Kisah Bagaimana Para Pemain Brazil Dapat Menganggap Liga Inggris sebagai Rumah Kedua

Kisah Bagaimana Para Pemain Brazil Dapat Menganggap Liga Inggris sebagai Rumah Kedua

Setidaknya sekali dalam sebulan, Roberto Firmino beristirahat dari kerasnya kehidupan sehari-hari – bermain tenis meja di halaman belakangnya dan semacamnya – dan berkendara selama lebih dari 40 menit dari Liverpool ke Salford, sebuah distrik di Manchester untuk selalu mengunjungi sebuah toko kecil sederhana yang sama. Namanya Pasar Mais Brasil, dan tempat ini digambarkan sebagai surganya orang-orang Brazil di Inggris.

Mulai dari acai (buah dari Amazon yang seringnya disantap dalam keadaan beku, hampir mirip dengan es krim) sampai guarana (minuman Brazil bagi mereka yang tidak menyukai koktail), sangat mungkin bagi Firmino menemukan hampir semua yang dia inginkan yang berasal dari tanah kelahirannya.

Toko tersebut adalah buah pikiran Borman Litig, seorang berkebangsaan Brazil berusia 48 tahun yang 18 bulan lalu berhenti dari pekerjaannya di sebuah restoran steak lokal untuk mendirikan sebuah toko kecil, dimana ia sempat mati-matian memperjuangkan lima pelanggan tetapnya.

Ketika Firmino berkunjung, ia selalu berbelanja dalam jumlah banyak dan tidak pernah absen membeli picanha, potongan daging lembut nan lezat pada bagian bokong yang selalu ada pada barbekyu khas Brazil.

"Dia adalah salah satu pelanggan terbaik saya", ujar Litig pada Bleacher Report mengenai penyerang Liverpool tersebut.

Dan tidak hanya  mengenai penjualan secara langsung, Litig paham jika ia mendapat Firmino sebagai pelanggannya, ia pun mendapat publikasi besar dan pelanggan-pelanggan berharga lainnya. Sebagai contoh, rekan setim Firmino yang baru bergabung, Alisson. Liverpool menghabiskan 65 juta euro (sekitar 85 juta dollar) di musim panas ini untuk mendapatkan tanda tangan kiper tersebut, yang lahir dan dibesarkan di belahan selatan Brazil, tempat di mana memakan daging adalah sebuah agama. Alisson mempunyai reputasi sebagai ahli memanggang yang ia terus bawa ke Eropa.
 
Ia akan senang mengurusi churrascos (berbagai bahan makanan barbekyu) untuk sekumpulan pemain Brazil yang semakin bertambah jumlahnya di Merseyside, dari mantan gelandang Monaco, Fabinho yang juga bergabung dengan Liverpool hingga Richarlison yang baru saja pindah dari Watford ke klub sekota rival Liverpool FC, Everton.
  
“Saya sekarang sudah bisa move on sejak kepergian [Philippe] Coutinho [ke Barcelona],” canda Borman tentang prospek tokonya pada para pelanggan terkenalnya.

Pemain Manchester City, Fernandinho, adalah orang yang membantu mempromosikan tempat rahasia di Salford ini. Ia meminta kartu nama Litig, dan mendistribusikannya ke rekan-rekan timnasnya. Gabriel Jesus, yang tinggal di sekitarnya, sering terlihat berjalan kaki ke toko tersebut untuk membeli beras dan kacang-kacangan. Ia memiliki koki pribadi, Lena, yang dulunya bekerja pada mantan gelandang Manchester City, Fernando yang sekarang bermain di Galatasaray. Istri Ederson dan istri Danilo juga adalah pelanggan tetap.

Litig menggambarkan para pemain ini sebagai orang-orang yang sederhana, seperti keluarga besar. “Mereka tidak melupakan tanah asal mereka,” ujarnya. “Firmino mengundang saya ke acara ulang tahun anak perempuannya. Selain itu, sebelumnya saya mengalami serangan jantung dan Fernandinho datang dan menanyakan kabar, apakah semuanya baik-baik saja. Ia sangat peduli pada saya.”

