Bersinarnya Para Kiper Tangguh dalam Dua Drama Adu Penalti

Bersinarnya Para Kiper Tangguh dalam Dua Drama Adu Penalti
Bersinarnya Para Kiper Tangguh dalam Dua Drama Adu Penalti


     Luzhniki Stadium menjadi saksi tersingkirnya juara Piala Dunia 2010, timnas sepakbola Spanyol, oleh tuan rumah Rusia. Gol bunuh diri yang dicetak Sergei Ignashevich ke gawang Rusia sendiri pada menit 12 dibayar oleh eksekusi tendangan penalti Artem Dzyuba ke gawang David De Gea atas handball yang dilakukan Gerard Pique pada menit 40., menjadikan skor imbang 1-1.

     Babak kedua menjadi milik Spanyol yang mendominasi jalannya pertandingan dengan membubukan 75% penguasaan bola dan total 1091 operan sepanjang pertandingan. Sayangnya, para penggawa timnas Spanyol bahkan tidak mampu melakukan tendangan ke arah gawang sampai Andres Iniesta masuk pada menit 67. Masuknya Iniesta menambah daya gedor timnas Spanyol. Namun pertahanan tim Rusia tetap rapat dan tangguh. Kiper Igor Akinfeev turut berdiri tangguh di bawah mistar gawang untuk menangkap berbagai percobaan yang dibuat Andres Iniesta, Iago Aspas, serta Rodrigo. Kapten Rusia ini memimpin timnya memaksakan skor tetap 1-1 melewati babak perpanjangan waktu 2x15 menit untuk diteruskan ke adu penalti.

     Igor Akinfeev tentu dinobatkan menjadi Man of The Match karena keberhasilannya menggagalkan 2 penalti pemain timnas Spanyol: Koke dan Iago Aspas, serta membawa Rusia melaju ke babak 8 besar Piala Dunia 2018, menyebabkan para pemain timnas Spanyol berurai air mata atas kegagalannya mencari celah untuk melubangi pertahanan Rusia. Sebuah antiklimaks bagi Andres Iniesta yang memutuskan pensiun dari karir internasional bersama timnas, serta David De Gea yang tidak mampu menggagalkan satu pun tendangan penalti pemain Rusia dalam statusnya sebagai peraih Premier League Golden Glove 2017-2018.

     Lolosnya Rusia ke babak selanjutnya ditanggari pelatih Stanislav Cherchesov dengan singkat dan tenang, “Emosi saya biasa dan sederhana saja selama pertandingan. Emosi saya adalah untuk mengatur tim. Pertandingan ini telah berakhir, semuanya sudah seleai. Kami sekarang memikirkan pertandingan selanjutnya. Itulah emosi yang sederhana.”

     Sementara itu, Fernando Hierro, pelatih timnas Spanyol, memberikan pernyataan mengenai karir kepelatihannya.
“Masa depan saya tidak penting untuk dibahas sekarang. Saya ditunjuk sebagai pelatih kepala tiga hari sebelum [pertandingan pertama Spanyol] di Piala Dunia. Jika ada yang harus disalahkan, itu saya, bukan para pemain. Saya meletakkan reputasi pada pertandingan, karena itu pekerjaan saya.”
“Kami akan meninggalkan Piala Dunia ini tanpa mengalami kekalahan pada satu pertandingan pun [di waktu normal]; itu faktanya,” tambah Hierro.

     Pada pertandingan di Nizhny Novgorod Stadium, hasil 1-1 juga diperoleh dua tim lainnya di babak 16 besar Piala Dunia 2018: Kroasia dan Denmark. Butuh 58 detik saja untuk Mathias Jorgensen mencetak gol keunggulan Denmark yang memanfaatkan umpan matang Thomas Delaney, membobol gawang Danijel Subasic. Tak butuh waktu lama, 3 menit kemudian Mario Mandzukic menyudahi ketertinggalan gol Kroasia dengan mencetak gol yang gagal ditepis kiper Kasper Schmeichel.

     Setelah dua gol cepat tersebut, kedua tim bermain secara terbuka dengan menyeimbangkan serangan dan pertahanan mereka. Satu peluang dimiliki Kroasia untuk menggandakan skor setelah Ante Rebic dijatuhkan Jorgensen di kotak penalti pada menit 115 di babak perpanjangan waktu. Tangguhnya Kasper Schmeichel menggagalkan eksekusi penalti Luka Modric, dan turut membawa pertandingan ke babak adu penalti.

     Dua kiper di tim masing-masing menunjukkan ketangguhannya sebagai ujung tombak pertahanan tim. Kasper Schmeichel mengagalkan gol Milan Badelj dan Josip Pivaric. Sementara Subasic ikut tampil luar biasa menggagalkan penalti Christian Eriksen, Lasse Schone, dan Nicolai Jorgensen. Ivan Rakitic yang menjadi penendang kelima tim Kroasia, mengeksekusi tendangan penalti dengan apik dan menempatkan Kroasia di 8 besar Piala Dunia 2018. Gagal membawa Denmark melaju lebih jauh, Kasper Schmeichel tetap dinobatkan sebagai Man of The Match pertandingan tersebut atas ketangguhannya sepanjang pertandingan.

     Age Hareide, pelatih timnas Denmark, memberikan pernyataan pada konferensi pers pasca pertandingan, “Kami memiliki tim yang bagus, kami seharusnya bisa mengalahkan Kroasia. Kami berhasil menciptakan momen-momen yang baik, kami tidak membiarkan mereka bermain sebaik-baiknya. Kami mengendalikan pemain yang luar biasa seperti [gelandang Kroasia, Luka] Modric. Saya pikir kami bisa bermain bagus di perempat final.”

     Atas kegagalan eksekusi penalti Luka Modric di babak perpanjangan waktu, Zlatko Dalic turut menanggapi pada konferensi pers pasca pertandingan, "Kegagalan mengeksekusi penalti, adalah sesuatu yang terjadi begitu saja. Tapi yang menarik bagi saya adalah tekadnya [Modric] untuk mengeksekusi satu penalti di babak adu penalti. Dia sendiri yang meminta tempat sebagai salah satu penendang. Dapatkah Anda bayangkan apa yang akan terjadi jika dia juga gagal mencetak gol tersebut? Ini menunjukkan kualitas pemain hebat."

     Mengenai pertandingan selanjutnya, Dalic menduga pertandingan akan berjalan sangat ketat karena tuan rumah adalah lawan yang kuat. "Ini akan menjadi pertandingan besar. Kami tidak bisa bersantai, dan kami harus lebih kuat dan stabil karena kami akan melawan tim yang sangat solid, lawan yang hebat. Kami senang dengan apa yang telah kami capai, tetapi kami tahu kami harus melakukan lebih banyak lagi," jelas Dalic.

 (Dikutip dari berbagai sumber)
Share This :