The Making of Virgil van Dijk : Sang Bek Terbaik Dunia

The Making of Virgil van Dijk : Sang Bek Terbaik Dunia
The Making of Virgil van Dijk : Sang Bek Terbaik Dunia

Ketika Frank Brugel mengakhiri karir bermainnya yang sebagian besar tidak spektakuler - hanya bermain di klub-klub menengah seperti RBC Roosendaal dan Willem II - ia mungkin mengasumsikan peluangnya untuk memiliki pengaruh di Belanda sudah lama berlalu.

Fokus utamanya pada tahap itu kemudian adalah membawa putranya, Jordy, ke pertandingan di liga amatir Belanda bersama tim WDS'19 setiap Sabtu pagi. Namun di sanalah Brugel membuat penemuan yang pada akhirnya akan memberi sepak bola Belanda sebuah upgrade yang signifikan.

Jordy, seorang penjaga gawang seperti ayahnya, tidak kebobolan banyak gol. Bocah itu berbakat, tetapi begitu juga salah satu pemain bertahan yang bermain di depannya. Bek tengah itu menawarkan perlindungan yang tak terhitung bagi kipernya, dan bahkan melangkah maju untuk memberikan assist dan gol bagi tim. Dia tampak di mana-mana di atas lapangan.

Namanya? Virgil van Dijk.

Brugel saat itu masih bekerja di berbagai peran administratif untuk Willem II, dan dia dengan cepat menyadari bahwa bek muda ini bisa menjadi tambahan berharga bagi akademi mereka.

"Saat itu dia sudah memiliki tubuh atletis, berbeda dengan anak laki-laki lain di tim," katanya kepada FourFourTwo. “Dia memiliki sentuhan yang sangat bagus, terampil dan juga cepat. Dia adalah batu di belakang, tetapi juga bisa menjadi penentu pertandingan dengan golnya. Sungguh menyenangkan melihatnya.”

Scout talent Willem II sama-sama yakin, dan pada tahun 2001 mengundang Van Dijk yang berusia 10 tahun untuk dites. Klub ini memiliki akademi yang terkenal, dengan banyak pemain muda yang berhasil maju ke tim senior. Willem II bahkan sempat finish di posisi 2 Eredivisie pada musim 1998/99 dan tentunya lolos ke Liga Champions, memberi mereka daya tarik yang besar terutama ketika orang menyadari bahwa mereka bermain di kompetisi yang setiap tahun didominasi oleh Ajax, Feyenoord dan PSV Eindhoven.

Tak lama setelah kedatangan sang bek di Willem II, Jan van Loon diangkat sebagai direktur akademi klub. Van Loon, yang juga memiliki sentuhan ajaib sebagai kepala pengembangan pemain di akademi Arsenal, dengan jelas mengingat hari-hari awal Van Dijk di Willem II.

"Tidak ada striker yang memiliki peluang melawannya," katanya kepada FFT. “Dia kuat secara fisik dan memiliki bakat alami untuk mengambil bola dari lawan pada saat yang tepat. Dia jelas mengesankan dan sepertinya secara intuitif tahu bagaimana cara bertahan yang benar. Namun, masih ada banyak ruang untuk lebih berkembang lagi."

"Kadang-kadang dia bisa dianggap sedikit terlalu santai," kata Van Loon. "Kadang-kadang beberapa pelatih muda bahkan menganggapnya sebagai pemalas."

Van Loon memiliki wewenang untuk memastikan bahwa Van Dijk tetap di akademi, dan merasa sang bek belum layak mendapat kontrak profesional di usia 18 tahun. Klub menunda memberinya tawaran kesepakatan dan darah remaja Van Dijk mulai tidak sabar.

"Di dalam klub tidak ada suara bulat tentang dia, dan saya pikir Virgil bisa mengatakan orang-orang teknis mulai terpecah," akunya.

Keraguan ini memberi tim lain kesempatan untuk menerkam, dan ketika Groningen membuat langkah mereka sebelum Willem II mengambil keputusan akhir, Van Dijk memutuskan untuk berangkat ke padang rumput yang baru.

