Man City Juara EPL 2018/2019 : Pembuktian Cinta Pep Guardiola yang Keras

Man City Juara EPL 2018/2019 : Pembuktian Cinta Pep Guardiola yang Keras
Man City Juara EPL 2018/2019 : Pembuktian Cinta Pep Guardiola yang Keras

Tahun ini Pep Guardiola telah membuktikan sebuah titik poin yang berbeda, yakni tentang apakah Manchester City - atau tim modern lainnya pasca era Sir Alex Ferguson - dapat memenangkan Liga Premier dua kali berturut-turut.

Pertama kali Manchester City mencoba mempertahankan gelar Liga Premier, terjadi pada musim 2012-13, namun, mereka tidak pernah mampu mendekati Manchester United yang juara pada musim itu. Cityzens berada di posisi terbawah grup Liga Champions mereka, para pemain menyalakan manajer saat itu, Roberto Mancini, bosan dengan sifat keras kepalanya, dan dia dipecat setelah City kalah di final Piala FA melawan tim yang bahkan terdegradasi, Wigan Athletic. City menyelesaikan musim dengan Brian Kidd sebagai caretaker, dan berakhir tanpa trofi, dengan 78 poin.

Kali kedua Manchester City berusaha mempertahankan gelar Liga Premier, terjadi pada musim kompetisi 2014-15, dan mereka tidak pernah mampu mendekati Chelsea yang akhirnya juara. Mereka tidak berhasil survive di semua ajang berformat Piala yang diikuti musim itu, mereka tampak tua, lelah dan lambat, seperti tim yang sedang sangat membutuhkan energi segar dan besar. Mereka menyelesaikan musim dengan Manuel Pellegrini masih diberi kepercayaan untuk memimpin, tetapi berakhir tanpa trofi, dengan 79 poin.

Kegagalan-kegagalan (untuk mempertahankan gelar) ini kemudian tampak menjadi seperti sebuah tren. Manchester City dapat membeli pemain-pemain hebat, cukup baik untuk membawa mereka naik ke puncak, tetapi mereka tidak pernah bisa tinggal di sana. Karena Anda tidak bisa membeli rasa lapar, kelaparan harian yang mendorong tim-tim terhebat di era lain. Seperti halnya Sir Alex Ferguson bersama Manchester United, yang memenangkan 13 gelar Liga Premier dalam rentang 21 tahun. Enam kali mereka berhasil mempertahankan gelar. Dua kali - dari 1998 hingga 2001 dan 2006 hingga 2009 - mereka menang tiga kali berturut-turut. Ini adalah standar yang harus dicapai oleh City, dengan tanpa belas kasihan, tetapi yang belum pernah dapat mereka tunjukkan sebelumnya.

Ada beberapa teori yang mengatakan bahwa tim seperti City tidak akan pernah memiliki rasa lapar itu. Karena mereka hanya sejumlah individu yang dibeli mahal, bukannya dibangun di atas pangkalan kerja keras yang dikembangkan sendiri. Dan tidak ada tim seperti itu yang akan memiliki kesatuan dan mentalitas untuk terus menang dan menang dan menang.

Kembali pada tahun 2014, Slaven Bilic, manajer Besiktas, menjelaskan hal ini kepada The Independent. "Setiap tim yang mendominasi, di liga atau di Eropa, memiliki inti pemain tuan rumah," kata Bilic. Dia menunjuk ke Manchester United, membangun inti dari 'Kelas' 92 'dengan pemain-pemain seperti Eric Cantona, Peter Schmeichel, Roy Keane dan yang lainnya. “Sama dengan Barcelona. Sama dengan Milan. Mereka membangun inti, lalu menambahkan pemain-pemain ke inti tersebut, seperti Gullit, Van Basten, Rijkaard. Bagi saya, tim-tim seperti Man City atau Paris Saint-Germain, tampak tidak mirip seperti tim yang saya jelaskan di atas. Mereka dapat melnyelesaikan satu musim di mana mereka melakukannya dengan baik, kemudian mereka turun, dan jika beruntung, mereka akan dapat naik lagi."

