5 Rekrutan Anyar yang Bersinar Sejauh Ini di Premier League

5 Rekrutan Anyar yang Bersinar Sejauh Ini di Premier League
5 Rekrutan Anyar yang Bersinar Sejauh Ini di Premier League

Premier League memang baru 4 pekan berjalan, dan biasanya, belum akan menentukan apa-apa karena banyak hal masih mungkin terjadi di penghujung musim nanti. Namun, selalu ada yang menarik untuk dibahas. Kali ini, kami akan memberikan data dan fakta tentang 5 Rekrutan Anyar yang Bersinar Sejauh Ini di Premier League, yang mungkin sedikit luput dari pandangan para penggemar EPL.

1. Jean Michael Seri (Fulham)
Walau belakangan kita mulai terbiasa dengan berita-berita tentang kesanggupan tim-tim menengah bawah EPL membeli bintang-bintang kelas dunia, tetap saja kedatangan Seri ke Fulham termasuk mengejutkan. Selama pagelaran Piala Dunia 2018 hingga dibukanya jendela transfer, nama Seri erat dihubung-hubungkan dengan Barcelona. Namun konon, beberapa masalah finansial membuat Barca akhirnya enggan merampungkan transfer Seri. Dan EPL adalah alternatif yang baik untuk Seri, kendati nama-nama destinasi seperti Chelsea, Arsenal atau Liverpool, tampak lebih masuk akal ketimbang Fulham.

Well, semuanya sudah terjadi kini. Seri mendarat dan bermain di Craven Cottage, dan sudah menunjukkan kapasitasnya. Seri adalah tipikal gelandang yang sanggup berlari terus-menerus, mundur jauh ke belakang untuk merebut bola dan kemudian maju ke depan untuk memberikan umpan-umpan matang.

Seri mendapatkan rating tertinggi ketika timnya kalah beruntung dari Tottenham di pekan ke-2. Pemain asal Pantai Gading ini kemudian mencetak gol pertamanya ketika timnya meluluhlantakkan Burnley di pekan ke-3, dan membuat 1 assist penting saat menghadapi Brighton. Bagi para pemain FPL, Seri bisa jadi permata murah dengan kualitas mewah.

2. James Maddison (Leicester City)
Tidak sedikit fans yang mempertanyakan ketika Leicester memutuskan untuk menggelontorkan uang senilai 20 juta pounds hanya untuk pemuda umur jagung yang baru menyelesaikan 1 musim penuhnya bersama Norwich City di divisi Championship musim lalu. Meski Maddison termasuk sangat bersinar musim lalu, tetap saja harga itu termasuk terlalu mahal untuk pemain muda jebolan Championship. Namun, para peragu itu harus menarik kembali keraguannya. Maddison ternyata mampu beradaptasi dengan cepat dan menjadi pusat kreatifitas The Foxes dalam formasi 4-2-3-1.

Di laga pembuka melawan Manchester United, tampak jelas bahwa Maddison adalah pemain Leicester yang paling berbahaya. Tak selalu terpaku di tengah, Maddison dapat beroperasi di area lebar lapangan dan tetap memberikan tusukan-tusukan yang mengancam. Sayangnya, malam itu ia berada di kubu yang kalah.

Kebintangan Maddison tetap berpendar dan bahkan membukukan gol perdananya di pekan kedua melawan Wolves. Maddison kembali tampil apik ketika membawa timnya mengalahkan Soton di pekan ke-3, dan sangat tidak beruntung gagal mencetal gol ketika bola hasil tembakannya berhasil diblok Joe Gomez di pekan ke-4 melawan Liverpool.

Saat ini, Maddison adalah nama reguler di tim nasional Inggris U-21, dan rasanya hanya tinggal menunggu waktu saja ia akan dipanggil ke tim senior, mengingat Gareth Southgates sangat senang dengan youngster. Terlebih, Inggris saat ini sangat kekurangan pemain tipikal nomor 10, Maddison, bisa jadi akan menjadi tulang punggung paling penting Inggris di masa depan.

3. Richarlison (Everton)
Awalnya, cukup banyak yang mengernyitkan dahi ketika mengetahui Everton memutuskan untuk membeli Richarlison. Bagaimana tidak, penampilan Richarlison termasuk mengecewakan di separuh kedua musim kemarin. Tidak sedikit yang menganggapnya hanya bersinar sesaat dan sinar tersebut telah habis. Namun, keraguan banyak orang kini menjadi tak beralasan. Bagi pemain FPL, Richarlison tak pelak adalah a must have asset.

