Perjudian Brighton Mengganti Pelatih Bisa Menjadi Langkah Cerdas

Perjudian Brighton Mengganti Pelatih Bisa Menjadi Langkah Cerdas

Keputusan Brighton and Hove Albion untuk mengganti manajer Chris Hughton, yang sebenarnya banyak berjasa mengangkat tim ini ke level yang cukup tinggi, dengan manajer Swansea City, Graham Potter, sepintas mungkin terlihat sebagai sebuah perjudian yang besar, tetapi jika digali lebih dalam, keputusan ini mungkin bisa menjadi salah satu perjanjian kontrak paling cerdas musim panas ini.

Ketika Chris Hughton bergabung dengan Brighton, mereka berada di posisi 21 Champhionship Division. Hughton membawa mereka ke Premier League, dan sukses membuat mereka tetap berada di sana selama dua musim meskipun menjadi salah satu klub di liga teratas Inggris yang memiliki anggaran paling kecil.

Meskipun Hughton mungkin hanya memainkan peran kecil dalam perjalanan keseluruhan klub, bagaimanapun juga dia adalah manajer yang berhasil membawa mereka ke papan atas untuk pertama kalinya dalam 34 tahun.

Pemecatan Chris Hughton bagi banyak orang luar tampak seperti klub telah mendapatkan ide yang tidak wajar, dan tak diragukan lagi bahwa Hughton tidak akan mendapat kesulitan besar untuk menemukan pekerjaan lain di musim panas ini. Akan tetapi, Brighton berada di posisi yang tidak menguntungkan, dan hanya penjudi yang sangat berani yang akan bertaruh pada sepak bola negatif khas Hughton yang membuat mereka keluar dari zona degradasi musim depan.

Meskipun Brighton tetap bertahan di liga tahun ini, sedikit sekali aksi-aksi dari para pemain mereka yang bisa menghibur para fans di Amex Stadium - Brighton hanya mencetak 16 gol dari open play sepanjang musim dan menjadi tim paling banyak diuji pertahanannya oleh para lawan The Seagulls. Hughton juga gagal mendapatkan hasil maksimal dari kontrak yang menghabiskan dana cukup besar seperti Alireza Jahanbakhsh, jadi tidak banyak yang menyarankan bahwa mendukungnya di bursa transfer akan serta merta meningkatkan kinerja Hughton.

Brighton akhirnya memilih untuk membuat keputusan lebih awal, memberi pelatih baru lebih banyak waktu untuk membentuk timnya, daripada menunggu sampai kekalahan berulang di awal musim lalu dengan panik mempekerjakan pelatih 'spesialis bertahan hidup' yang sama.

Mereka juga memilih gaya bermain sepakbola yang berbeda. Para fans mungkin tidak akan lagi mengeluh dengan sepakbola negatif, khususnya ketika tim memberikan hasil berupa ‘hanya sekadar untuk bertahan’. Leeds United gagal promosi dari Championship musim lalu, namun Leeds United Supporters Club menulis sebuah surat terbuka untuk Marcelo Bielsa yang memohon agar ia bertahan di Ellan Road, menandakan bahwa fans masih lebih dapat memaklumi gaya bermain menyerang meski gagal lolos. Hal yang kontras terjadi di Middlesbrough, yang sama-sama gagal promosi juga. Saat Tony Pulis, yang memainkan gaya sepakbola negatif, dipecat, fans The Boro merayakannya di jagad sosial media dengan meme-meme mengangkat sampanye tanda bahwa mereka lelah dengan gaya bermain 'sekadar bertahan' dan setuju dengan pemecatan tersebut.

Banyak fans Premier League mungkin menanyakan siapa itu Graham Potter, dan mengapa Brighton menunjuk seorang manajer yang hanya bisa mencapai posisi tengah klasemen bersama Swansea musim lalu. Setahun sebelumnya, para fans Swansea mungkin telah mengatakan hal yang sama ketika klub merekrut seorang manajer dari kota kecil di utara Swedia.

Pada musim 2017/2018, ketika Swansea terdegradasi dari Liga Premier, situasi Swansea sangat mirip dengan Sunderland (yang mengalami degradasi ganda dan jatuh ke League One di musim selanjutnya), dengan para pemain top pergi dan para pemain berperforma kurang apik malah bertahan di klub, menghabiskan dana klub untuk membayar gaji mereka.

Swansea menerima lebih dari 50 juta dolar dari penjualan pemain, tetapi hanya menginvestasikan kembali sekitar delapan juta dolar untuk melakukan pembelian pemain. Dana ini dihabiskan terutama untuk pemain muda yang memiliki prospek yang menguntungkan ketika dijual di masa depan. Dua pemain termahal mereka, Bersant Celina dan Joel Asoro, hanya menjalani 90 penampilan liga di tim senior, dan masuk dalam daftar 22 pemain dengan menit bermain terbanyak, menandakan bahwa tim ini sangat hijau dan tak berpengalaman. Banyak yang memperkirakan Swansea akan mengalami double degradasi seperti Sunderland.

