Lanskap Sepakbola Eropa Mungkin Akan Berubah Untuk Selamanya

Lanskap Sepakbola Eropa Mungkin Akan Berubah Untuk Selamanya

Nikmatilah musim Premier League saat ini selagi masih bisa. Format yang sekarang mungkin tidak akan bertahan untuk waktu yang lama. Sistem sepakbola Eropa sebentar lagi akan berubah dan ketika hal itu terwujud, pertandingan EPL tak akan menjadi sama lagi.

Rencana untuk mengubah Champions League dipercepat UEFA. Perubahan tersebut akan menyebabkan efek berantai yang besar terhadap divisi domestik. Format yang sekarang akan diteruskan sampai 2024, tetapi badan tertinggi sepakbola Eropa itu akan mengeluarkan kerangka kerjanya tahun depan untuk mengizinkan perusahaan televisi melihat penawaran yang tersedia pada siklus berikutnya.

Konfigurasi baru ini akan memasukkan 32 tim dalam empat liga dengan masing-masing delapan klub. Jadi akan ada 4 grup dengan sistim kompetisi liga yang berisi 8 klub. Bagaimana mereka akan dipilih masih belum diputuskan. Mungkin dengan prestasi level Eropa atau penampilan domestik pada 2023-24 atau kombinasi keduanya. Sejauh ini masih masuk akal.

Masalahnya datang dari yang terjadi selanjutnya. Akan ada klub yang tersisih. Dua klub terbawah di setiap grup akan keluar. Mereka akan digantikan oleh semifinalis dari Europa League dan empat tim yang telah terdaftar sebagai klub yang telah menyelesaikan liga domestik di posisi atas klasemen mereka. Kenyataan ini mengejutkan. Jika sistem ini digunakan pada 2015-16 ketika Leicester City datang entah dari mana untuk memenangkan gelar, maka tim Claudio Ranieri tidak akan secara otomatis mendapatkan tempat di Liga Champions. Mereka harus bermain di turnamen pra-kualifikasi atau bermain di Liga Europa terlebih dahulu.

Manchester United berada di posisi kelima klasemen EPL ketika Leicester berada di puncak, tetapi jika mereka sudah berada di dalam daftar 32 tim Liga Champions dan berhasil finis di enam besar grup Liga Champions nanti, maka mereka akan mempertahankan tempat mereka. Ini sistim yang hampir sama yang sudah diterapkan pada UEFA Nations League. Masalahnya jika format ini benar dipakai, prestasi domestik akan menjadi kurang penting. Integritas klub-klub papan atas akan terancam.

The Big Six - United, Manchester City, Arsenal, Liverpool, Chelsea, dan Tottenham Hotspur - memiliki perasaan campur aduk tentang restrukturisasi tersebut, tetapi akhirnya memahami bahwa menjadi bagian dari format baru secara efektif akan memperketat tempat mereka di kompetisi paling bergengsi dan menguntungkan di sepakbola Eropa. Pada Rapat Umum Tahunan Liga Premier di bulan Juni, perwakilan klub-klub tersebut memberi kesan bahwa mereka tidak antusias pada perbincangan mengenai rencana masa depan. Pertemuan Asosiasi Klub Eropa (The European Clubs Association/ECA) diadakan pada hari yang sama dan delegasi The Big Six meninggalkan pertemuan Liga Premier tersebut lebih awal untuk terbang ke Malta untuk duduk bersama rekan-rekan perwakilan klub Eropa lainnya . Hanya lima yang sampai di Malta di pulau Mediterania - John W Henry naik jet pribadinya sendiri dan tidak pernah tiba di pertemuan ECA. Banyak perwakilan tim non-Inggris ternyata absen juga terhadap proposal baru, seperti absennya pemilik utama Liverpool tersebut.

