Premier League itu Liga yang Bodoh dan Kejam

Premier League itu Liga yang Bodoh dan Kejam
English Premier League itu Liga yang Bodoh dan Kejam

Orang-orang Amerika yang bangga akan negaranya merasa kecewa dua musim lalu ketika Bob Bradley – pelatih yang diharapkan menjadi versi pelatih dari Christian Pulisic, icon kebanggaan asal Amerika, namun ternyata nasibnya justru lebih mirip Julian Green (pemain Negeri Paman Sam lainnya yang berkarir di Bundesliga namun tak secemerlang Pulisic) — tanpa upacara resmi digulingkan dari posisi kepelatihannya di Swansea City setelah hanya menjalani 11 pertandingan di masa jabatannya.

Crystal Palace berhak menerima ucapan terima kasih dari kami para jurnalis Amerika karena memecat pelatih yang lebih terkenal seperti Frank de Boer lebih cepat, setelah hanya menjalani empat pertandingannya di Premier League, yang waktu itu membangun standar yang baru namun bahkan lebih rendah, yang dapat diukur dari kegagalan total di masa singkat jabatannya.

Apabila Anda mengira bahwa hal itu adalah tolok ukur yang tidak masuk akal untuk menyerahkan nasib klub Anda pada manajer baru yang sangat dihormati - seseorang dengan gaya main berbeda yang bahkan dalam skenario terbaik pun akan memakan waktu lebih lama untuk beradaptasi serta menghabiskan lebih banyak uang untuk membeli pemain baru — hanya untuk kemudian disingkirkan setelah empat pertandingan saja pada musim ketika tim tidak siap memulai bekerja pada pola baru, maka bisa jadi Anda benar bahwa keputusan Palace memang terasa tidak masuk akal.

Palace memiliki daftar pemain yang cukup bagus, mereka yang dengan kepemimpinan yang tepat seharusnya paham bahwa mereka mampu menghindari degradasi dengan mudah. Namun, kekurangan Palace yang paling menonjol adalah mereka tidak memiliki tipe pemain yang dapat dijadikan titik sentral permainan yang dapat diandalkan oleh manajer, seperti yang terjadi ketika de Boer bermaksud menerapkan gaya permainan yang ia inginkan namun tanpa adanya pemain yang tepat yang dapat mengerti dan menyalurkan keinginannya di atas lapangan.

Ketidaksesuaian antara apa yang dimiliki Palace dan apa yang dibutuhkan de Boer, dan kurangnya pengertian yang melibatkan semua pihak yang tidak menerima pemutusan hubungan kerja tersebut, adalah alasan utama kondisi yang terjadi sekarang di Premier League, memiliki manajer yang bagus (seperti de Boer), namun ketika semua tidak berjalan seperti yang diinginkan, manajer harus siap-siap pergi meski banyak orang tahu ia belum sempat mengeluarkan kemampuan terbaiknya, bahkan belum sempat untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya.

De Boer, dalam kasus ini, bukanlah sosok yang relatif rentan dipecat seperti Bradley. Sebagai pemain, dia adalah seorang ikon. Mantan bek ini mencatatkan sebagian besar penampilannya untuk tim nasional Belanda, memenangkan lima gelar liga Belanda serta Liga Champions dengan Ajax, dan kemudian menjadi bintang lainnya untuk Barcelona selama beberapa tahun. Dia juga seorang manajer yang terbukti handal, dengan mengambil alih Ajax dan memimpin mereka mendapatkan empat gelar liga dalam enam musim di sana.

Kasus pemecatan de Boer bahkan terasa lebih aneh sekarang. Jika Anda merekrut seorang manajer seperti de Boer, Anda mungkin seharusnya memiliki para pemain yang mampu memainkan cara tim de Boer bermain. Apabila Anda tidak memiliki pemain seperti itu, maka Anda harus mengontrak beberapa pemain sesuai dengan permintaan tersebut. Jika Anda tidak ingin menghabiskan uang untuk belanja pemain seperti itu, maka Anda seharusnya tidak mengontrak de Boer terlebih dahulu.

Sayangnya, pemikiran seperti ini sudah terlalu umum di Premier League. Terlalu banyak klub berpikir bahwa cukup dengan mendatangkan manajer atau pemain dengan nama besar, tanpa memandang apa pun tentang bagaimana manajer atau pemain tersebut akan cocok atau tidak dengan tim, klub akan menunjukkan ambisinya dan dengan demikian akan (berharap) berhasil. Dan karena Premier League adalah lingkungan yang sangat ketat dengan margin setipis silet, klub-klub ini terpaksa mengambil jalan pintas sesegera mungkin dengan penambahan yang kurang baik ketika segala sesuatunya tidak berjalan dengan cepat, paling tidak jangan sampai mereka menunggu terlalu lama untuk bertindak dan mengambil resiko untuk berusaha kembali ke jalur yang benar. Hal ini menciptakan lingkungan yang mendorong perencanaan tanpa perkiraan yang baik dan upaya yang terlihat besar namun sudah diduga hanya memperburuk masalah. Itulah yang terjadi pada Bradley dan Swansea 2 tahun lalu, dan terjadi lagi dengan de Boer setahun sesudahnya, dan  pastinya masih akan terjadi lagi kepada seseorang atau yang lainnya dalam waktu yang tak terlalu lama.

Setelah memahami apa yang kita ketahui sekarang, Crystal Palace mungkin seharusnya tidak pernah merekrut de Boer. Setelah mereka melakukan penandatanganan kontrak bersama de Boer, mereka seharusnya mendukungnya lebih banyak di bursa transfer untuk memastikan dia berhasil. Karena gagal mendukungnya di bursa transfer, jika mereka pernah benar-benar mempercayai visinya, mereka mungkin seharusnya memberinya lebih banyak waktu untuk bekerja dengan para pemain yang dia miliki dengan harapan bahwa dia bisa menyesuaikan kekuatan skuadnya dan mengajari skuadnya untuk terus bermain lebih baik seperti apa yang ia ingin para pemain lalukan sesuai visinya. Untuk mempekerjakannya saat itu dan memecatnya dalam waktu sangat singkat mungkin bisa disebut sebagai serangkaian keputusan terburuk.

Akan tetapi, sulit rasanya untuk mengabaikan problem ini dan memikirkan bagaimana hal tersebut seharusnya dapat dicegah, dan bagaimana EPL membiarkan semakin banyak keputusan buruk seperti yang terjadi pada de Boer tetap terus terjadi tanpa ampun, membuat Premier League menjadi liga yang tampak bodoh dan kejam.

sumber : Deadspin
Share This :