Namun ternyata hal itu tak terjadi. Di bawah kendali Graham Potter, Swansea justru bisa finish di posisi ke sepuluh Championship, yang boleh dibilang adalah sebuah pencapaian besar dengan kondisi-kondisi tersebut di atas. Graham Potter bahkan juga mampu mengembangkan pemain-pemain muda seperti Oliver McBurnie, yang mencetak 22 gol liga bersama Swansea, dan Daniel James, yang seperti kita tahu akhirnya dipinang Manchester United dan disebut-sebut sebagai salah satu pemain dengan masa depan cerah.

Tak hanya itu, Potter juga membawa kembali operan sepakbola berbasis penguasaan bola yakni “Swansea Way” yang sempat menghilang selama beberapa musim mereka berada di Premier League. Musim lalu, Swansea memuncaki data statistik divisi Championship dalam hal akurasi operan dan jumlah operan per pertandingan, dan memiliki penguasaan bola kedua tertinggi di liga.

Jadi, siapakah sebenarnya Graham Potter ini? Saat aktif sebagai seorang pemain, Potter adalah seorang bek dengan karir yang tidak pernah luar biasa. Ia sering berpindah-pindah klub dan bermain 8 kali untuk Southampton pada musim 1996/1997 adalah satu-satunya pengalamannya bermain di divisi elit. Yang unik, ketika menginjak usia 30 tahun dan memutuskan pensiun sebagai pemain sepakbola, Potter mendapatkan gelar master di bidang studi Leadership & Emotional Intelligence - sebuah gelar yang menunjukkan bahwa ia dapat menjadi pemimpin yang baik nan handal - sekaligus sebuah petunjuk yang menyebutkan bahwa keahlian ini bisa saja membawa seseorang mendobrak kekakuan ilmu dalam bidang manajerial.

Karir kepelatihan Potter dimulai pada 2010, ketika ia membesut tim yang saat itu nyaris tak dikenal, Ostersunds, di divisi 4 liga Swedia. Apa yang terjadi kemudian? Ternyata Potter dengan mantap mampu membawa Ostersunds melakukan 3 kali promosi dalam hanya 5 musim, dimana itu artinya Ostersunds berhasil berada di divisi utama Swedia untuk pertama kalinya dalam sejarah pendek klub tersebut. Amazing!

Ostersunds kemudian mampu mengarungi Allvenskan (Divisi Utama Liga Swedia) dengan kepala tegak. Di dua musim pertama, mereka mampu finish di posisi 8 dan 5. Puncaknya terjadi pada tahun 2017 dimana Potter mampu membawa tim kecil ini menjuarai Svenska Cupen, alias FA Cup-nya Swedia, dengan kondisi keuangan yang sangat terbatas.

Nama Ostersunds, dan tentunya Potter, semakin berkibar saat memasuki musim 2017/2018. Tim ini dibawa Potter mampu melangkah jauh di Europa League, langkah yang mungkin bahkan tak pernah diimpikan para pendukungnya sekalipun. Ostersunds mampu melewati hadangan tim-tim seperti Athletic Bilbao, Hertha Berlin hingga Galatasaray. Kiprah fantastis Ostersunds akhirnya terhenti di babak 32 besar setelah kalah agregat dari Arsenal meski sempat mengejutkan dengan meraih kemenangan 2-1 di Emirates Stadium.

Mantan penyerang legendaris Glasgow Celtic, Henrik Larsson, yang sempat berhadapan dengan Ostersunds-nya Potter saat ia bekerja di Helsingborg, memberikan pujiannya untuk Potter :

"Cara Potter mengubah arah pertandingan sungguh impresif. Saya ingat suatu kali ketika Helsingborg dan Ostersunds bertemu, mereka benar-benar bermain dengan cara yang berbeda di sepanjang pertandingan. Mereka memulai dengan 1 sistim, melakukan gaya yang berbeda setelah half time, dan kemudian menerapkan sistim ketiga menjelang akhir pertandingan. Luar biasa."

Singkatnya, Graham Potter telah berhasil menjadikan timnya bermain dengan atraktif, memenangkan pertandingan sepakbola dengan anggaran yang terbatas namun juga mengembangkan para pemain secara dramatis. Ia adalah manajer yang diimpikan para pemilik klub.

Seharusnya, ia juga akan cocok dengan Brighton. Kelemahan terbesar tim Swansea-nya musim lalu, adalah bola-bola udara dan set play, yang merupakan kekuatan terbesar Brighton selama ini. Dan jika ia mampu menambahkan kekuatan-kekuatan tersebut dengan mengembangkan seluruh pertandingan dan menolong mereka mencetak lebih banyak gol, maka klub seharusnya mampu mendapatkan hasil lebih baik musim depan. Potter, untungnya, juga bukan tipikal pelatih yang akan membebani klub dengan kinerja buruk namun meminta upah tinggi. Dia juga tidak akan mengasingkan para pemain yang mempertahankan Brighton di Liga Premier musim lalu. Ini jelas berita bagus. Bukan tidak mungkin, Brighton akan dibawanya menjadi kuda hitam Liga Inggris yang tidak hanya sekedar hidup untuk bertahan.

sumber : Forbes (dengan sedikit tambahan)
Share This :