Ralph Hasenhüttl : Si Juergen Klopp dari Pegunungan Alpen

Ralph Hasenhüttl : Si Juergen Klopp dari Pegunungan Alpen
Ralph Hasenhüttl : Si Juergen Klopp dari Pegunungan Alpen

Ralph Hasenhüttl resmi menjadi orang Austria pertama yang memimpin klub Liga Premier. Manajer baru Southampton ini memiliki sejarah kesuksesan dan kehausan yang kemudian ia contohkan dengan berkeliling ke dua camp pelatihan Soton menggunakan sepedanya.  Bagi Anda yang belum tahu, karir Hasenhuttl sebagai pesepakbola cukup sukses dengan memenangi tiga gelar berturut-turut Liga Austria bersama Austria Vienna untuk kemudian mendapatkan panggilan internasional.

Namun sayang, cedera yang mengganggu dan statusnya sebagai seorang poster boy (orang yang banyak tampil di poster karena sosoknya sebagai idola - boleh dibilang mirip David Beckham di Inggris), meski mencetak tiga gol dalam delapan penampilan untuk negaranya, memaksanya untuk tidak lolos seleksi untuk Piala Dunia 1990 dan 1998. Masalah cedera juga yang akhirnya meruntuhkan karir bermainnya di Jerman, tempat dia tinggal selama dua dekade hingga kepindahannya ke Southampton dikonfirmasi pada hari Rabu pekan lalu.

"Dia berbicara lebih seperti orang Jerman zaman sekarang daripada orang Austria," kata Andreas Heidenreich dari surat kabar Kurier. “Tetapi sangat baik bagi Austria untuk memiliki manajer Premier League pertama kami. Dia sangat populer di Austria, yang merupakan negara kecil di dunia sepakbola, jadi orang-orang sangat bangga melihat dia pindah ke Inggris. Dia sangat down-to-earth dan itu adalah gaya yang sama seperti ketika dia menjadi pemain.”

Setelah bermain untuk tim cadangan Bayern Munich di akhir karirnya, di tanah Jerman pula dia mendapat kesempatan pertama dalam melatih, yakni mengambil alih tim muda Unterhaching di liga kasta ketiga Jerman pada 2004 sebelum dipromosikan ke tim utama tiga tahun kemudian. Hasenhüttl dipecat pada tahun 2010 dan bergabung dengan VfR Aalen, di mana ia mulai mengembangkan gaya gegenpressing, yang sedikit banyak membuat orang mulai membandingkannya dengan Jürgen Klopp. Keduanya lahir di musim panas 1967 dan mereka melanjutkan kursus yang sama untuk mendapatkan lencana kepelatihan mereka. Namun ketika sang manajer Liverpool itu diberi kesempatan yang layak oleh Mainz, "The Alpine Klopp" alias Si Juergen Klopp dari Pegunungan Alpen ini harus melakukannya dengan cara yang lebih sulit.

Setelah bersusah payah bersama VfR Aalen di Divisi 2 Liga Jerman, ia pindah ke Ingolstadt pada Oktober 2013 dan mengubah tim yang terancam degradasi itu menjadi juara divisi 2 pada musim berikutnya alias mendapatkan jatah tiket promosi ke divisi utama. Hasenhuttl memutuskan untuk pergi dari Ingolstadt setelah musim Bundesliga yang sukses di mana klub kecil itu mampu finish di posisi 11, mengambil tantangan selanjutnya dengan membimbing orang kaya baru di RB Leipzig melewati musim perdana mereka di divisi teratas Jerman.

Di bawah asuhan Hasenhuttl, RB Leipzig memecahkan rekor undefeated (tak terkalahkan) terpanjang dalam statusnya sebagai tim promosi hingga akhirnya mereka mampu mengakhiri musim sebagai runner-up di bawah Bayern Munich. Tetapi waktu Hasenhüttl di Jerman timur tiba-tiba berhenti di musim panas ketika ia gagal mengulang trik kesuksesan yang sama, dengan direktur olahraga Ralf Rangnick, yang mulai banyak ikut campur dan mendesak untuk mendatangan pelatih muda berbakat, Julian Nagelsmann.

Hasenhüttl sendiri rupanya, ketika masih aktif sebagai pemain, pernah menghabiskan masa trial selama dua minggu di Chelsea di bawah pengawasan Glenn Hoddle pada pertengahan tahun '90-an, dimana hal tersebut membuatnya berkesan seakan-akan selalu ada saatnya bahwa Liga Primer bisa menjadi tujuan berikutnya. "Saya tidak benar-benar percaya bahwa saya dapat mendaftar di sana tetapi itu adalah inspirasi yang fantastis untuk karir saya yang dapat saya latih di sana selama dua minggu," katanya dalam sebuah wawancara pada 2015. "Bakat saya dalam bermain sepakbola bukanlah yang terbaik tetapi saya mau untuk bekerja keras, tertarik untuk belajar dan menjadi lebih baik, dan fokus ini membuat saya menjadi lebih baik dan lebih baik."

Hasenhüttl, seorang pemain piano yang berbakat, perlu menekan semua catatan yang tepat jika Southampton ingin pulih dari periode mengerikan yang hanya membawa satu kemenangan kandang di Liga Premier sejak November 2017. Jika ada orang yang bisa melakukannya, maka itu pastilah seorang manajer yang dikenal di Jerman dengan gaya selebrasinya yang enerjik ini.

“Dia mengharapkan pemain untuk bekerja sangat keras dan jelas tipikal pelatih yang sangat menuntut, tetapi Hasenhuttl adalah orang yang sangat positif yang dapat membawa atmosfer yang baik untuk timnya,” kata Heidenreich. "Setelah pertandingan, dia sering tidak bisa tidur dan mengatakan bahwa dia terkadang begadang semalaman untuk menonton replay."

Pertandingan perdana Hasenhuttl bersama Southampton berakhir tidak terlalu baik, kalah 1-0 dari tuan rumah Cardiff. Tetapi sejatinya hal itu adalah wajar. Tujuh manajer Soton sebelumnya juga tak satupun yang mampu memetik kemenangan di laga perdana. Yang terpenting adalah reaksi setelah kekalahan ini. Bisa jadi, akan ada banyak malam-malam tanpa tidur yang akan dilalui The Alpine Klopp.

sumber : The Guardian
Share This :