Itu tentu menjadi kisah Manchester City di dekade ini: bagus satu tahun, buruk berikutnya. Itu menceritakan kisah Chelsea juga, setidaknya sejak gelar berturut-turut pada 2004-05 dan 2005-06, dalam era pertama Jose Mourinho di sana. Setiap gelar Liga Premier yang berhasil diraih telah menyebabkan penurunan besar tahun berikutnya. Musim 2009-10, musim kedua Carlo Ancelotti, terjadi penurunan 15 poin yang berujung pemecatan Ancelotti saat pergantian tahun. Musim 2014-15 menjadi kutukan selanjutnya untuk Mourinho, sebuah ledakan paling spektakuler oleh seorang juara dalam sejarah sepakbola. Mourinho dipecat pada bulan Desember dengan Chelsea berada di posisi 16. Mereka finish di peringkat 10 musim itu, dengan 37 poin lebih rendah dari tahun sebelumnya. Hal ini terjadi lagi saat Antonio Conte meraih gelar 2016-17, Chelsea jatuh di tahun berikutnya. Mereka finish di urutan kelima dan Conte pun dipecat.


Mungkin ini hanyalah cara permainan modern. Tidak ada yang mempertahankan gelar sejak United era Ferguson pada tahun 2009. Seolah-olah hanya dia yang bisa menginspirasi kekuatan mental yang diperlukan untuk menang dua kali berturut-turut. Seolah-olah ketika ia pensiun pada 2013, nilai-nilai lama itu juga ikut pensiun bersamanya. Dan sekarang tugas menjaga para pemain milenialis modern untuk terus termotivasi dari tahun ke tahun semakin terasa tidak mungkin. Kembali pada tahun 2015, Mourinho meragukan apakah tim Chelsea-nya bisa menjadi "juara serial" seperti sebelumnya, yang akhirnya hanya menjadi semacam doktrin pada seluruh generasi, bahwa tim yang bisa menang sekali tidak akan mendapatkannya lagi secara beruntun.

Dan akhirnya, tahun ini Pep Guardiola telah membuktikan semua itu salah. Musim lalu, gelar Liga Premier pertamanya, adalah tentang pembenaran intelektual yang komprehensif. Sebuah bukti ilmiah bahwa gaya sepakbola yang dipercayainya - rata-rata 71,9% ball possesion untuk musim itu - dapat bekerja di sepakbola Inggris. Bahkan kalau boleh jujur, sepakbola ala Guardiola bekerja lebih baik daripada gaya sepakbola lainnya yang pernah bekerja sebelumnya, dengan City memenangkan 32 pertandingan Liga Premier, mencetak 106 gol dan selesai dengan 100 poin. Centurion pertama dalam sejarah sepakbola papan atas Inggris.

Tahun ini Pep Guardiola telah membuktikan sebuah titik poin yang berbeda, yakni tentang apakah Manchester City - atau tim modern lainnya pasca era Sir Alex Ferguson - dapat memenangkan Liga Premier dua kali berturut-turut. Dia telah membuktikan sebuah poin tentang karakter. Tentang apakah skuad seperti ini, skuad yang lebih memilih untuk membeli pemain jadi daripada mengembangkan pemain akademinya, dapat terus berjuang bahkan setelah sampai ke puncak. Dan tentang apakah para pemain modern - dimana mentalitas mereka selalu dipertanyakan - bisa sama laparnya dengan generasi yang lebih tua.

Manchester City telah menyelesaikan musim ini dengan 98 poin, poin terbanyak kedua sepanjang sejarah EPL, hanya terpaut dua poin di belakang rekor yang mereka buat sendiri. Dengan 32 kemenangan, yang terbanyak, sama dengan rekor tahun lalu. Dengan 95 gol, 11 di belakang rekor 106 mereka. Segala sesuatu yang kami habiskan dalam 1 dekade terakhir untuk memikirkan ketidakteraturan liga ini, dan tak bisa diulangnya sebuah kinerja terbaik, kini akhirnya kekhawatiran itu telah tersingkir.