Transfer mengakibatkan dia pindah 160 mil dari rumah ibunya di Breda, dan selain menetap di lingkungan baru, dia juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan klub baru. Ini tidak selalu mudah: pelatih tim cadangan Groningen, Dick Lukkien, adalah seorang pemberi tugas yang sulit.

"Terkadang dia memberi terlalu banyak ruang pada lawannya," kata Lukkien tentang Van Dijk. "Seringkali dia memulihkannya dengan kecepatannya, tetapi kami memberitahunya, 'Jika kamu ingin mencapai puncak, kamu harus menyingkirkan itu.'

“Kami juga menunjukkan bahwa ia harus mampu menjadi penghubung dengan lini tengah, karena area antara bek dan midfielder itu seringkali menciptakan celah yang memberi ruang terlalu banyak pada oposisi ketika mereka memenangkan bola. Dalam poin itu, saya pikir dia berkembang secara mengesankan."

Ketika Van Dijk dan Lukkien menghabiskan lebih banyak waktu bersama di lapangan latihan, pasangan ini menjadi lebih dekat dan Van Dijk tumbuh sebagai pemain yang makin baik. Dia membuat debut untuk Groningen pada Mei 2011 - dalam kemenangan 4-2 di kandang ADO Den Haag - tetapi itu sebulan sebelum dia benar-benar mencatatkan nama untuk dirinya sendiri.

Tertinggal 5-1 pada leg pertama play-off kualifikasi Liga Europa melawan lawan yang sama, Groningen menempatkan Van Dijk sebagai penyerang tambahan dalam upaya putus asa untuk mencoba membuat comeback yang hampir mustahil. Ajaib, Van Dijk dengan segera berhasil mencetak dua gol, yang salah satunya adalah tendangan bebas langsung, dan mengantar timnya membukukan kemenangan 5-1. Sayang, mereka akhirnya kalah melalui babak adu penalti. Namun, siapapun yang menyaksikan pertandingan itu akan selalu ingat, bahwa A New Star is born!

Di Groningen, Lukkien juga mengenal Van Dijk di luar lapangan, dan merasa terkesan dengan sikap tegasnya. "Kami berbicara tentang masa depannya dan dia memiliki gagasan yang jelas tentang apa yang dia inginkan," kata Lukkien. Keterbukaan pikiran Van Dijk disorot dalam sebuah wawancara di mana ia mengakui ambisinya yang tinggi. Meskipun hanya melakukan debutnya di Groningen awal tahun itu, ia tidak menghindar untuk mengungkapkan bahwa pindah ke Barcelona adalah 'tujuan akhirnya' dan bahwa ia akan 'bekerja keras untuk itu'. "Saya memiliki kepercayaan diri dan saya tahu apa yang bisa saya lakukan," katanya, seraya menambahkan bagaimana ia menganggap Gerard Pique sebagai panutannya.

Virgil terus menarik perhatian selama 2011/12 - musim penuh pertamanya di tim senior - tetapi ketika musim itu hampir berakhir, ia menghadapi tantangan yang sama sekali berbeda ... dan yang jauh lebih sulit.

"Virgil jatuh sakit. Pada awalnya kami mengira dia menderita flu," kata Lukkien. “Dia di rumah selama beberapa hari dan sangat kesakitan. Dia pergi ke rumah sakit setempat tetapi mereka tidak dapat menemukan apa pun. Rasa sakitnya semakin parah dan ketika ibunya pergi menemuinya, dia menyadari betapa buruk situasinya.”

Di rumah sakit kedua itulah dokter menentukan bahwa Van Dijk menderita radang usus buntu, peritonitis dan infeksi ginjal, dan harus segera dioperasi. Operasi itu berjalan sukses tetapi dia belum benar-benar keluar dari cobaan.

"Saya masih ingat berbaring di ranjang itu," kenang VVD beberapa bulan kemudian. "Satu-satunya hal yang bisa kulihat adalah tabung yang menjuntai di sebelahku. Tubuhku terasa hancur dan aku tidak bisa melakukan apa-apa. Pada saat seperti itu, skenario terburuk terus muncul di kepala Anda. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, sepakbola adalah masalah sampingan. Hidup saya dalam bahaya. Ibuku dan aku berdoa kepada Tuhan dan mendiskusikan berbagai skenario yang mungkin terjadi. Pada titik tertentu saya harus menandatangani beberapa dokumen. Jika saya mati, sebagian dari uang saya akan diberikan kepada Ibu saya. Tentu saja, tidak ada yang mau membicarakannya, tetapi kami harus melakukannya. Itu bisa saja terjadi."

