Transfer Heboh Christian Pulisic memperlihatkan Lubang menganga di Sepak Bola Amerika

Transfer Heboh Christian Pulisic memperlihatkan Lubang menganga di Sepak Bola Amerika
Transfer Heboh Christian Pulisic memperlihatkan Lubang menganga di Sepak Bola Amerika

Pemain AS paling mahal yang pernah ada ini akan terus menanggung harapan seluruh bangsanya, tetapi kepindahannya ke Chelsea memperlihatkan ada masalah dalam sepakbola Amerika

Christian Pulisic telah memecahkan rekor untuk transfer yang melibatkan warga Amerika. Kepindahannya yang berharga $73 juta dari Borussia Dortmund ke Chelsea jauh melebihi rekor sebelumnya yang dipegang oleh John Brooks ketika ia pindah dari Hertha Berlin ke VfL Wolfsburg untuk $22,4 juta pada 2017 dan itu juga menjadikan Pulisic pemain termahal ketiga yang berusia 20 tahun atau lebih muda, di belakang Kylian Mbappé dan mantan rekan setimnya di Dortmund, Ousmane Dembélé.

Selain Pulisic, sebenarnya ada beberapa bakat lain dari AS yang cukup mantap. Beberapa sudah sepakat untuk ditransfer ke Eropa menjelang tahun baru, seperti Tyler Adams dan Zack Steffen yang akan bergabung dengan RB Leipzig dan Manchester City. Lalu ada yang sudah ada di Eropa seperti duet Bundesliga Weston McKennie di Schalke dan striker Werder Bremen yang menjanjikan, Josh Sargent.

Sayangnya, optimisme yang berpusat di sekitar apa yang bisa diberikan oleh para pemain ini selaras dengan beberapa tahun yang buruk untuk federasi sepakbola Amerika itu sendiri. Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2018 adalah salah satu contoh yang memalukan dan menghancurkan. Proses selanjutnya untuk merekrut pelatih Gregg Berhalter memakan waktu hampir satu tahun dan terasa bombastis, tidak terorganisir dengan baik, dan hanya berfokus pada satu kandidat - itu jelas bukan langkah awal yang menyenangkan menuju era baru.

Hal ini akhirnya juga menjadi salah satu alasan mengapa ada begitu banyak tekanan pada Pulisic. Kepindahan ke Chelsea sejajar dengan tingginya harapan publik Amerika. Chelsea sendiri tengah dalam masa transisi. Baik Willian dan Pedro telah berusia 30-an, dan ada juga ketidakpastian seputar masa depan Eden Hazard di klub tersebut.

Seolah-olah belum cukup menyulitkan, Pulisic yang berusia 20 tahun juga dipandang sebagai poster boy untuk Sepakbola Amerika. Meskipun ada banyak pemain berbakat di Amerika, Pulisic-lah yang dianggap memiliki potensi paling besar. Sederhananya, dia adalah orang yang diharapkan menjadi pemimpin tim nasional AS di masa depan.

Sayangnya, situasinya sendiri juga berfungsi untuk menyoroti mengapa masih ada banyak kekurangan dalam sistem sepakbola AS. Keluarga Pulisic kemungkinan akan merayakan kepindahan putra mereka yang mengadu nasib ke Stamford Bridge, tetapi bagaimana dengan tim masa kecil Pulisic, PA Classics? Mereka seharusnya, secara teori, mendapatkan pembayaran uang solidaritas yang diperkirakan sekitar $547.000, jumlah yang sangat besar bagi youth club mana pun.

Menurut peraturan FIFA, ketika seorang pemain dijual ke luar negeri, ada setidaknya 5% dari biaya transfer disisihkan untuk didistribusikan ke klub-klub pemuda yang terlibat dalam pelatihannya, yang dewasa ini kita kenal dengan sebutan "pembayaran solidaritas". Jumlah pasti tergantung pada berapa banyak waktu yang dihabiskan pemain bersangkutan di youth teams tersebut antara ulang tahun ke-12 hingga ke-23nya.

PA Classics tidak mungkin menerima itu, karena faktanya, dan sekaligus konyolnya, Amerika tidak berpartisipasi dalam sistem pembayaran solidaritas FIFA. Pada saat penulisan artikel ini, sebuah youth team yang berbasis di Washington, Crossfire Premier, telah mengajukan petisi kepada FIFA dengan alasan bahwa klub berhak mengumpulkan pembayaran solidaritas atas keterlibatannya dalam pengembangan DeAndre Yedlin.

Hal ini dipandang oleh banyak orang sebagai momen penting dalam Sepak Bola AS. Jika FIFA mendukung Crossfire, mereka akan berhak atas sejumlah besar uang dari MLS setelah transfer Yedlin ke Tottenham Hotspur pada 2014.

"Kita bisa mendapatkan $20 juta atau bahkan $30 juta," klaim pengacara Crossfire, Lance Reich, kepada media Athletic pada bulan Oktober 2018. “Semua orang akan bangun dan berkata, “Ya Tuhan, bagaimana bisa begini? Ini jauh dari soal uang lagi. Kita ini klub FIFA atau bukan?”

Kasus serupa pernah melibatkan transfer Michael Bradley dan juga Clint Dempsey ke klub-klub Eropa. Beberapa orang berharap akan ada keputusan tepat waktu untuk jendela transfer Januari, yang sayangnya belum akan terwujud. Yang jelas adalah bahwa putusan apa pun akan memiliki konsekuensi besar pada Sepak Bola AS di masa depan.

Transfer Pulisic menunjukkan peningkatan dalam kualitas dan reputasi pemain Amerika. Namun, fakta bahwa klub mudanya tidak akan mendapat manfaat dari momen penting tersebut menyoroti lubang menganga dalam sistem AS yang harus cepat-cepat ditangani.

sumber : The Guardian
Share This :