam nahas di Zagreb. Kekalahan itu, menurutnya, hanyalah langkah awal Islandia untuk menatap masa depan yang cerah, Euro 2016 dan Piala Dunia 2018.

"Saya kira para pemain merasakan pahitnya pengalaman itu, namun daripada terlalu berduka dan merasakan kekecewaan karena tidak pergi ke Piala Dunia, kami berhasil melawan arah dan berkata,

“Benar, Euro akan dihelat, sebuah turnamen baru, mari kita wujudkan ini!” 

Jadi kami berhasil membangunnya. Dan generasi yang sekarang ini adalah generasi para pemain yang berkolaborasi dengan sangat baik, ada kesatuan seperti itu, ada kepositifan di dalam tim."

Gudjohnsen juga menyebutkan ada peningkatan investasi yang dilakukan untuk fasilitas sepakbola di Islandia. Pada pergantian ke masa milenium, pemerintah tampak lebih serius menata Knattspyrna - istilah yang lebih pas untuk menyebut sepakbola di Islandia - dan mulai membangun "aula sepak bola" yang canggih, hangat, terbuka untuk semua dan dikelola oleh para pelatih berkualitas. Fasilitas dalam aula ini, yang dibangun oleh klub dan otoritas lokal, memulai revolusi sepakbola yang nantinya akan berekspresi sepenuhnya di Euro 2016 Perancis.

The Laugardalsvollur National Stadium di Reykjavik - kandang tim senior Islandia

Pada saat yang sama, komitmen serius dibuat untuk pelatihan elit. Dikucuri dengan pundi-pundi hak siar televisi dari UEFA, Islandia mengembangkan skema pelatihan yang lebih populer demi memenuhi hasrat tak terpuaskan rakyatnya di bidang sepakbola. Pada 2016, Islandia memiliki sekitar 600 pelatih berkualitas, yang 400 di antaranya memegang lisensi UEFA B. Ini sebanding dengan satu pelatih per 825 penduduk Islandia. Di Inggris, jumlah ini turun menjadi satu pelatih per 11.000 penduduk.

“Mereka (tim senior Islandia saat ini) adalah generasi pertama yang mendapatkan manfaat dari perubahan fasilitas di Islandia,” ujar Gudjohnsen. “Sekitar 10-15 tahun yang lalu, pemerintah kami bersama KSI, asosiasi sepakbolanya Islandia, memutuskan ‘Benar, kami butuh fasilitas lebih baik untuk bisa memainkan sepakbola sepanjang tahun’. Mereka mulai membangun seluruh  lapangan dalam ruang yang canggih dengan ukuran penuh, dan generasi inilah yang pertama kali merasakan keuntungannya.”

Gudjohnsen menambahkan bahwa jumlah populasi Islandia telah membantu memperlancar roda revolusi yang mengakar ini. Dengan mayoritas penduduk negara sebanyak 334.252 terpusat di sekitar Reykjavik, yang merupakan ibukota Islandia, serta Akureyri di bagian selatan, ini berarti bahwa mereka yang menikmati Knattspyrna tidak perlu menempuh perjalanan jauh untuk mengakses fasilitas.

“Kami tidak dapat melupakan fakta bahwa kami, pada satu poin tertentu, sangat diuntungkan karena kami memiliki populasi kecil, sehingga untuk menyelenggarakan, sebagai contoh, sebuah turnamen untuk anak-anak, sangatlah mudah karena mereka tidak harus menempuh perjalanan yang sangat jauh. Ketika anak-anak pergi berlatih, mereka bisa menggunakan sepeda mereka atau bahkan berjalan kaki dari sekolah atau dari tempat tinggal mereka karena fasilitasnya tersedia di sekitar mereka. Sehingga ini berarti adanya fasilitas tersebut nyata sangat membantu; cobalah lihat Reykjavik dan arenanya yang lebih besar, yang merupakan tempat kebanyakan tim bermain sepakbola di Islandia.”

Menariknya, Gudjohnsen juga mengakui lonjakan antusiasme pada sepakbola telah membuat olahraga lain di negaranya menjadi sengsara. “Ada semacam atmosfer yang sekarang semuanya seakan menuju sepakbola pada generasi muda dikarenakan kesuksesan tim nasional kami dan hampir menjauhi olahraga lainnya di Islandia. Setiap orang hanya ingin bermain sepakbola sekarang. Jadi, bola tangan sedikit mengalami penurunan minat, bola basket sedikit lebih sengsara lagi, jadi tidak seluruhnya merupakan hal positif jika anda memperhatikan dengan lebih luas.”

“Tapi untuk sepakbola, khususnya, ini memang fantastis.”

Islandia telah melampaui seluruh harapan dengan apa yang telah mereka capai selama tiga tahun terakhir, mengukir sejarah pada prosesnya sekaligus menginspirasi sebuah generasi baru pesepakbola. Ini adalah pengalaman yang dibagikan oleh semua orang, tidak hanya mereka yang berada di lapangan.

Kemenangan atas Inggris di Euro 2016 akan dikenang sepanjang masa

Bagi Gudjohnsen, kemajuan ini membuat Euro 2016 terasa jauh lebih spesial. “Itu adalah pengalaman luar biasa, dan saya pikir, bagi kami, kegembiraan orang-orang di rumah, kegembiraan para pemain, adrenalin yang menyertainya, semuanya membantu. Ada begitu banyak hal positif, setiap orang pergi mendukung kami, untuk merasakan pengalaman tersebut. Dan kami selalu mendapatkan ‘keberuntungan’ dengan status bahwa kami tim ‘kuda hitam’ – yang selalu merupakan posisi bagus untuk hadir dengan ekspektasi tetap berada di level rendah. Jadi kami pergi ke sana benar-benar untuk menerima semuanya.”

Dan pada akhirnya Islandia sukses melakukannya – berhasil mencapai perempatfinal pada prosesnya. “Hal terpenting adalah ketika pertandingan melawan Portugal karena kami masuk ke grup yang sama dan tiba-tiba Anda bermain melawan tim terbesar di grup tersebut. Jika anda menanyakan siapapun sebelum pertandingan, akan sulit menemukan seseorang di jalan yang berkata ‘Islandia akan mengalahkan mereka’. Jadi hasil seri adalah hasil paling fantastis untuk kami. Sebuah momen luar biasa, dan tentu saja mengalahkan Inggris juga begitu…”

Dua tahun setelah perjalanan istimewa di Euro Perancis 2016, revolusi hebat ala Islandia kini memiliki kesempatan untuk melakukannya lagi - kali ini, di panggung terbesar dari semuanya, Piala Dunia.

sumber : The Independent

Share This :