Tanda-Tanda Kekacauan di Old Trafford di Musim ke-3 Mourinho

Tanda-Tanda Kekacauan di Old Trafford di Musim ke-3 Mourinho
Tanda-Tanda Kekacauan di Old Trafford di Musim ke-3 Mourinho

Barisan penggemar Chelsea tentu sangat paham tentang Jose Mourinho dan bagaimana dulu semua hal bisa menjadi kacau balau ketika ia bertugas, dan para fans Manchester United kini sepertinya juga mulai dapat melihat sekilas tanda-tanda kekacauan yang sama. Ya, musim ini adalah tahun ke-3 Mou bersama Setan Merah. Dan seperti yang sudah-sudah, tahun ke-3 Mou di sebuah klub hampir selalu tak pernah berakhir dengan baik.

Baru-baru ini Mou mengeluhkan bahwa 300 juta poundsterling yang ia habiskan untuk skuadnya belumlah cukup, dan tampaknya tekanan dan ekspektasi untuk memenangkan Liga Premier di Old Trafford terasa jauh lebih besar daripada ketika ia masih bersama mantan klubnya, Chelsea.

Bibit-bibit 'kekacauan' itu mulai tampak musim lalu, ketika Mou mulai berbicara ngelantur kepada media terutama ketika timnya mengalami kekalahan. Contohnya, kekalahan dari Bristol City di Carabao Cup. Saat itu Mou menyebut bahwa Bristol hanya beruntung karena United harus menghadapi jadwal yang terlalu padat. "Keberuntungan" yang dianggap banyak orang tidak berdasar.

Mourinho juga berujar bahwa para pemain Manchester City tidak berpendidikan setelah perkelahian antar pemain yang terjadi di luar lapangan setelah derby Manchester yang dimenangkan oleh sang rival. Pelatih asal Portugal tersebut mengeluh dan kemudian melaporkan bahwa tim tamu terlalu berisik saat melakukan perayaan di koridor.

Selalu menganggap tim (atau manajer) lain melakukan hal yang salah saat mereka mampu mengalahkan timnya, lupakah Mou dengan selebrasi berlebihannya kala mengalahkan timnya Sir Alex Ferguson di Liga Champions sebagai manajer Porto? Lupakah Mou saat ia berlari-lari di lapangan Camp Nou ketika Inter Milan menyingkirkan Barcelona dari kompetisi yang sama pada 2010? Tentu saja tidak. Sampai batas tertentu, kumpulan kontradiksi ini adalah bagian dari triknya. Ia menolak bahwa ia meyalahkan siapapun dan terus membuat alasan karena hal tersebut berhasil. Orang-orang bereaksi. Ia bahkan melakukannya lagi setelah kalah dari Sevilla dan tersingkir dari Liga Champions di babak 16 besar pada laga sepakbola yang membosankan dan buruk.

“Saya sudah duduk di kursi ini (Old Trafford) dua kali,” ujarnya pada konferensi pers pasca kekalahan atas Sevilla. “Bersama Porto, Manchester United tersingkir. Bersama Real Madrid, Manchester United tersingkir. Jadi ini bukanlah hal baru untuk klub (United) ini.” Sebuah ujaran yang tidak tahu malu, hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Pada poin ini, saya yakin ada sebagian fans Setan Merah yang mulai tak respect padanya.

Tanda-Tanda Kekacauan di Old Trafford di Musim ke-3 Mourinho
Ada suatu hal yang sangat terasa familiar bagi para penggemar Chelsea. Akan tetapi, biarkan saya memberikan catatan bahwa hampir semua suporter Chelsea akan selalu berterima kasih dengan apa yang telah Mourinho berikan di Stamford Bridge. Akan selalu ada tempat bagi pelatih Portugis yang satu ini. Saya juga telah mempelajari satu hal dalam hidup, yang mungkin adalah bahwa cinta itu buta, dan ketika berkenaan dengan sepakbola, para pendukung menginginkan trofi-trofi kemenangan dan mengorbankan hampir seluruhnya.

Selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan melihat sosok Mourinho di United. Saya selalu merasa tergoda untuk berkomentar ketika menyaksikan mereka (MU) merasakan pahitnya kekalahan dan merasa bersemangat karena memang tak terelakkan sekarang dia menjadi rival. Tetapi dengan pikiran rasional, ia adalah seorang pelatih profesional, salah satu yang terbaik di dunia dan setelah semua jasa yang ia berikan untuk Chelsea.

Sejak saat itu, banyak dari kami pendukung Chelsea menonton dengan hiasan wajah berupa senyum masam yang menjadi bentuk perilaku yang dulunya kami lihat sebagai sebuah upaya pembentukan mental pemenang, yang dari perspektif berbeda, kami mengamati bahwa seluruh cemooh yang dilontarkan Mourinho mencerminkan kelakuannya.

Tak ada keraguan bahwa Jose Mourinho datang dengan banyak persiapan. Ia menjaga dirinya dengan baik. Seorang yang berteman baik dengan trofi kemenangan. Seorang yang menakjubkan yang diinginkan banyak klub rival, yang ibarat membuat Anda merasa memiliki tinggi 10 kaki dan terlihat berharga jutaan dolar ketika pergi keluar di malam hari.

Namun, dia datang dengan harga mahal dan siap membersihkan rekening bank Anda serta melambungkan tagihan kartu kredit Anda, merusak mobil mahal Anda, kemudian menyalahkan Anda, mobil Anda, atau malah keduanya.

Ia akan mencemooh Anda; memanipulasi Anda, mengutarakan komentar-komentar kejam kepada keluarga Anda, melemahkan Anda dan mengatakan hal-hal buruk mengenai Anda di belakang, bahkan kepada teman-teman terdekat Anda. Dan selama ini ia tetap bisa menarik banyak pengagumnya. Pada akhirnya Anda merasa hampa, terhina dan tertipu. Pada akhirnya Mourinho akan terlihat sebagai sosok yang benar-benar kejam terlepas dari banyaknya medali dan trofi yang ia hasilkan.

Bagi para pendukung Chelsea, harga mahal dan duka yang diberikan Mourinho harus dibayar pula. Kami menutup mata dengan segala luapan kemarahan bernada narsisnya serta ledakan dan sangkalan tak bertanggung jawabnya setiap kali ia bersalah. Namun, di manakah posisi para suporter The Red Devils dengan segala hal yang terjadi saat ini?

Beberapa penggemar meyakini, begitu pula petinggi klub, bahwa mereka harus berhati-hati merekrut Mourinho karena seluruh kontroversi yang sudah sepaket dengannya. Lebih jauh, untuk sebuah klub yang mendalami tradisi bermain sepakbola menghibur, mengapa harus mengikuti taktik negatif ‘menang bagaimanapun caranya’ yang kerap ia lakukan?

Merekrut Jose Mourinho terlihat seperti sebuah pilihan logis ketika klub Anda mengakhiri Liga Premier di posisi ketujuh, empat, dan lima pada tiga tahun selepas pensiunnya Sir Alex Ferguson. Lagipula, Mourinho pernah membawa Chelsea memenangkan gelar Liga Premier di musim keduanya setelah kembalinya ia ke klub tersebut. Jika anda ingin Liga Premier kembali, datangilah Mourinho. Mungkin begitu pikir para petinggi dan sebagian besar suporter Setan Merah saat itu.

Hanya saja, dengan dominasi kekuatan finansial Manchester City, segala hal berubah dengan cepat dan bahkan United pun akan kesulitan menghadapi mereka di dalam dan luar lapangan.