Hidup di bagian utara Inggris dulunya tidak selalu menimbulkan rasa nyaman. Banyak yang telah berubah sejak pemain Manchester City yang memecahkan rekor nilai transfer, Robinho, berujar pada 2010: “Manchester adalah tempat yang sensasional untuk bermain sepakbola, namun tempat yang mengerikan untuk ditinggali. … Musim dinginnya, malam yang dingin dan gelap. Sangat sulit untuk seorang anak muda Brazil.”

Perkembangan serupa telah dibuat di London – pemain Chelsea David Luiz dan Willian bahkan telah membuka restoran Italia, Babbo, di Mayfair. Bintang Paris Saint-Germain, Neymar adalah salah satu yang telah berkunjung.

Selama beberapa dekade, klub-klub Inggris melewatkan bakat-bakat Brazil yang memutuskan bermain di Spanyol, Jerman, dan Italia. Inggris tidak dilirik sebagai tempat yang diinginkan para pemain tersebut. Namun, sekarang banyak hal telah berubah.

Musim ini, 22 pemain dari negara berbahasa Portugis tersebut akan bermain untuk klub-klub Liga Premier.
Dari kota kelahiran Firmino – Maceio, daerah pantai bagian timur laut Brazil – sampai tempat kelahiran Alisson – Novo Hamburgo – para pemain Brazil datang dari belahan bumi yang begitu jauh dengan aksen yang terdengar seperti bahasa lain.

Dan ketika mereka masih berusaha keras dengan bahasa mereka serta beradaptasi dengan suhu, masalah seputar kebiasaan lama seperti merindukan kacang-kacangan dan nari sudah tidak menjadi alasan. Para pemain Brazil telah menjadi salah satu kelompok terbesar internasional di Liga Premier – dan telah membentuk sebuah komunitas untuk membuat Inggris terasa seperti rumah mereka sendiri.


Gabriel Jesus berusia 19 tahun ketika ia pindah dari Palmeiras ke Manchester City dengan nilai transfer 27 juta Euro (sekitar 35 juta Dollar). Carlos Eduardo Santoro, pria yang meyakinkannya untuk menandatangani kontrak dengan Adidas, telah direkrut klubnya untuk memantau bakat-bakat dari Amerika Latin. “Pada saat itu, saya tidak tau apakah City membutuhkan seorang penyerang,” ujar Santoro pada sebuah media di Brazil. “Namun ia [Gabriel Jesus] sangat berbakat. Jika kami tidak mendapatkannya saat itu, ia tentu telah berada di Real Madrid atau PSG, dan kami tidak akan pernah mendapatkannya lagi.”

Sebelum kesepakatan dibuat, perwakilan Jesus menyatakan kepada City mengenai sebuah permintaan yang tidak dapat ditolak: Ia akan membawa beberapa teman bersamanya. Jika ia harus meninggalkan jalanan Jardim Peri, daerah tempat ia tumbuh di Sao Paulo, ia akan membutuhkan orang-orang yang mendukungnya ada bersamanya. Ketika ini berkenaan dengan para pesepakbola Amerika Selatan, persyaratan semacam ini sudah biasa terjadi, dan bagi Jesus hal-hal semacam ini sangat membantunya.

Beberapa musim lalu, kami punya Ramires, Oscar, dan beberapa nama luar biasa lainnya, tapi tak seorang pun terkesan dengan cara bermainnya [Jesus]. Dia seorang yang brilian,” ujar Emerson Thome, veteran Brazil yang telah memainkan lebih dari 150 pertandingan Liga Premier yang sekarang menjadi pemantau bakat internasional untuk klub West Ham United.

Rekan-rekan yang dibawa Jesus terdiri dari saudara laki-lakinya, Felipe Jesus, serta teman masa kecilnya Higor Braga dan Fabio Lucio. Ketiganya mendapat masalah ketika petugas imigrasi di Bandara Heathrow menolak mereka kembali masuk ke Inggris karena masalah visa pada bulan Januari, tetapi para pria itu telah menyelesaikannya dan akan kembali ke Manchester pada musim ini.

