Fasisme dan Sepakbola: Kematian dan Kebencian di Stadion Sepakbola

Fasisme dan Sepakbola: Kematian dan Kebencian di Stadion Sepakbola
Fasisme dan Sepakbola: Kematian dan Kebencian di Stadion Sepakbola

Masalah mulai terjadi bahkan beberapa jam bahkan sebelum para pemain Napoli dan Inter Milan berlari memasuki lapangan stadion San Siro. Pertandingan yang dihelat sehari setelah Hari Natal tersebut menjadi pertandingan krusial di Serie A menuju Coppa Campioni. Ratusan pendukung Napoli menyewa bus dan mengendarai minivan selama tujuh jam perjalanan dari Naples di bagian selatan Italia menuju Milan di utara negara tersebut.

Ketika sekumpulan fans garis keras Napoli tiba di area parkir yang berjarak sekitar satu mil dari stadion, sekelompok ultras Inter Milan sedang menunggu mereka dengan membawa palu dan benda-benda tajam.

Perkelahian kemudian terjadi dengan brutal. Empat pendukung Napoli menderita luka tusukan benda tajam yang dalam, dan seorang penggemar Inter Milan yang sudah dilarang masuk karena menyebabkan kericuhan pada pertandingan selanjutnya juga harus meninggal di rumah sakit setelah ditabrak sebuah mobil yang diduga dikendarai seorang pendukung Napoli yang melaju dengan kencang.

Semuanya memburuk, dan seharusnya tidak seorang pun terkejut. “Pertandingan yang indah” berubah menjadi buruk, mencerminkan perkembangan yang semakin gelap pada segmen masyarakat yang lebih luas di Italia, dan tentunya pada tubuh perpolitikan di Eropa.

Tobias Jones, penulis karya best-seller Dark Heart of Italy, telah menghabiskan beberapa tahun dalam hidupnya untuk berkelana dan mempelajari basis pendukung tim sepakbola yang ekstrim dalam buku selanjutnya yang berjudul Ultras. Jones mengatakan bahwa ada kelompok-kelompok yang memiliki poster Mussolini berukuran raksasa di markas besar mereka.

“Mereka adalah fans radikal yang sejatinya, apolitis dan hanya mendedikasikan diri pada warna tim mereka. Pertengahan 1990 menjadi momen ketika para ultras mengalami peningkatan inspirasi terhadap fasisme, memperkenalkan anti-Semitisme, swastika (tanda Nazi), dan terang-terangan bersikap rasis kepada tanah italia,” ujar Jones kepada The Daily Beast. “Sikap terang-terangan dan peningkatan rasisme tersebut merupakan refleksi masyarakat tempat mereka berasal, dan yang telah berulang memilih partai-partai politik neo-fasisme.”

Di dalam stadion tempat pertandingan Napoli-Inter Milan berlangsung, tensi pertandingan sedang tinggi ketika perkelahian menyebar di luar. Bintang Napoli Kalidou Koulibaly, pria Perancis berdarah Senegal berusia 27 tahun yang telah bermain bersama Napoli sejak 2014, sedang melakukan pemanasan ketika ribuan ppendukung Inter Milan mulai membuat suara-suara menyerupai monyet dari bangku penonton.

Koulibaly telah tumbuh dan terbiasa dengan umpatan rasis semacam itu, khususnya ketika bermain melawan tim yang berada di utara Italia tempat rasisme sepakbola telah menjadi tren selama beberapa tahun belakangan. Ia dan pemain berkulit gelap lainnya sering dicela dengan hinaan dan dilempari pisang oleh para ultras di antara keramaian, tampaknya bermaksud mengatakan bahwa seharusnya mereka berada di hutan. Ini adalah hal umum bagi banyak pemain asal Italia untuk terpaksa menyerah kepada para ultras yang meminta mereka menolak bersalaman dengan para pemain berkulit gelap baik sebelum maupun sesudah pertandingan berlangsung.

Namun pertandingan kali ini berbeda, entah mengapa lebih buruk daripada biasanya. Chant supporter lebih keras dan dibumbui dengan cercaan rasial menjijikkan, mencerminkan pandangan rasis para ultras yang jauh dari kata baik. Kali ini hinaan yang dilemparkan terasa lebih personal dan kejam, seperti menyuruh Koulibaly untuk “pulang ke Afrika” atau “pulang ke hutan.”

Tiga kali, penyiar memperingatkan para ultras menggunakan loudspeaker untuk berhenti mencerca pemain tersebut, namun tampaknya hal ini malah berefek menambah energi mereka. Para pendukung non-ultras mencoba untuk menghimbau agar para ultras berhenti, namun mereka kalah jumlah. Carlo Ancelotti, pelatih Napoli, meminta pertandingan diberhentikan sampai para ultras menjadi tenang. Permintaan tersebut ditolak, dan kemudian ia berkata bahwa di lain waktu – yang sudah jelas mereka akan punya lain waktu – ia akan membawa timnya pergi dan melakukan walk out. Lalu, pada menit ke-81, dapat dipahami bahwa akhirnya Koulibaly kehilangan ketenangannya dan secara sarkastik memberikan tepuk tangan kepada wasit setelah ia diputuskan melakukan pelanggaran. Wasit kemudian memberikannya kartu merah, dan ia tidak boleh bermain dalam dua pertandingan.
Setelah pertandingan berakhir dengan kemangan Inter 1-0, Federasi Sepakbola Italia memberikan sanksi kepada Inter Milan untuk memainkan dua pertandingan mereka selanjutnya di stadion kosong tanpa penonton, dan satu pertandingan lagi tanpa memperbolehkan satu pun fans Inter Milan datang ke stadion. Akan tetapi, banyak orang meyakini bahwa ada lebih banyak langkah yang harus ditempuh dan klub tersebut bertanggungjawab atas kelakuan beberapa penggemar mereka, tak peduli seberapa ekstrim atau seberapa penting mereka untuk basis fans mereka.