Di satu sisi Mourinho mungkin memahami hal ini dan bisa jadi menjelaskan segala kelakuannya. Ia benci dan tak terbiasa dengan kekalahan. Di sisi lain, mungkin dia sendiri telah berubah dan bukan lagi seorang pelatih klub sehebat ia sebelumnya. Mungkin sesuatu berubah setelah pengalamannya melatih Real Madrid yang terus-terusan menyiksanya. Ia sengsara dan mudah marah selama masa bakti keduanya di Chelsea, memungkiri klaimnya sebagai ‘The Happy One’ saat ia kembali ke Stamford Bridge.

Melihat dia apa adanya, dengan mata terbuka tanpa pelindung apapun, jelaslah bahwa peluang keluarnya Mourinho dari Stamford Bridge yang sudah terwujud dua kali, sekarang sedang semakin menguat di Old Trafford. Ditambah keluhannya tentang klub yang tidak menghabiskan cukup uang, orang awam pun sudah menyadari lelucon yang sedang terjadi. Kita semua tahu cara Mourinho dan apa yang dia coba lakukan.

Tanda-Tanda Kekacauan di Old Trafford di Musim ke-3 Mourinho
Ada kebiasaan menyalahkan wasit untuk keputusan yang buruk atau tidak adil juga. Ketika dia di Chelsea dia mengkritik pendukung tuan rumah karena kurangnya dukungan yang dirasakan - dia telah melakukan hal yang sama di United. Banyak orang juga mengatakan dia cepat untuk menyudutkan beberapa pemain secara terbuka, mengklaim bahwa mereka adalah anak-anak yang tidak mampu membuat keputusan dewasa di atas lapangan.

Kemudian lihat ke musim ini dengan kritiknya terhadap Paul Pogba. "Saya tidak berpikir ini tentang kami mendapatkan yang terbaik darinya, ini tentang dia memberikan yang terbaik yang harus dia berikan," kata manajer United itu kepada ESPN. "Saya pikir Piala Dunia adalah habitat yang sempurna bagi pemain seperti Pogba untuk memberikan yang terbaik. Kenapa? Karena itu tertutup selama sebulan, di mana dia hanya bisa berpikir tentang sepakbola. Di mana dia bersama timnya di kamp pelatihan, benar-benar terisolasi dari dunia luar, di mana mereka fokus hanya pada sepakbola, di mana dimensi permainan hanya tentang motivasi."

Oke, mungkin beberapa yang dikatakannya memang mengandung sedikit kebenaran, namun banyak hal yang lain sama sekali tidak benar dan dibuat dengan maksud untuk menyerang, menyalahkan orang lain dan membelokkan kesalahan dari orang yang seharusnya memikul tanggung jawab alias dirinya sendiri.

Isu yang menarik adalah berapa lama pengurus, pemain, dan pendukung United akan bertahan dengannya. Ketika Anda mendambakan kesuksesan, Anda menutup mata terhadap setiap perilaku (negatifnya), tetapi ketika keberhasilan gagal terwujud, apa yang mungkin terjadi? Dengan gelar Liga Premier musim ini belum-belum sudah tampak di luar jangkauan, ada peluang bahwa dia tidak akan menemukan banyak kesabaran di Old Trafford terlebih jika kelakuannya menjadi lebih beracun (toxic behaviour).

Pandangan lain mengatakan bahwa ini semua adalah bagian dari beberapa rencana besar, bahwa dia sedang bekerja menuju pintu keluar dimana, dalam pikirannya sendiri, dia tetap tidak bercacat. Ada orang-orang yang menduga bahwa ia melakukan hal yang sama dengan kepindahannya dari Chelsea ke United.

Tetapi sampai kapan dia dapat terus mengelola dengan cara seperti ini, ketika kekurangan dan pola tingkah lakunya menjadi semakin transparan melalui pengulangan? Wahai para pendukung MU, bersiap-siap sajalah untuk sesuatu yang mungkin tak akan menyenangkan yang mungkin saja terjadi untuk kalian dalam waktu dekat ini.

sumber : Football London
Share This :