Apa yang Salah dengan Tottenham Hotspur?

Apa yang Salah dengan Tottenham Hotspur?
Apa yang Salah dengan Tottenham Hotspur?

Tak hanya Manchester United, awan gelap juga sedang menaungi Tottenham Hotspur saat ini. Apakah klub sanggup melawan arus untuk segera memperbaikinya?

Awan gelap itu terlihat jelas. Moussa Sissoko berbalik dan menatap ke arah Mauricio Pochettino seakan pasrah tanpa semangat sesaat setelah remaja Aaron Connolly mencetak gol ketiga untuk tuan rumah Brighton. Kemudian Harry Kane hanya bisa memandang kosong ke tanah dengan tak percaya ketika dia gagal memanfaatkan peluang sederhana dari jarak delapan yard, jenis peluang yang biasanya dikonversi dengan mudah oleh Sang kapten Inggris.

Ini adalah tim yang sangat terkejut dengan kehancuran mereka sendiri musim ini mengingat betapa dekat mereka dengan kejayaan musim lalu. Pochettino mengatakan dia percaya bahwa bab lama telah ditutup setelah final Liga Champions di Madrid pada 1 Juni. Namun, rasanya kini pernyataan itu lebih mirip seperti sebuah era telah berakhir, entah itu untuk tim atau manajer, akan menjadi jelas selama beberapa minggu mendatang.

Kemitraan Toby Alderweireld dan Jan Vertonghen, yang pernah digembar-gemborkan sebagai salah satu yang terbaik di Eropa, telah menggambarkan akhir dari era itu dengan lebih baik dari apa pun. Duo pemain Belgia itu dulunya jelas apik, tenang dan selalu memegang kendali. Sekarang, keduanya berusia 30-an, mulai tampak lamban, berat dan tidak yakin bagaimana menghadapi tantangan yang mereka hadapi.

Duo Belgia ini jelas tidak sendirian dalam malaise di Tottenham, tetapi mereka menunjukkan bagaimana dasar dari tim yang diciptakan Pochettino kini hancur dan perlu dibangun kembali. Pochettino melihat ini beberapa waktu yang lalu dan mencoba merombak pertahanan dengan menambah kecepatan dan kekuatan pada diri Davinson Sanchez. Dengan cederanya Alderweireld, Pochettino mampu menerapkan rencananya itu di musim pertama Sanchez di klub dan Toby sendiri diharapkan meninggalkan klub setelah bermasalah dengan kontraknya.

Sayangnya, rencana tinggalah rencana. Performa Sanchez ternyata anjlok di musim keduanya. Meski Pochettino menyatakan telah menjadi penggemar berat bek asal Kolombia tersebut, jauh di dalam hatinya sendiri ia kehilangan keberanian dan keyakinan untuk tetap dengan rencana semula. Contoh seperti itu membawa Tottenham ke tempat mereka sekarang. Pochettino menyerukan bahwa perbaikan membutuhkan waktu, waktu dan waktu lagi. Namun setelah musim panas berganti musim panas selanjutnya, perbaikan itu belum terjadi juga.

Pochettino kembali diingatkan betapa pentingnya perbaikan itu pada hari Sabtu setelah dihancurkan Brighton, yang datang dalam minggu yang sama dari neraka penghinaan oleh Bayern Munchen di stadion baru, dan dia mencoba untuk memindahkan percakapan melewatinya dengan ekspresi pasrah di wajahnya.

"Itu bukan poin yang tepat untuk dibicarakan sekarang. Apa yang saya katakan di tahun lalu atau di pra-musim ada di sana, tidak ada gunanya untuk kembali," akunya. "Intinya adalah mencoba untuk menjadi positif. Satu-satunya cara Anda dapat melawan energi negatif adalah menjadi lebih positif daripada itu, untuk tetap bersama selama klub membiarkan Anda tetap bersama-sama."

Pochettino tahu bahwa 'pembangunan kembali yang menyakitkan' diperlukan dengan beberapa pemain utama memasuki masa akhir kontrak mereka dan menjelaskan bahwa bintang-bintang populer perlu pindah untuk menciptakan era baru di Tottenham. Setiap klub melewati siklus dan Pochettino merasa bahwa setelah pembangunan kompleks stadion £ 1,2 miliar, meningkatkan fasilitas mereka, bersama dengan tempat latihan £ 30 juta, ke tingkat teratas sepak bola dunia, Spurs perlu merespons dalam bentuk yang sama dengan skuad baru .


Musim panas tidak berjalan seperti yang dia harapkan karena dia kemudian mengakui bahwa dia dan chairman Daniel Levy memiliki pendapat berbeda tentang peristiwa yang terjadi dalam beberapa bulan setelah final Liga Champions itu. Pochettino menjelaskan bahwa sementara hubungan pribadi pasangan itu tidak pernah goyah, mereka membutuhkan beberapa pertemuan positif, dan berbagi makan malam bersama, setelah jendela transfer ditutup untuk memilah 'masalah komunikasi' di dalam klub.

Spurs berakhir dengan pengeluaran bersih sekitar £ 120 juta di musim panas, memecahkan rekor transfer mereka untuk membawa Tanguy Ndombele dari Lyon, mengontrak pemain remaja Ryan Sessegnon dari Fulham dan meminjam Giovani Lo Celso dari Real Betis dengan opsi untuk mengontrak pemain Argentina itu secara permanen.

Tottenham juga merekrut Jack Clarke yang berusia 18 tahun dari Leeds dengan bayaran 9 juta poundsterling, tetapi ia dipinjamkan kembali ke tim Championship setelah Pochettino memutuskan bahwa ia belum siap untuk menerobos masuk ke skuad utama. Spurs juga sebenarnya serius mengejar bintang Juventus, Paulo Dybala, tetapi masalah image right-nya terbukti terlalu sulit untuk diselesaikan.