Kami tidak mengetahui bahwa kami tidak bisa menghabiskan setahun penuh di Inggris. Kami hanya bisa tinggal paling lama enam bulan,” jelas Lucio. “Ketika kami kembali ke Brazil [untuk merayakan tahun baru], kami kira kami bisa menghabiskan dua bulan di sana dan kembali [ke Inggris] tanpa masalah apapun. Teman-teman Jesus pun kemudian dibandingkan dengan rekan-rekan bawaan Neymar yang kontroversial, namun mereka akan diawasi oleh pengawas yang ketat musim ini – Ibu Jesus sendiri, Vera Lucia Diniz.

Dulu, Jesus merayakan gol-golnya dengan menelepon ibunya yang berada di Brazil, namun semua itu akan berubah karena ibunya akan pindah ke Manchester di musim ini. Dona Vera, begitulah Ibunda Jesus lebih dikenal, memperhatikan dan mengawasi keempat pria ini dengan sangat ketat. Mengunggah foto-foto pesta pada media sosial mereka benar-benar dilarang. “Saya telah meminta [Higor dan Fabio] bahwa jika merea ingin datang [ke Manchester], mereka harus menerima cara saya membesarkan anak-anak saya. Saya sangat cerewet [mengenai hal ini]. [Tetapi] mereka menuruti saya,” ujarnya kepada outlet Brazil O Globo.

Alih-alih menjadi pengisi tabloid, Jesus dikenal sebagai seseorang yang melakukan sesi samba dengan teman-temannya atau bemain Counter Strike: Global Offensive daring pada waktu senggangnya. Permainan ini sendiri ternyata sangat terkenal di kalangan pemain Brazil di seluruh Eropa, dan mereka membicarakannya melalui sebuah grup WhatsApp bernama “Meninos do Hexa” atau “laki-laki enam kali”, sebuah nama yang merujuk pada perburuan gelar Piala Dunia ke-6 kalinya oleh timnas Brazil. Tinggal di lingkungan yang membuatnya nyaman, Jesus telah menjaga privasi kehidupan pribadinya sendiri.

Pemain lainnya yang berasal dari bagian barat laut Brazil adalah Fred – yang dibeli pada masa transfer musim panas tahun ini oleh Manchester United dari klub Ukraina Shakhtar Donetsk diperantarai oleh mantan bintang Arsenal Gilberto Silva. Silva dan rekannya, Fabio Mello, menjalankan sebuah bisnis konsultasi sepakbola, dan saudara lelaki Fred, Filipe dos Santos, membawa mereka untuk mewujudkan kepindahan Fred ke Liga Premier.

Fred dan Silva sama-sama berasal dari Minas Gerais – koneksi dan pengetahuan Silva mengenai Inggris diharapkan membantu Fred menghindari berbagai masalah yang pernah dialami pemain-pemain asal Brazil sebelumnya di Old Trafford.

Mantan gelandang United, Anderson hampir tidak bisa berbahasa Inggris setelah menghabiskan delapan musim di klub tersebut. Si kembar Rafael dan Fabio diolok-olok di ruang ganti karena tinggal bersama istri-istri mereka, dua keluarga dalam satu rumah. Kleberson, sementara itu, pernah mengagetkan Sir Alex Ferguson dengan membawa ayah mertuanya sarapan bersama saat pramusim di luar negeri.

“Bagi seorang pesepakbola Brazil, London adalah kota yang jauh lebih baik dibandingkan dengan Manchester,” kata kiper Watford, Heurelho Gomes, yang telah melakukan perjalanannya di Inggris sejak 2008, kecuali pada saat masa peminjaman di klub Jerman Hoffenheim pada 2013. “Tapi tidak berarti bahwa Anda tidak dapat sukses di sana – khususnya apabila Anda datang dengan mentalitas yang tepat, dengan tidak berperilaku seolah Anda masih di Brazil dan menghormati setiap orang.”

“Budayanya sangat berbeda. Jika Anda tidak mengubah cara berpikir Anda, Anda akan sampai di sini dan segera langsung meminta pulang ke Brazil.”