Pada akhirnya, Van Dijk selamat, tetapi tubuhnya menjadi lemah.

"Saya terkejut," kata Lukkien. “Ketika dia kembali ke klub dia telah berubah dari seorang pria besar menjadi orang yang keriput. Untungnya dia berhasil pulih dengan cukup cepat.”

Sejak berhasil melewati masa kritis itu, Van Dijk menjadi lebih kuat, di dalam dan di luar lapangan. Kemajuannya dipantau oleh klub-klub Eropa Timur, tetapi Van Dijk lebih suka mengikuti jalur yang lebih bertahap dan menganggap tim papan atas di Belanda sebagai langkah ideal berikutnya.

Namun minat yang kuat dari Ajax, Feyenoord atau PSV nyatanya tidak pernah muncul, mungkin karena sikapnya yang tampak acuh tak acuh atau gaya defensifnya yang gak Belanda banget. Persepsi yang sama kemungkinan menjelaskan mengapa Van Dijk jarang bermain untuk tim nasional junior Belanda.

Dan ketika Glasgow Celtic menelepon, itu tampak seperti alternatif yang baik. Raksasa Skotlandia itu tidak hanya akan memberinya kesempatan untuk bermain di Liga Champions, tetapi juga bertindak sebagai batu loncatan ke Liga Premier. Virgil langsung mengiyakan tawaran tersebut.

Kris Commons, yang bermain bersama Van Dijk selama 2 musim di Celtic, ingat pertama kali dia melihat bek tersebut berlatih. “Anda bisa melihat betapa bagusnya dia secara langsung - dia sangat nyaman dengan bola, fisik, secara teknis luar biasa, tendangan bebas dan spesialis bola panjang, dan pembacaan permainannya sangat mengesankan.

“Virgil membawa kami ke tingkat yang lebih tinggi. Dia memiliki segalanya. Dia bisa menerima bola di kaki kanannya, tetapi dengan mudah di sebelah kirinya, dan menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Semua orang di tim itu seperti, ‘Wow ...’

Commons mungkin telah mengalahkan Van Dijk sebagai pemain terbaik Celtic pada 2013/14, tetapi gelandang itu tidak terkejut melihat Van Dijk meninggalkan Celtic setelah hanya dua musim dan bergabung dengan tim Inggris, Southampton.

"Dia harus pindah, dan dia pergi dengan restu semua orang," katanya. "Saya benar-benar merasa Southampton hanyalah batu loncatan, dan sama sekali tidak berpikir semenit pun bahwa dia akan tinggal selamanya di sana."

"Sekarang mereka mengatakan dia bisa menjadi yang terbaik di dunia," tambah Commons, setelah menyaksikan VVD pindah ke Liverpool dengan nilai 75 juta poundsterling, tampil di final Liga Champions dan menjadi kapten negaranya.

Setelah dengan cepat mengubah Liverpool menjadi salah satu tim dengan pertahanan terkuat di Eropa, bisakah Virgil membuat langkah selanjutnya? Commons yakin bahwa itu mungkin.

"Saya pikir Real Madrid atau Barcelona bisa menjadi yang berikutnya," kata Commons dengan antusias. “Liverpool adalah klub besar, tetapi dalam hal mendapatkan pemain, Madrid dan Barca selalu ada di atas mereka. Hal yang sama terjadi dengan Luis Suarez. Jika Virgil mengikuti caranya, saya tidak bisa melihat mengapa Real, Barca atau Paris Saint-Germain tidak akan datang untuknya. "

Jika klub asal Camp Nou tersebut benar-benar melakukan pendekatan itu, Van Dijk akhirnya dapat mencapai impian pribadinya yang ia buat sejak tahun 2011, ketika ia hanya bermain beberapa pertandingan di Eredivisie.

Well, tidak buruk untuk seseorang yang dianggap terlalu santai. 😉

sumber : Four Four Two
Share This :