Richarlison langsung membuat brace di laga debutnya bersama The Toffees. Satu golnya saat itu bahkan disebut-sebut mirip gol khas milik Thierry Henry. Richarlison membuat 1 gol lagi di pekan ke-2, kali ini lewat tandukan menerima umpan crossing dari sisi kanan lapangan, sebuah skema gol simpel yang belakangan malah sulit dipraktekkan para penyerang-penyerang muda.

Bagaimanapun, satu kesalahannya di pekan ke-3 melawan Bournemouth pada akhirnya membuatnya terkena kartu merah dan harus absen selama 3 pekan. Namun, seharusnya hal ini tak lantas membuatnya jatuh seperti halnya musim lalu. Di jeda internasional, Richarlison dihadiahi pemanggilan ke tim nasional Brazil dan memakai nomor punggung keramat nomor 9. Kolaborasi apiknya bersama pelatih Marco Silva dapat membawa angin segar untuk Goodison Park.

4. Rui Patricio (Wolves)
Di Premier League, cukup sulit untuk dapat mengingat kapan sebuah tim promosi memiliki seorang penjaga gawang yang bagus. Anda mungkin harus mundur ke tahun 2001 ketika Fulham berhasil mengakuisisi nama Edwin van der Sar, sebagai perbandingan paling layak untuk kegemilangan yang ditunjukkan Rui Patricio di awal musim ini untuk Wolves.

Dalam laga melawan juara bertahan Manchester City yang berkesudahan 1-1, Patricio membuat 2 penyelamatan penting yang bisa saja disebut sebagai saves of the year. Salah satunya saat itu, Raheem Sterling membuat sebuah tembakan setengah voli jarak jauh yang meluncur deras ke pojok atas gawang. Patricio dengan insting yang jitu, menghalau bola dengan sisi tangannya yang lebih lemah, membelokkan bola sehingga hanya menerpa mistar.

Di pekan ke-4 atau pekan sebelum jeda internasional, Patricio sekali lagi menunjukkan performa yang luar biasa. Menghalau bola cip kreasi Andriy Yarmolenko, memotong pergerakan Michail Antonio hingga mengatasi ancaman Marko Arnautovic adalah beberapa dari aksi-aksi gemilangnya malam itu dan membuat West Ham harus frustasi untuk mendapatkan kemenangan pertamanya. Satu gol kemenangan Wolves yang dicetak oleh Adama Traore tidak akan dapat terjadi tanpa penampilan heroik Patricio. Wolves sendiri sebagai tim promosi tampil cukup bagus, namun semuanya tak akan mudah terwujud tanpa bantuan kiper bintang mereka.

5. Danny Ings (Southampton)
Selalu menjadi pekerjaan yang sulit untuk menghakimi level kemampuan seorang Danny Ings. Ings menjalani debutnya di Premier League sebagai pemain depan Burnley. Meski The Clarets dikenal sebagai tim yang defensive-minded, namun Ings saat itu berhasil mencetak 11 gol, penampilan yang diam-diam menarik minat Liverpool untuk meminangnya. Sayang, bersama The Reds nasib Ings berubah total. Ia hanya mendapat kesempatan 6 kali turun sebagai starter di sepanjang 3 musim bersama Liverpool dan lebih banyak berbaring di meja pesakitan.

Kabar baiknya, Liverpool masih mempercayai kemampuannya. Oleh sebab itu, musim ini ia dipinjamkan ke Southampton alih-alih langsung menjualnya. Kepindahan ini rupanya berbuah manis. Bermain untuk tim yang berlokasi lebih dekat dengan tempat kelahirannya, mampu membantu Ings untuk bersinar kembali. Sentuhan, pergerakan dengan ataupun tanpa bola Ings kini menjadi semakin tajam. Hasilnya, 2 gol sudah ia bukukan hanya dari 4 pekan awal.

Setelah mengalami cedera ligamen, seorang pemain sepakbola biasanya sudah tidak berada di level yang sama dengan sebelumnya. Ings rupanya adalah pengecualian, bahkan ia mengalaminya dua kali dan kini mampu pulih seperti sedia kala. Pertarungannya dengan Jordan Pickford menjadi salah satu saga yang paling menarik di awal musim ini. Sayang, meski mampu mencetak gol, Ings gagal menghindarkan timnya dari kekalahan melawan Everton.

Musim lalu, The Saints adalah salah satu tim yang begitu putus asa dengan kekuatan lini depannya, keputusasaan yang hampir saja menjatuhkan mereka ke jurang degradasi. Pencetak gol terbanyak mereka musim lalu, Charlie Austin, hanya membukukan 7 gol dan lebih banyak berkutat dengan cedera. Mendatangkan Ings, dengan segala masalah latar belakang kesehatannya sendiri, adalah risiko yang akhirnya diambil. Sejauh ini, risiko itu tampak terbayarkan.

sumber : ESPN
Share This :