Juergen Klopp dan Hikayat Pasca Piala Dunia

Juergen Klopp dan Hikayat Pasca Piala Dunia
Juergen Klopp dan Hikayat Pasca Piala Dunia

Liverpool, seperti kebanyakan tim besar lainnya, harus mengawali musim ini dengan persiapan yang mau tidak mau harus terganggu dengan adanya ajang Piala Dunia 2018. Turnamen yang digelar sebulan penuh tersebut membuat banyak pemain terbaik jauh dari klub mereka masing-masing, dan Liverpool tak terkecuali. Empat pemain The Reds, termasuk tiga pemain langganan starter musim lalu — Jordan Henderson, Trent Alexander-Arnold, dan Dejan Lovren — harus bermain bersama tim nasional mereka hingga turnamen usai. Situasi semacam ini jelas cukup mengganggu. Selain itu, pemain-pemain dari benua Amerika Latin, seperti Roberto Firmino dan Alisson, sudah pasti akan mendapatkan waktu latihan yang terbatas juga karena kendala jarak.

Kabar baiknya adalah, ini bukan rodeo Juergen Klopp yang pertama. Kabar buruknya, rekor Klopp di musim Pasca Piala Dunia tidak terlalu baik dan tampaknya menjadi wacana tersendiri yang perlu ditilik secara serius.

Mari kita mulai dengan saat awal-awal Klopp menjabat sebagai manajer di Mainz. Mainz tidak memiliki satu pun pemain yang berangkat ke Piala Dunia 2002. Jadi, untuk tujuan diskusi ini mungkin adalah masa yang tidak begitu penting meski pada tahun tersebut Klopp gagal mengantar Mainz promosi (dapat ditebus di musim berikutnya). Kita langsung maju ke empat tahun kemudian yakni Piala Dunia 2006. Klopp masih menjabat sebagai manajer Mainz saat itu.

Hanya ada satu pemain Mainz yang dipanggil ke Piala Dunia, yakni pemain depan Ghana Otto Addo. Lagi-lagi, ini seharusnya tak berimbas secara signifikan terhadap tim asuhan Klopp. Namun uniknya, Klopp menderita satu-satunya degradasi yang pernah dialaminya sebagai manajer pada musim 2006/07. Ada masalah struktural dalam klub yang jauh lebih menekan daripada Piala Dunia. Namun poin penting yang ditekankan di sini adalah, Klopp kembali mengalami kegagalan di musim setelah dihelatnya Piala Dunia.

Pada 2010, Klopp, saat itu bersama Borussia Dortmund, mulai harus membiasakan diri berpisah dengan beberapa pemain penting. Dortmund mengirim bek Serbia Neven Subotić, dan striker Paraguay Lucas Barrios ke Piala Dunia 2010. Keduanya memainkan total hampir 400 menit di Piala Dunia. Namun, peruntungan Klopp kali ini berbalik hampir 180 derajat. Hampir?

Meski harus kalah 2-0 dari Bayer Leverkusen di game pembuka liga musim 2010/2011, Klopp berhasil mengantar timnya memenangkan 14 dari 15 pertandingan berikutnya hingga akhirnya berhasil menjadi jawara Bundesliga di musim tersebut. Keberhasilan yang patut dirayakan sekaligus seperti memupus anggapan bahwa Klopp tak berjodoh dengan Piala Dunia. Namun, keberhasilan di liga tidak dibarengi dengan hasil di ajang lainnya. Dortmund terpental di babak kedua DFB-Pokal oleh tim divisi dua Kickers Offenbach, dan gagal mentas dari babak penyisihan grup Europa League, berakhir di urutan ketiga di belakang Paris Saint-Germain dan Sevilla. Inilah yang saya sebut sebagai hampir 180 derajat, karena masih saja ada frasa 'gagal' dalam curriculum vitae Kloppo pasca Piala Dunia.

Empat tahun berselang, setelah memandu Dortmund meraih dua gelar liga dan final Liga Champions, para pemain Klopp tiba-tiba menjadi komoditas panas di seluruh dunia. Kali ini Klopp mengirim 9 pemain untuk bermain dengan tim nasional mereka di Piala Dunia 2014, mengumpulkan total 1330 menit di antara mereka. Namun, ini bukan keseluruhan cerita, karena ada kutipan dari buku Raphael Honigstein yang luar biasa, Bring the Noise, menjelaskan:

Secara psikologis, para pemain Dortmund nampak kelelahan. Mats Hummels adalah yang utama, empat lainnya tidak bermain di Brazil tetapi mereka tepat di tengah-tengah hype yang besar. Secara halus, Piala Dunia tidak memainkan peran yang produktif. Hummels saat itu bahkan berkata "Saya kembali ke Dortmund dengan kondisi terluka dan tidak pernah benar-benar pulih dari penampilan buruk saya musim itu. Sebagai kapten, tugas saya adalah memimpin dengan memberi contoh, tetapi saya terlalu sibuk berusaha mengatasi masalah saya sendiri. Saya tidak bisa menjadi pemimpin dan berbicara dengan orang lain dari posisi yang seharusnya karena saya sendiri bermain sangat buruk."