Rencana merombak skuad Pochettino juga dihambat oleh para pemain lama yang tak kunjung pindah. Ada kejutan di dalam klub karena kurangnya minat dari klub lain untuk mendatangkan Alderweireld, padahal ada klausul dalam kontraknya yang memungkinkan dia untuk pergi hanya dengan £ 25 juta. Christian Eriksen mengumumkan niatnya untuk pindah ke tantangan baru, tetapi juga tidak ada yang membuat pendekatan serius untuk membawanya pergi dari Spurs. Mungkin, klub-klub itu lebih memilih menunggu karena pemain-pemain seperti Eriksen sudah akan dapat ditebus gratis pada musim panas mendatang.

Di atas lapangan, semangat dan performa Eriksen seakan menjadi gambaran nyata dari kenyataan bahwa mimpinya untuk pindah ke Real Madrid tidak dapat terjadi untuk musim ini. Assist dan golnya tiba-tiba saja telah mengering. Tottenham telah merencanakan langkah untuk mendatangkan gelandang kreatif Sporting Lisbon, Bruno Fernandes, sebagai pengganti Eriksen, tetapi pada akhirnya gagal terwujud karena Eriksen tidak bergerak pada tahap ini.

Pemain lain ingin meninggalkan klub juga tetapi gagal terwujud, meninggalkan Pochettino dengan serangkaian bintang yang ia harapkan untuk pindah tapi tidak terjadi. Bisa dibayangkan betapa tidak enaknya suasana semacam itu.

Dia dibiarkan mencoba memotivasi pemain yang tahu masa depan mereka berada di tempat lain. Filosofi Pochettino menuntut segalanya dari pasukannya dan jika para pemainnya tidak mau memberikan hal itu, maka semuanya jelas akan hancur. Kolektifitas tidak lagi dapat bersinar ketika individu-individu itu mencari jati diri mereka sendiri. Mengapa Anda mempertaruhkan tubuh Anda jika membahayakan langkah besar Anda? Itu sifat manusia.

Pelatih asal Argentina ini telah mencoba untuk mengubah sistem, mengubah lini tengah, demi mengubah dinamika dalam starting XI, meninggalkan nama-nama besar, lalu membawa mereka kembali. Ini merupakan perjuangan sejak awal pramusim untuk menemukan keseimbangan di tengah kekacauan. Bahkan tiga pemain baru telah relatif tidak berguna baginya, Sessegnon cedera sejak sebelum dia tiba, Lo Celso mengalami cedera pinggul yang serius saat bertugas internasional dan Ndombele memiliki masalah pada pahanya. Well, inilah Premier League.

Pertanyaannya sekarang, dengan serangkaian hasil dan statistik buruk belakangan ini, Apakah posisi Pochettino di Tottenham aman dari pemecatan? Masih agak sulit menebaknya. Yang jelas, Pochettino telah memiliki kredit tersendiri di mata Levy untuk empat kali finis di empat besar secara beruntun dan penampilan final Liga Champions yang bersejarah. Namun, pekerjaan tampak menjadi lebih sulit belakangan ini dan hasilnya terus berbunyi layaknya alarm ambulans yang meraung-raung, sehingga tekanan tumbuh di kedua sisi.

Dulu, teman-teman dan keluarga Pochettino pernah memintanya untuk meninggalkan pekerjaan pertamanya di Espanyol sebelum ia akhirnya berpisah, dalam kondisi kehabisan energi dan tersiksa oleh pertempurannya dengan keuangan klub yang sangat terbatas. Untuk Tottenham, jalan persimpangan itu tampak telah tiba.

Sejatinya, adalah keputusan yang langka dan membutuhkan kekuatan yang besar dalam sepak bola untuk mendukung manajer dan bukannya para pemain. Jika langkah ini yang diambil, maka klub harus siap melihat dirinya sendiri pincang hingga jendela transfer Januari tahun depan sebelum akhirnya membantu Pochettino membersihkan skuadnya yang basi dan menghembuskan kehidupan ke klub dengan beberapa penggantian.

Manajer jarang muncul sebagai pemenang dalam pertempuran di sepakbola - para pemain sering melarikan diri dan bersembunyi di balik bayang-bayangnya - tetapi dengan begitu banyak bintang tim utama yang out of contract atau ingin pergi, siapa pun yang datang berikutnya akan menghadapi masalah yang sama dalam membangun kembali skuad.

"Saya tidak khawatir (tentang kehilangan pekerjaan saya), yang membuat saya khawatir adalah hidup, bukan sepak bola," kata Pochettino kepada football.london setelah peluit akhir di Amex Stadium dibunyikan. "Sepak bola adalah permainan yang kadang-kadang Anda menangkan, terkadang Anda kalah. Masalahnya bagi kami adalah kebiasaan untuk menang, menang, menang dan itu adalah pujian bagi semua orang. Sekarang dalam dua pertandingan terakhir itu adalah situasi yang sulit untuk diterima.

"Apa yang membuatku takut adalah hidup, bukan sepak bola. Sepak bola adalah untuk menjadi kuat dan berani dalam mengambil keputusan dan menunjukkan wajahmu ketika segala sesuatu berjalan tidak baik. Itulah yang akan kita lakukan, hadapi hal-hal negatif dan coba bekerja keras untuk mengubah dinamika ini."

Pochettino telah menegaskan pandangan, keyakinan sekaligus harapannya, tetapi akankah Tottenham Hotspur cukup berani untuk mendukungnya di saat dia paling membutuhkan dukungan itu?

sumber : Football London
Share This :