Ketika Para Manajer Legendaris Mengalami Masa-Masa Sulit

Jika Anda melihat kesuksesan orang lain, bahkan untuk mereka yang amat sangat sukses, percayalah, dibalik semua gemerlap keberhasilan itu, selalu tersimpan kisah-kisah tak sukses alias kegagalan yang jumlahnya bisa jadi sangatlah banyak. Begitu pula dengan dunia manajerial di sepakbola. Berikut adalah beberapa kisah Para Manajer Legendaris yang Mengalami Masa-Masa Sulit mereka sendiri.


Ketika Fergie Dipecat
Selama empat tahun berada di St. Mirren, Alex Ferguson menghasilkan dua kali promosi, kalah di pengadilan industri, menjalankan sebuah pub, dan mengalami satu-satunya pemecatan sepanjang kariernya. Ternyata menjadi pelajaran tersendiri baginya: dalam hidup, Anda harus tahu kapan harus memilih bertanding.

Ferguson bertugas di St. Mirren sejak 1974 sampai 1978. Dia baru berusia 32 tahun ketika memulai tugasnya, dikejar-kejar setelah masa yang sangat singkat namun menggembirakan selama melatih East Stirlingshire. Kedua tim berada di divisi kedua Liga Skotlandia: St. Mirren sesungguhnya mempunyai posisi lebih tidak unggul di klasemen, dengan perjuangan selama empat tahun. "Love Street adalah tempat yang membuat putus asa pada masa-masa terbaiknya, tapi tempat itu sudah suram ketika saya tiba," ungkap Fergie kepada Glasgow Herald.

Konon, dia melakukan hampir semua hal di St Mirren, sampai memesan deterjen. Di musim pertamanya, skuad berjuang untuk memahami gaya permainan dan pendekatannya untuk mendisiplinkan tim, tetapi meskipun demikian, The Buddies 'dipromosikan'. Restrukturisasi liga yang terkait dengan pengenalan Premier Division yang baru berarti bahwa enam tim teratas semuanya naik dari Second Division ke First Division, meskipun mereka masih akan bermain di tingkat kedua.

Pada saat itu, Ferguson berusaha untuk meningkatkan penghasilannya dengan menjalankan pub serta klub. Rata-rata hari kerjanya adalah pergi ke Love Street, bekerja di bar menyajikan minuman di The Elbow Room di Glasgow, kembali ke St Mirren untuk pelatihan sore, lalu kembali ke bar sampai waktu habis.

The Saints memenangkan promosi ke liga papan atas pada tahun 1976-77, meraih gelar First Division, tetapi semua itu tidak terlihat sebagus apa yang ada di balik layar. Aberdeen mendekati Fergie, dan meskipun ia bertahan sampai 1978 untuk menghindari pelanggaran kontrak, kabar pendekatan tersebut sampai ke pemilik St Mirren.

Willie Todd, pemimpin The Buddies, kemudian menjelaskan: "Jim Rodger dari the Daily Mirror memberi tahu kami bahwa Alex telah meminta setidaknya satu anggota pasukan untuk ikut pindah ke Aberdeen bersamanya." Todd memecat Ferguson, yang kemudian menuntut balik Todd dengan gugatan pemecatan yang salah. Klub mencantumkan 15 contoh sebagai bukti ia telah melanggar kontraknya; ini termasuk membuat petugas (groundsman) untuk mengantarnya ke Final Piala Eropa 1978 di Wembley, di mana Liverpool mengalahkan Club Brugge (Ferguson bersikeras dia menanggung semua biaya, setidaknya). Juga dikatakan bahwa dia mengumpat ke sekretarisnya. Pada titik ini, Ferguson mengatakan dia telah memihak Todd dalam suatu perselisihan dan dia berkata kepadanya, "Jangan berani-beraninya kau melakukan itu padaku lagi."

St Mirren hanya mampu menghindari degradasi pada 1977-78, tetapi kegagalan Ferguson tidak ada hubungannya dengan bagaimana ia salah menilai situasi di luar lapangan. Ketika banding Fergie terhadap pemecatan yang salah kemudian sampai ke pengadilan industri, putusan tersebut menggambarkan Ferguson sebagai "orang yang tidak memiliki pengalaman ataupun bakat kemampuan manajerial sama sekali".
Dalam otobiografinya yang pertama, Managing My Life, Ferguson menulis, “Ketika pikiran saya tenang, saya benar-benar marah tetapi saya telah mendapat pelajaran bahwa sikap saya terhadap manajemen dapat membuat posisi saya menjadi sangat rentan. Bahkan jika Anda membenci pemimpin klub Anda, Anda hanya perlu menemukan cara untuk berdamai dengan hal tersebut. "

Ketika Wenger Terdegradasi

Ada filosofi yang sering diulang di Silicon Valley: tidak ada yang akan menganggap Anda serius kecuali Anda pernah mengalami kegagalan. Hanya melalui kemunduranlah Anda belajar bagaimana menjadi bos yang baik.
Karier Arsene Wenger sebagai manajer dimulai dengan sangat baik. Setelah menunjukkan performa menjanjikan sebagai pelatih tim muda di Strasbourg dan kemudian sebagai asisten bersama Cannes, Wenger pindah ke divisi utama pada tahun 1984 untuk mengambil alih Nancy ketika berusia 34 tahun, mengikuti rekomendasi dari ayah Michel Platini, Aldo.