Perjalanan Dortmund untuk musim 2014/15 pada akhirnya cukup banyak meninggalkan kesan yang dalam. Mereka mengalami 5 kekalahan dari 10 pertandingan pembuka, dengan hanya dua kemenangan dan hasil imbang di tiga lainnya. Mereka terjebak di zona degradasi selama lebih dari setengah musim. Beruntung, mereka berhasil pulih menjelang berakhirnya musim yang memungkinkan mereka untuk finish di peringkat ke-7 dan mendapatkan sedikit rasa hormat.

Di ajang cup perjalanan Dortmund sedikit lebih baik, meskipun tidak bisa dibanggakan juga. Die Borussien unggul selisih gol atas Arsenal dan mengklaim tempat teratas di babak grup Liga Champions, tetapi kalah di babak 16 besar oleh Juventus dengan agregat 5-1. Klopp memimpin timnya yang kelelahan itu ke final DFB-Pokal, tetapi gagal, kalah 3-1 dari Wolfsburg di pertandingan terakhirnya sebagai manajer tim.

Jadi bagaimana semua ini berhubungan dengan nasib Liverpool musim ini? Sayangnya, sejauh yang tampak dari cuplikan sejarah di atas, itu bukanlah berita bagus. Sebagai permulaan, di 2010 dan 2014, musim Bundesliga dimulai sekitar satu minggu lebih lambat dari Liga Premier tahun ini. Selain itu, Bundesliga memiliki istirahat pertengahan musim, yang membantu Klopp memperbaiki kondisi tim setelah awal yang buruk pada tahun 2014.

Meskipun jendela transfer masih terbuka, minimal 8 pemain Liverpool (Salah, Mane, Firmino, Shaqiri, Henderson, Alexander-Arnold , Lovren, dan Alisson) berpartisipasi di Piala Dunia. Dua lagi, Mignolet dan Grujic, berada di skuad, tetapi kemungkinan akan dikirim keluar sebelum jendela transfer ditutup. Di antara mereka, mereka menghabiskan waktu hampir dua kali lebih banyak dari waktu bermain para pemain Dortmund-nya Klopp di Piala Dunia 2014, yakni 2544 menit.

Kabar baiknya, adalah kenyataan bahwa kompetitor Liga Premier lainnya, terutama Manchester United, Manchester City dan Tottenham, terpukul dengan cara yang sama lebih keras daripada Liverpool.

Terlepas dari itu, tanpa menggali lebih dalam tentang statistik dan tetek bengek-nya, cukup dengan akal sehat kita akan tahu bahwa waktu pelatihan yang pendek merupakan kerugian besar. Untungnya, dua pemain tengah baru The Reds, Naby Keita dan Fabinho, tidak memiliki komitmen internasional untuk dikhawatirkan. Keduanya bisa jadi akan menjadi pemegang peran krusial Liverpool musim ini. Shaqiri dan Alisson tentu akan membutuhkan sedikit tambahan waktu untuk istirahat, dan seperti yang kita lihat dari orang-orang seperti Alex Oxlade-Chamberlain tahun lalu, keduanya bisa saja menjalani proses adaptasi yang lebih lambat daripada yang diinginkan. Kita tidak bisa berharap melihat Shaqiri melakukan bicycle kick setiap pekan bukan?

Berkaca pada sejarah, terutama pada musim pasca Piala Dunia 2010, Klopp harus memilih satu kompetisi utama yang diinginkan. Dortmund saat itu memulai kompetisi dengan cepat, meraih poin kemenangan demi kemenangan dan tidak pernah melihat ke belakang. Mereka mengambil keuntungan dari tim-tim kompetitor lain yang berurusan dengan efek mabuk Piala Dunia mereka sendiri. Dan pada saat mereka mulai terkejar menjelang paruh musim kedua, semuanya sudah terlambat. Titel juara Premier League seharusnya menjadi fokus utama. Klopp harus rela 'gagal' di kompetisi lainnya. Jika kondisi ini tak disadari oleh Klopp, Liverpool bisa kembali gagal mendapatkan apapun musim ini.

sumber : Liverpool Offside
Share This :