Jadi apa yang terjadi? Alasan pertama adalah bahwa City harus melakukannya, mereka melawan tim Liverpool jauh lebih baik daripada yang diperkirakan siapa pun, sebuah tim yang pantas diakui sebagai salah satu yang terbaik di era modern meskipun mereka berada di urutan kedua. Liverpool melampaui ekspektasi siapapun tahun ini, dan City berhasil mengejar mereka.

Jadi, bagaimana City bisa mengejar Liverpool yang sempat meninggalkan tim manapun saat tutup tahun 2018? Jawabannya bukanlah kualitas atau kedalaman tim atau hal-hal yang kami tahu City sudah memilikinya, yang juga sudah mereka miliki musim lalu, atau bahkan sebelum itu. Tetapi tentang mentalitas dan penerapan serta dorongan. Begitulah cara mereka berhasil mengulang prestasi mereka tahun lalu. Tidak santai saat karena mereka berada di atas, tidak menyerahkan gelar mereka ke tim Liverpool yang lebih baik dari yang diperkirakan siapa pun, tetapi mengejar gelar ini dengan putus asa seolah-olah itu adalah yang pertama kalinya bagi mereka.

Man City Juara EPL 2018/2019 : Pembuktian Cinta Pep Guardiola yang Keras

Pejabat senior di City mengatakan bahwa mereka tidak pernah melihat banyak fokus dan karakter dari pemain-pemain City di era modern seperti apa yang telah mereka lihat musim ini. Ini adalah kebalikan dari apa yang kami harapkan dari tim juara City. Dan itu adalah pembenaran intensitas harian dan tuntutan manajer obsesif mereka.

Ketika City memenangkan liga tahun lalu - dalam keadaan yang jauh lebih nyaman dari ini - Guardiola berjanji bahwa ia harus jauh lebih tegas pada para pemainnya musim ini. Untuk bertarung melawan masalah yang sama persis yaitu kepuasan dan relaksasi yang telah meruntuhkan pertahanan gelar City di masa lalu. Jadi Guardiola harus "lebih sulit, lebih keras" pada mereka untuk mengusir rasa puas diri itu. "Saya harus lebih kejam ke mereka dan mengendalikan lebih banyak pemain," janjinya. “Waktu mereka tiba di sesi latihan, apa yang harus mereka lakukan dengan bola dan tanpa bola. Jika mereka tidak melakukannya dengan baik, mereka akan dihukum. Hubungan kami tidak akan begitu ramah."

Jadi musim ini Guardiola lebih keras terhadap tim daripada sebelum-sebelumnya yang pernah ia lakukan. Penampilan sponsor yang dapat mengganggu konsentrasi pemain telah dibatasi dan lalu diambil alih oleh klub. Perilaku Guardiola sendiri dalam setiap pertemuan terasa lebih intens. Hal-hal ini akhirnya mampu meyakinkan para pemain bahwa mereka tidak boleh terpeleset, sekalipun.

Yang diinginkan Guardiola adalah "sebuah tim yang setiap hari bekerja seperti mesin". Dan itulah yang dia dapatkan. Melihat lebih dalam ke urusan statistik, di luar gol, menang dan poin, Anda akan melihat tim yang telah mengulangi 38 pertandingan tahun lalu dengan presisi yang tidak biasa. Akurasi passing City masih sama dengan tahun lalu, tetapi mereka berhasil menekan angka tembakan lawan yang mengarah ke gawang Ederson, sekaligus memainkan lebih banyak umpan ke kotak lawan.

Tetapi kisah dari judul ini bukanlah bahwa City itu baik, atau mengatakan bahwa mereka jauh lebih baik daripada tim Liga Premier lainnya. Kita semua tahu hal itu tahun lalu. Pertanyaannya adalah apakah City bisa melakukan ini dengan baik dua musim berturut-turut. Apakah mereka memiliki karakter dan sikap serta fokus untuk mengulangi kinerja mereka. Apakah generasi pemain ini, atau tim Manchester City mana pun, dapat menindaklanjuti kesuksesan alih-alih hanya bertumpu pada keberhasilan satu musim saja. Dengan 98 poin dan gelar kedua berturut-turut, Manchester City-nya Guardiola telah menjawab semua keraguan itu.

sumber : The Telegraph
Share This :