Virgil van Dijk: Terbaik versi UEFA, Karier Sepakbola, dan Hampir Kehilangan Nyawa

Virgil van Dijk: Terbaik versi UEFA, Karier Sepakbola, dan Hampir Kehilangan Nyawa
Virgil van Dijk: Terbaik versi UEFA, Karier Sepakbola, dan Hampir Kehilangan Nyawa



     Sejak digelar pada musim 2010/2011, belum ada pemenang penghargaan UEFA Men Best Player yang berasal dari pos defender. Virgil van Dijk menjadi pria asal Belanda pertama yang mampu menghentikan dominasi penyerang dan gelandang yang mendapat tempat sebagai pemenang tahun ini. Di samping itu, ia adalah pemain EPL sekaligus pemain Liverpool pertama yang mampu memenangkan penghargaan ini. Penampilan apiknya sepanjang musim 2018/2019 mematahkan dominasi kedua nomine lainnya: Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

     Selain berkontribusi besar atas raihan trofi Champions League bersama Liverpool dengan mengalahkan Tottenham Hotspur di final, pria kelahiran 8 Juli 1991 ini juga mampu mencapai final UEFA Nations League bersama tim nasional Belanda. Dalam perhitungan poin UEFA Best Player, Virgil van Dijk (mengumpulkan 305 pion) bahkan unggul jauh di atas Lionel Messi (207 poin) dan Cristiano Ronaldo (74 poin) yang ada di posisi kedua dan ketiga. Atas penghargaan ini, van Dijk berujar, “Saya sangat bangga mendapatkan trofi ini. Saya berterima kasih untuk semua orang yang telah membantu saya. Saya harus berterima kasih kepada rekan-rekan setim saya. Tanpa mereka, saya tidak akan mencapai apa yang telah saya raih. Ini adalah jalan yang panjang dan merupakan bagian dari perjalanan saya.”

     Pemain 28 tahun yang juga mendapatkan penghargaan sebagai UEFA Defender of The Year ini memulai karier sepakbolanya bersama klub Groningen di Belanda ada 2011. Pada Juni 2013, ia pindah ke Celtic dengan biaya transfer sebesar £2.6 juta. Kemudian, pada September 2015 van Dijk menandatangani kontrak berdurasi 5 tahun bersama Southampton dengan biaya transfer sebesar £13 juta. Tiga tahun setelah itu, pindahnya van Dijk ke Anfield pada Januari 2018 cukup menghebohkan karena Liverpool harus menghabiskan £75 juta sebagai biaya transfer, menjadi bek termahal sepanjang sejarah Liverpool.

     Ketika masih bermain bersama FC Groningen dan berusia 20, tak banyak yang tahu bahwa Virgil van Dijk sakit dan bisa saja meninggal dunia saat itu. Pelatih cadangan Groningen saat itu, Dick Lukkien, dalam sebuah wawancara menjelaskan, “Virgil jatuh sakit setelah pertandingan Eredivisie melawan Excelsior tetapi para officials mengira dia hanya mengalami penyakit biasa. Virgil sakit, namun kami tak tahu sejauh mana. Awalnya kami mengira dia menderita flu. Dia beristirahat di rumah selama beberapa hari dan sangat kesakitan. Dia pergi ke rumah sakit setempat tetapi rumah sakit tersebut tidak dapat mendeteksi apapun, lalu mengirimnya kembali ke rumah.”

      “Rasa sakitnya semakin parah dan ketika ibunya datang menemuinya, ibunya menyadari betapa buruk situasinya. Dia membawa Virgil ke rumah sakit lain, yang ternyata kondisinya sudah sangat krusial. Virgil menderita radang usus buntu, peritonitis dan infeksi ginjal,” jelas Lukkien.

     Ketika itu, situasi van Dijk begitu parah sampai dia menulis surat wasiat sehingga ibunya akan diurus secara finansial jika ada hal yang terburuk terjadi. Van Dijk harus menjalani operasi penyelamatan nyawanya dan absen selama dua bulan terakhir di musim tersebut sehingga ia bisa menjalani masa pemulihan dengan cukup cepat.

     Pada suatu wawancara di 2012, Virgil van Dijk menanggapi penyakit yang menimpanya. “Saya masih ingat berbaring di ranjang itu. Satu-satunya hal yang bisa saya lihat adalah tabung-tabung menjuntai keluar dari tubuh saya. Tubuh saya serasa patah dan saya tidak bisa melakukan apa-apa. Pada saat seperti itu, skenario terburuk berputar-putar di kepala saya. Hidup saya terancam. Ibu saya dan saya berdoa bersama kepada Tuhan dan mendiskusikan berbagai skenario yang mungkin terjadi. Pada titik tertentu saya harus menandatangani beberapa dokumen. Itu semacam wasiat. Jika aku mati, sebagian dari uangku akan diberikan kepada ibuku. Tentu saja, tidak ada yang ingin membicarakannya, tetapi kami harus melakukan itu. Hidupku bisa saja sudah berakhir.

     Untungnya, akhirnya pemain berusia 28 tahun ini telah melewati semuanya dan berkembang begitu pesat hingga saat ini. Dia adalah kapten tim nasional Belanda, pemenang Champions League, dan sekarang menjadi penerima penghargaan UEFA Men Best Player 2018/2019.


*dikutip dari berbagai sumber
Share This :