Ultras tidak sama dengan soccer hooligans, yang pada dasarnya hanya mencari atau menyebabkan keributan atau cekcok. Ultras muncul pada akhir 1960an, dan ketika mereka berevolusi dari ultras biasa ke ultras populis sayap kanan, mereka cenderung memusatkan kebencian mereka kepada orang-orang di lapangan alih-alih mendukung tim mereka. Perkelahian dengan pendukung Napoli di luar stadium menjadi aksi semacam perwakilan bagian ultras Inter yang dilarang datang ke pertandingan karena hukuman sebelumnya.

Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Dalam Negeri Italia berasal dari sayap kanan, Matteo Salvini, yang pernah berfoto bersama beberapa ultras, tidak terlihat memposting atau mengatakan apapun sebagai dukungan untuk Koulibaly setelah pertandingan pasca-Natal tersebut. Malahan, ia memposting kicauan dukungan untuk ultras yang menjadi korban terbunuh. “Di tahun 2018 anda seharusnya tidak meninggal di pertandingan sepakbola. Pada awal tahun mendatang, saya akan melakukan rapat dengan para pemimpin supporter klub-klub Serie A dan B sehingga stadion dan area sekitarnya kembali menjadi tempat yang menyenangkan, bukan tempat kekerasan.”

Jones mengatakan bahwa para ultras diberikan toleransi karena mereka telah menjelma menjadi kelompok yang kuat dalam mendukung banyak tim. Potensi kekerasan yang mereka sebabkan juga sangat kuat sampai menenangkan mereka telah menjadi permintaan masyarakat yang tidak mampu dipenuhi. “Para ultras menerima tiket gratis, dan ancaman gangguan publik selalu ada,” jelas Jones. “Sekarang, seluruh area teras utama stadion-stadion di Italia didominasi oleh kelompol-kelompok neo-fasis yang mencari celah kriminal, berulang kali terlibat dalam perdagangan narkoba dan kekerasan.”

Ultras mendukung hampir setiap tim sepakbola Italia dengan berbagai cara. Tahun lalu, Ultras tim asal Roma, Lazio, dicemooh karena membuat stiker dan kaos bergambar para anggota tim AS Roma di atas foto Anne Frank. Lazio didenda $60,000 dan mereka harus memainkan kutipan dari The Diary of Anne Frank serta memakai kaos dengan tulisan “no-anti Semitism” serta foto korban Holocaust muda pada pertandingan berikutnya.

Koulibaly tentunya paham bahwa ini tidak akan menjadi kali terakhir ia mengalami hinaan, karena para ultras sepertinya tidak akan mendapatkan larangan untuk datang pada pertandingan-pertandingan yang ia mainkan mendatang. Pada Oktober lalu, Juventus didenda $12,000 dan sebagian stadion mereka ditutup untuk mengatasi hinaan serupa yang datang kepadanya. “Saya kecewa karena kekalahan tersebut, namun lebih kecewa karena harus meninggalkan teman-teman saya di lapangan,” cuit Koulibaly dalam bahasa Italia setelah pertandingan, merujuk kepada larangan bermain pada dua pertandingannya. “Namun, aku bangga dengan warna kulitku. Bangga menjadi orang, Perancis, Senegal, dan Napoli: seorang pria.”

Meskipun begitu, liga terus berlanjut. Pelatih Napoli Carlo Ancelotti mengatakan ia percaya bahwa Koulibaly tidak seharusnya diberi larangan dua pertandingan mengingat suasana stadion saat itu. Namun, tim mereka pun tidak akan secara resmi mengajukan protes atau banding terhadap larangan bermain tersebut.

 “Ada atmosfer yang aneh. Koulibaly tentu sangat terluka,” ujar Ancelotti setelah pertandingan. “Biasanya, ia sangat tenang dan profesional, namun ia harus mendengarkan keributas suara monyet selama pertandingan. Kami bahkan telah tiga kali meminta agar ada langkah yang diambil, namun pertandingan tetap saja berjalan. Mungkin kami harus menangani hal-hal semacam ini sendiri lain kali dan berhenti bermain. Mereka mungkin akan membuat kami kalah jika kami pergi dari lapangan, tetapi kami siap melakukannya. Sangat tidak baik untuk sepakbola Italia, dengan melihat hal inj [rasisme] terjadi,” tutup Ancelotti.



*sumber: The Daily Beast
Share This :