Takluknya Dua Negara Amerika Latin Mewujudkan All-European Semifinal

Takluknya Dua Negara Amerika Latin Mewujudkan All-European Semifinal
Takluknya Dua Negara Amerika Latin Mewujudkan All-European Semifinal


Tunduknya timnas sepakbola Uruguay dan Brazil dengan status raksasa dari Amerika Latin pada dua timnas sepakbola asal Benua Eropa, Perancis dan Belgia, menjadikan Semifinal Piala Dunia 2018 sudah pasti akan terisi empat wakil Eropa.

Bermain di Nizhny Novgorod Stadium, Uruguay tampak benar-benar kehilangan Edinson Cavani yang mengalami cedera dan tidak diturunkan bahkan untuk satu menit pun. Kekalahan 0-2 dari Perancis yang bermain dengan mengombinasikan taktik dan kecepatan, Uruguay tidak mampu melesakkan satu gol pun. Meskipun Kylian Mbappe mampu sedikit diredam, Antoine Griezmann dan Paul Pogba tidak terhentikan untuk menjelajah lapangan Uruguay. Perancis pun jelas mendominasi permainan dengan mencatatkan total penguasaan bola sebesar 62%. Bahkan Luis Suarez harus sering bermain jauh ke dalam untuk merebut dan mendapatkan bola. Kehadiran Christian Stuani belum cukup untuk menggantikan Edinson Cavani.

Mencetak gol kedua bagi Perancis pada menit 61, Antoine Griezmann tidak merayakan golnya tersebut. Pada konferensi pers pasca pertandingan, ia mengomentari reaksi datarnya setelah mencetak gol.

“Saya tidak merayakannya (gol), karena ketika saya memulai karir saya, Uruguay banyak mengajarkan saya sepakbola. Saya sangat menghormati Uruguay, ” ujar Griezmann kepada wartawan pada konferensi pers pasca pertandingan tersebut.

Pelatih timnas Uruguay, Oscar Tabarez menanggapi tersisihnya Uruguay dari Piala Dunia 2018.
“Kami tidak bermain sebaik lawan kami, itulah sebab kami kalah. Para pemain telah melakukan semua yang mereka mampu, tetapi tim Perancis mampu mengendalikan permainan dengan cara mereka. Setelah gol kedua, ada jarak yang jauh pada level permainan kedua tim.”

Sementara itu, pasca lolosnya Perancis ke semifinal, Pelatih timnas Perancis Didier Deschamps memilih untuk tidak begitu peduli mengenai lawan mereka di semifinal.

“Untuk lawan selanjutnya, saya tidak punya preferensi. Apa yang akan terjadi, maka terjadi saja. Ada banyak tim kuat di babak penyisihan grup, semuanya tidak semudah yang mereka kira. Namun, kami banyak berkembang selama pertandingan melawan Argentina, ”kata Deschamps kepada wartawan pada konferensi pers pasca pertandingan.

Kazan Arena menjadi saksi harus pulangnya timnas sepakbola Brazil setelah mengalami kekalahan 1-2 dari Eden Hazard dkk. Dominasi penguasaan bola Brazil tidak berarti banyak bagi tim Belgia. Babak pertama benar-benar menjadi babak milik Belgia pasca gol tandukan bunuh diri Fernandinho pada menit 13 dan gol hasil sepakan keras Kevin De Bruyne pada menit 31.  Brazil harus menahan serangan demi serangan yang diluncurkan trio Belgia di barisan depan: Romeo Lukaku, Kevin De Bruyne, dan Eden Hazard. Keputusan pelatih Roberto Martinez yang memainkan Maruoane Fellaini sebagai starter juga harus diberikan kredit, karena mampu meredam pergerakan Philippe Coutinho.

Di babak kedua, Roberto Firmino yang menggantikan Willian memberikan perubahan pada timnya. Brazil menggempur habis-habisan pertahanan timnas Belgia. Sayangnya, bek-bek Belgia begitu tangguh, setangguh kiper Thibaut Courtois yang mengamankan gawangnya dari kebobolan. Berhasilnya Renato Augusto membobol gawang Courtois pada menit 76 tampak sebagai akibat beberapa pemain Belgia yang sudah kelelahan. Dengan dua kali pergantian saja, Belgia akhirnya mampu menahan skor 1-2 hingga peluit akhir pertandingan ditiup oleh wasit.


"Tim Brazil memiliki begitu banyak kemahiran dan Anda tahu bahwa mereka dapat memotong bola Anda secara terbuka," tutur Roberto Martinez selama wawancara konferensi pasca-pertandingan.
"Tapi saya tidak sedikit pun berpikir bahwa para pemain kami akan menyerah," lanjutnya.
“Mereka telah melakukan sesuatu yang spesial malam ini dan saya yakin semua orang di Belgia sangat, sangat bangga. Ini telah menciptakan memori yang bagus dan kita harus menghargainya. Tetapi sekarang kami membutuhkan lebih banyak energi untuk pertandingan kami berikutnya untuk mencoba memastikan kami sama bagusnya di semi final. ”

"Ketika Anda bermain melawan Brazil, saya pikir Anda harus mencari keuntungan taktis. Mereka punya beban psikologis – timnas dengan lima gelar juara Piala Dunia, dan sebagainya. Jadi kami harus berani secara taktis. Sebuah pertaruhan besar untuk mengubah berbagai hal dan kami membutuhkan para pemain untuk tetap percaya. Dan hari ini bukanlah mengenai taktik apa yang kami gunakan – melainkan bagaimana kami memainkan taktik-taktik tersebut. ”

Tite, pelatih Brazil, pun mengiyakan bahwa timnas Belgia bermain dengan hebat pada konferensi pers pasca pertandingan, "Saya tidak ingin membahas keberuntungan dalam pertandingan ini. Bukan hal yang baik menganggap kemenangan satu tim hanyalah keberuntungan, dan saya tidak ingin berbicara seperti itu tentang Belgia. Mereka bermain luar biasa. Tidak ada keberuntungan di sini, mereka bertindak efektif dan bisa menyeksekusi serangan mereka. Saya tidak meremehkan mereka, saya tahu dari awal bahwa mereka adalah tim yang sangat kuat, tetapi sangat sulit bagi kami untuk menerima kekalahan ini hari ini.”

Dengan harus pulangnya timnas Uruguay dan Brazil, maka semakin menegaskan dominasi tim dari negara-negara benua Eropa yang bahkan mampu mewujudkan all-European semifinal.

(*dikutip dari berbagai sumber)
Share This :