Fred baru saja menikah, dan gaya hidup yang tepat di luar lapangan kelihatannya telah membantu para pemain Brazil di Manchester. Kecuali Jesus, seluruh pemain Brazil di Inggris telah menikah, dan mereka kebanyakan menghabiskan waktu luang bersama keluarga di daerah Cheshire, bagian luar kota Manchester. Globo Esporte bahkan menyebut Manchester sebagai “ibukota sepakbola yang membosankan bagi para pemain.”

Kiper Manchester City, Ederson pun tidak memiliki masalah. Ia tinggal bersama istrinya, Lais; anak perempuannya, Yasmin; ibu mertuanya; seorang mantan rekan setimnya di akademi Sao Paulo, Victor Severo, beberapa karyawan, dan sedang menunggu kelahiran anak keduanya. Ia tidak pernah sendiri, dan lebih menyukai keadaan seperti itu.

Pria 24 tahun ini memiliki kolam renang air panas dalam ruangan, ruang biliar, dan studio tattoo pribadi di kediamannya di Alderley Edge – ia bahkan tidak perlu ke luar rumah untuk menambah tattoo baru pada tubuhnya.

Pemenang dua trofi Liga Champions bersama Real Madrid yang bermain untuk Manchester City, Danilo juga berada di lingkungan yang sama dan dianggap sebagai orang Amerika Selatan paling dilindungi di City. Penyokong kelompok para pesepakbola Brazil lainnya, Fernandinho telah berada di Etihad Stadium selama lima musim dan selalu memimpin penyambutan setiap kali ada pesepakbola Brazil lain yang pindah ke Manchester.

Gelandang bertahan yang satu ini dikenal sebagai pria yang tidak banyak bicara, namun berhati besar. Ia 12 tahun lebih tua dari Gabriel Jesus, dan memperlakukan Jesus seperti anaknya sendiri. Kelompok pesepakbola Brazil ini berkumpul setidaknya sekali dalam sebulan di kediaman Fernandinho. Tempat ini juga diketahui sebagai tempat mengadakan permainan bowling di kota tersebut bagi para pemain asal Brazil.

Reaksi Richarlison atas undangan personal dari Neymar untuk menghadiri FIFA Awards di London akan memberikan gambaran mengenai pemain baru Everton ini. Beberapa minggu setelah keduanya pertama kali bertemu di Paris – Neymar mengajak pesebakbola 20 tahun ini pergi bersama ke acara FIFA di London Palladium. Richarlison berkesempatan bisa saling menepuk bahu dengan orang-orang seperti Cristiano Ronaldo, bintang film Catherine Zeta-Jones, dan band rock Inggris Kasabian. Namun, pemuda yang sederhana, rendah hati, dan introvert ini ternyata menolaknya.

Perwakilan Richarlison, Renato Velasco, tidak dapat memahami hal tersebut. “Ia sebenarnya khawatir bahwa ia akan terlambat pada latihan keesokan paginya,” ingat Velasco, sambil tertawa. “Tetapi ia seharusnya pergi. Kesempatan seperti itu tidak datang setiap hari.” Beberapa orang akan berkata bahwa Richarlison naïf. Ketika ia tiba di Watford dari Brazil, ia bertanya pada rekan setimnya apakah bahasa Portugis diajarkan di sekolah dasar di London (namun, tentu yang terjadi adalah yang sebaliknya di Brazil). Gomes, rekan setimnya langsung berinisiatif membantu teman senegaranya tersebut untuk beradaptasi.


"Ketika kami bertemu, saya mencoba untuk membantu dia sebanyak yang saya bisa," katanya. "Aku membawanya untuk membeli baju baru dan memberitahunya, 'Kamu tidak bisa memakai jaket bulu selamanya, kamu membutuhkan barang-barang lain.' Jika itu adalah acara resmi, Anda harus mengenakan tuxedo. Detil-detil kecil ini membuat perbedaan besar. "Tidak mudah beradaptasi dengan negara baru. Cuaca di sini sangat suram — sangat gelap — tapi Richarlison adalah anak yang hebat, memiliki [Velasco] 24 jam di sisinya benar-benar sangat membantu."