The Big Six harus berhati-hati. Jika kriterianya adalah sejarah Eropa, United, Liverpool dan Chelsea, sebagai pemenang Liga Champions, dapat membuat argumen yang meyakinkan untuk dipilih di format baru tersebut. Arsenal, Spurs dan City tidak begitu bisa melakukan hal yang sama. Perubahan struktur bisa terjadi pada waktu yang tidak tepat bagi City juga. Mereka menghadapi sanksi dari Liga Champions karena melanggar financial fair play. Putusan UEFA kemungkinan masih akan diumumkan bulan depan dan klub milik pengusaha asal Abu Dhabi ini telah mendekati Pengadilan Arbitrase Olahraga mengenai kemungkinan naik banding. Ini akan menjadi pertarungan hukum yang berlarut-larut, tetapi UEFA dapat merusak kredibilitas City untuk dimasukkan dalam bagian aturan baru dengan larangan berkepanjangan.

Apakah fans menginginkan perubahan? Suara mereka belum terdengar dan mungkin tidak ada konsultasi nyata. Uang adalah inti dari rencana ini. Pemegang hak siar TV domestik seperti Sky dan BT Sport sering difitnah tetapi mereka setidaknya memahami nilai Liga Premier dan persaingan domestik yang meningkatkan sepakbola Inggris. Generasi penyiar berikutnya - UEFA dan klub-klub berharap akan memasukkan pihak-pihak seperti Netflix dan Amazon - lebih mungkin tertarik oleh prospek yang menyiarkan Liverpool vs Bayern Munich atau klub raksasa dari benua lain daripada juara-juara Eropa versus Norwich City pada Jumat malam. Mereka mengincar penonton global dan tidak punya waktu untuk masalah parokial yang kurang berkualitas bintang.

Dalam beberapa hal, Liga Premier telah membawa hal ini kepada diri mereka sendiri. Klub-klub papan atas di Inggris semakin kaya dengan menghasilkan semakin banyak uang. Hanya Barcelona, Real Madrid, Paris Saint-Germain, dan Bayern yang dapat mengimbangi klub-klub Liga Premier bahkan kelas menengah sekalipun. UEFA memelajari sistem baru mereka dan mengklaim akan menghidupkan tim seperti Ajax, Celtic dan Benfica, yang semuanya telah tertinggal secara finansial meskipun memiliki sejarah luar biasa. Liga Premier ditakuti di lintas Eropa dan klub-klub Inggris seharusnya tidak mengharapkan terlalu banyak simpati jika uang televisi beralih dan bergerak menuju kompetisi antar benua sebagai gantinya.

Skenario terburuk yang bisa saja terjadi adalah bahwa Liga Champions versi baru akan menyerap sejumlah besar pendapatan, dan empat wakil Inggris yang memiliki pesona terbesar akan kehilangan minat dalam permainan di liga domestik dan lebih berkonsentrasi pada kompetisi Eropa. Efek dominonya akan menyapu divisi utama dan bisa mengancam eksistensi sejumlah klub. Tim-tim Championship divisions yang menghabiskan uang terlalu banyak untuk mencapai tempat di Liga Premier dapat menemukan diri mereka di papan atas sambil melihat pertaruhan kekayaan yang terus bergerak di tempat lain. Jika sudah demikian, bisa jadi yang tersisa hanyalah tumpukan hutang.

Siapa yang akan melawan rencana format baru ini? Yang jelas (sepertinya) bukan The Big Six. Ketertarikan masing-masing (untuk memperkaya diri) mendominasi pemikiran klub-klub tersebut. 14 klub Liga Premier lainnya tampaknya tidak berdaya. Jika mereka mengandalkan rekan-rekan mereka yang kaya untuk membuat pendirian sendiri, mereka akan kecewa.

Perubahan sedang terjadi. Nikmatilah Liga Premier yang sekarang. Budaya sepakbola yang kita miliki hari ini mungkin memiliki banyak kekurangan, tetapi mungkin masih lebih baik daripada apa yang akan terjadi dalam lima tahun ke depan.

sumber : Independent
Share This :