Apa yang Terjadi Pada Riyad Mahrez di Manchester City?

Apa yang Terjadi Pada Riyad Mahrez di Manchester City?
Apa yang Terjadi Pada Riyad Mahrez di Manchester City?

Saat ini Riyad Mahrez, pemain terbaik Premier League 2016, yang dibeli Manchester City dengan banderol 60 juta poundsterling, hanya menjadi penyerang pilihan ke-6 di Etihad Stadium. Apa yang terjadi padanya?

Jika ada yang bertanya-tanya tentang bagaimana kira-kira komposisi skuad Manchester City untuk musim 2020/21, Pep Guardiola menjawab dengan tegas: "Riyad Mahrez akan bersama kami musim depan dan yang berikutnya, dan yang berikutnya," katanya beberapa minggu lalu.

Namun masa depan pemain Aljazair itu terasa ragu untuk diceritakan. Saat Mahrez bersiap untuk melakukan reuni pada hari Senin saat timnya menjamu Leicester City, fakta yang kejam harus berbicara lagi. Mahrez kembali hanya duduk di bangku cadangan tanpa semenit pun diberi kesempatan berjumpa kawan-kawan lamanya di atas lapangan. Kisah dongengnya tentang dua kota nyatanya hanya membawa perbedaan yang mencolok. Di Leicester, dia menjadi orang Afrika pertama yang memenangkan penghargaan Pemain Terbaik PFA; katalis berkelas untuk kemenangan gelar EPL yang paling mustahil.

Di Manchester, ia hanya menjadi sosok pinggiran, sosok jelata yang kebetulan punya harga paling mahal, yang masuk ke dalam mega proyek £ 1 miliar ala Pep Guardiola tetapi pada akhirnya hanya menjadi substitut yang tidak digunakan. Mahrez hanya tiga kali tampil sebagai starter di sepanjang tahun 2019 ini. Bisa dibilang dia berada dalam posisi paradoks: satu-satunya rekrutan yang menjadi bagian dari tim yang akan memenangkan treble, namun sekaligus juga seorang pemain yang pengaruhnya sangat minim kalau tidak mau dibilang mengecewakan.

Banyak striker mungkin iri dengan catatan gol pemain sayap ini yang terjadi setiap 208 menit di Liga Premier musim ini; termasuk assist dan keterlibatan dalam gol setiap 139 menit sekali. Dia memiliki empat assist di Liga Champions, meski tiga diantaranya didapat dari lawan paling lemah di babak grup, Shakhtar Donetsk. Namun seiring berjalannya kompetisi, Mahrez, yang sebenarnya memulai cukup banyak pertandingan besar di paruh pertama musim ini, kini hanya menjadi penyerang pilihan ke-6.

Kiprah Mahrez musim ini mungkin hanya akan diingat orang melalui 2 kejadian. Yang pertama adalah tendangan pinalti melambungnya saat menghadapi Liverpool di Anfield, yang sempat ramai dibicarakan setelah Gabriel Jesus terlihat merengek untuk melakukan pinalti tersebut. Dan yang kedua adalah tanpa diduga dia masuk line up kejutan saat menghadapi Tottenham Hotspur di Liga Champions; tetapi seperti yang kita tahu bersama, Mahrez gagal mendapatkan impact apa-apa yang berujung pada tersingkirnya City dari kancah paling bergengsi di daratan Eropa tersebut.

Raheem Sterling adalah pemain sayap paling produktif City saat ini, tetapi lebih sering beroperasi di sisi kiri sejak kedatangan Mahrez. Saat melawat ke Anfield pada bulan Oktober, Guardiola menjelaskan kehadiran pemain Aljazair itu dengan mengatakan bahwa ia adalah yang terbaik dari pemain depannya yang manapun dalam hal menjaga bola. Namun ketika Bernardo Silva tersedia dan beroperasi di tiga baris depan, sekonyong-konyong tempat Mahrez menjadi milik pemain asal Portugis tersebut.

Jadi Mahrez jatuh di antara dua posisi: dia tidak secepat, atau sekuat Sterling dan Leroy Sané, dan di sisi lain juga tidak memiliki kemampuan sebagai gelandang tengah seperti Bernardo. Mungkin pengaruhnya di City sudah besar, tetapi tidak dapat dirasakan secara langsung. Mungkin kehadirannya telah mendorong Sterling dan Silva sedemikian rupa sehingga masing-masing mampu mengeluarkan kemampuan maksimalnya dan menikmati musim terbaik dalam karirnya.

Dari uang hasil penjualan Mahrez, Leicester mampu menginvestasikannya dengan cerdas untuk mengakuisisi James Maddison dan Ricardo Pereira. Kedua pemain tersebut kini terbukti menjadi bagian penting dari Leicester. City sendiri, sebelum kedatangan Mahrez, sejatinya sudah memiliki dua dari tiga pesepakbola terbaik tahun ini yang dapat beroperasi di sayap kanan. Jadi kehadiran Mahrez sebenarnya semakin menegaskan bahwa bukan langkah bijak mengejar pemain yang gagal didapatkan pada jendela transfer sebelumnya.

Untuk informasi Anda, City mengejar tiga pemain pada jendela transfer musim dingin pada Januari 2018. Satu target jangka panjang mereka adalah Aymeric Laporte, yang berhasil direkrut saat itu juga dan perannya kini termasuk luar biasa sebagai pemain yang hampir tidak pernah diganti selain kiper Ederson. Mahrez, gagal didapatkan saat itu, tetapi City kembali untuknya dan kini terbukti mengejar sesuatu yang awalnya gagal didapatkan adalah sia-sia belaka.

Dan siapa pemain ketiga yang dikejar City saat itu yang juga gagal didapat? Tak lain dan tak bukan adalah Fred yang sekarang berbaju Manchester United. Pada skala penampilan antara Fred ke Laporte, sayangnya Mahrez, saat ini, lebih dekat dengan pemain asal Brasil tersebut.

sumber : Four Four Two
Share This :
avatar

Sayang sekali memang, talenta Mahrez tersia-sia di City. Mungkin pindah ke klub papan tengah bisa jd solusi penyelamat karirnya.

Delete 18 May 2019 at 15:22
avatar
Steven O. person

seharusnya seperti itu ya, tapi talenta mahrez juga rasanya akan sia-sia kalau hanya main di tim papan tengah. mungkin pindah ke salah satu top 6 lainnya, mungkin ke spurs, adalah langkah yang tepat. :)

Delete 21 May 2019 at 10:26