Velasco dan istrinya, Geovana, berbagi rumah dengan winger yang baru saja ditransfer ke Everton tersebut. Mereka memasak untuknya dan memberinya semua yang dia butuhkan — termasuk seorang penata rambut yang memotong rambutnya di rumah seperti yang dia sukai. Hebatnya, mereka sekarang akan pindah ke Merseyside bersamanya.

"Dia seperti seorang putra bagi kami. Kami akan mengikutinya kemanapun dia pergi," kata Renato. "Kami tidak punya masalah menetap di daerah London. Ketika saya merayakan ulang tahun saya, kami mengadakan pesta dengan lebih dari 30 orang, samba dan barbekyu di halaman belakang kami. "Rasanya seperti kami sedang ada di Brasil."

Mundur ke tahun 1995, Inggris tampak jauh berbeda untuk pemain Brazil. Ketika Juninho Paulista mendarat di jet pribadi dan diperkenalkan kepada para penggemar Middlesbrough dengan setelan yang tampak dua ukuran lebih besar, tidak ada wajah yang dikenal di sana untuk menawarkan bantuan. Dia hanya bisa mengandalkan penerjemah yang disediakan oleh klub, yang terbukti tidak layak untuk tugas itu. Saat itu merupakan masa-masa yang tidak menyenangkan.

"Ketika saya tiba, ada sekelompok keluarga Brazil yang menunggu di bandara bersama para penggemar lainnya," kenang Juninho. "Kami bertemu setelah konferensi pers, dan mereka bertanya padaku, 'Juninho, siapa penerjemah itu?' Saya menjelaskan, dan kemudian mereka memberi tahu saya, 'Dia tidak mengatakan sesuatu yang negatif, tetapi dia tidak menerjemahkan apa pun yang Anda katakan dengan benar.'

"Saya tiba-tiba menyadari dia tidak mengerti sepatah kata pun yang saya katakan. Dia adalah seorang pemuda Italia bernama Palladino yang telah menjadi bagian dari negosiasi. Suatu malam, saya berada di hotel dan mengatakan kepadanya, 'Palladino, quero comer feijao' (saya ingin memakan kacang-kacangan). Dia memesan, tetapi kemudian, ketika makan malam dikirim ke kamarku, itu adalah faisao (burung pegar), bukan feijao. Aku tidak bisa mempercayainya."

Kisah lainnya datang dari pemain Brazil pertama yang bermain untuk Chelsea, Thome, yang membuat 152 penampilan Premier League untuk empat tim yang berbeda. Bek tengah yang solid ini dibeli 2,7 juta pounds (sekitar 3,5 juta dolar) untuk pindah ke Stamford Bridge setelah bersinar selama bermain di Sheffield Wednesday pada tahun 1999.

Thome beruntung bisa berbicara bahasa Italia. Jika bukan karena Paolo Di Canio dan Benito Carbone, dia tidak akan bisa berbicara dengan siapa pun dengan klub Inggris tersebut. "Saya tidak mendapat dukungan dari klub," kata Thome. "Mereka tidak memberikan saya guru (untuk kelas bahasa Inggris). Saya belajar membaca koran. Saya tidak punya ponsel, program penerjemah, hal-hal semacam itu — hanya kamus. Saya akan membaca koran dan menggarisbawahi kata-kata yang tidak dapat saya ucapkan, lalu memeriksa maknanya dan mencoba untuk mencari tahu konteksnya. Aku harus bertahan dengan caraku sendiri.

Thome dan Juninho melakukan banyak hal dengan cara yang sulit, tanpa bantuan. Tetapi banyak hal benar-benar telah berubah bagi orang Brazil yang tiba di Liga Premier saat ini. Tentu, tidak banyak yang bisa mereka lakukan tentang cuaca, tetapi dalam setiap aspek lainnya, nuansa Brazil sudah tidak terasa jauh lagi. Mereka dapat membeli kacang, beras dan picanha di Pasar Mais Brazil, dan seorang rekan senegara yang selalu siap membantu setiap saat.

Komunitas pemain Brazil di Premier League kini terus tumbuh sepanjang waktu dan sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Ini berarti bahwa untuk generasi pemain Brazil berbakat masa kini, pindah ke Liga Premier dapat menjadi lebih dari sekedar langkah karir. It can become home.

sumber : Bleacher Report
Share This :