Dalam pertandingan sekaligus tanggung jawab pertamanya, Wenger membawa para pemainnya ke Parc des Princes. Mereka mengalahkan PSG 4-2. Juga selama debut musim pertamanya pada musim 1984-85, Nancy memenangkan dua pertandingan atas Marseille dan, ketika PSG melakukan perjalanan ke Stade Marcel Picot untuk pertandingan terakhir musim tersebut, tim Wenger mempermalukan mereka dengan skor 6-1. Andai saja ada lebih banyak orang yang melihatnya - hanya 4000 penggemar yang hadir saat itu.

Pencapaian musim itu cukup untuk mengamankan mereka di posisi ke-11 di Ligue 1 - sebuah pencapaian yang melampaui ekspektasi, mengingat Nancy tidak memiliki anggaran besar, sering menjual pemain terbaik mereka. Di sebuah acara olahraga Prancis, Le Club Du Dimanche, Wenger mengenang: “Masa-masa itu tidak mudah. Setiap tahun, kami berjuang melawan degradasi. Semua pemain bagus pergi.” Wenger kehilangan pencetak gol terbanyaknya, Robert Jacques, ke PSG musim panas saat itu; tak terhindarkan, ketika kedua klub berikutnya bertemu, mantan bintang Nancy itu mencetak gol untuk mengakhiri kemenangan beruntun Nancy di awal musim. Sungguh sedikit sekali dana yang bisa dipakai untuk terus meningkatkan fasilitas. Karena Wenger tidak memiliki uang untuk cukup berbelanja di bursa transfer, ia ingin fokus pada peningkatan pemain muda.

Di musim keduanya, Nancy finis di urutan ke-18 dan menghindari degradasi hanya dengan mengalahkan Mulhouse dengan agregat 3-2 dalam dua leg play-off.

Namun, musim kedua tersebut hanyalah menunda hal yang tak terhindarkan. Semakin banyak pemain yang dijual, berita segera terbit di musim 1986-87 ketika Les Chardons kalah 4-0 di kandang sendiri dari Brest. Mereka hanya mencetak 28 gol dalam 38 pertandingan dan terdegadrasi.

Musim itu menjadi musim terakhir Wenger di Nancy. Dia tentu tidak ingin waktunya di sana berakhir dengan degradasi ke divisi kedua, tetapi potensinya sebagai pelatih menarik minat dari tempat lain. AS Monaco telah memantaunya selama beberapa waktu, tetapi Nancy awalnya menolak untuk melepaskan Wenger dari kontraknya.

Pada akhirnya, Wenger memiliki pilihan antara Monaco dan PSG. Dia memilih Les Monegasques karena pemilik klub menilai dia dengan sangat tinggi. Itu adalah keputusan yang mengubah hidupnya. Dalam setahun, Wenger mampu memenangkan gelar Liga Prancis, membuatnya masuk ke dunia besar sepakbola Eropa. Di antara mereka yang teliti memperhatikan adalah vice-chairman Arsenal, David Dein. Arsene Wenger telah mengalami kegagalan, tetapi orang-orang saat itu mulai memperhatikannya dengan sangat serius.

Kegelisahan Hari Pertama Pep Guardiola

Guardiola dan Sir Alf Ramsey harus melupakan debut manajerial mereka. Tidak semua pelatih bisa seperti legenda Spurs, Bill Nicholson, yang mengalahkan 10-4 Everton pada pertandingan pertamanya. Alf Ramsey dan Pep Guardiola mengalami hal-hal yang sedikit lebih rumit.

Sebelas tahun sebelum memenangkan Piala Dunia bersama Inggris, Ramsey memimpin Ipswich yang baru terdegradasi, kalah 2-0 di kandang sendiri dari Torquay di Divisi Tiga Selatan. Ipswich saat itu, tertulis di The East Anglian Daily Times, “seburuk penampilan yang seseorang dapat ingat kembali di Portman Road.”

Ramsey, yang benar-benar tahan terhadap kritik, memilih tim yang sama untuk pertandingan keduanya. Ipswich mengalahkan Southampton 4-2. Dalam tujuh tahun, mereka menjadi juara di Inggris.

Pep Guardiola hanya membutuhkan satu tahun untuk memenangkan gelar – ketika itu ia mengambil kendali di Barcelona setelah bertugas di tim Barcelona B. Jalan mulus menuju kejayaan? Tidak. Barca kalah 1-0 dari Numancia dalam pertandingan liga pertamanya, lalu ditahan imbang di kandang oleh Racing Santander. Barca berada di urutan ke-17.

Sebelum pertandingan berikutnya di Sporting Gijon, media sudah mempertanyakan apakah Guardiola siap untuk pekerjaan besar tersebut. Syukurlah, Pep dan timnya kemudian menghancurkan Sporting Gijon dengan skor 6-1.

Musim itu, 2008-09, tim Barcelona asuhan Pep memenangkan Copa del Rey, lalu meraih gelar La Liga, kemudian mengangkat trofi Liga Champions. Tiga bulan kemudian mereka sukses menjuarai Piala Super Spanyol, kemudian Piala Super UEFA, dan akhirnya Piala Dunia Klub FIFA. Semua diraih dalam 12 bulan. Mungkin Pep memang sangat siap melakukan pekerjaan besar tersebut.

Ketika Ancelotti Dipecat di Paruh Waktu

Jika kepergian Bobby Robson (Fulham) mengejutkan, setidaknya momen tersebut tidak terjadi pada paruh waktu (jeda turun minum), tetapi pada hari terakhir musim, dengan timnya yang akan merebut gelar. Carlo Ancelotti menghadapi perjuangan berat untuk bisa diterima oleh para penggemar Juventus. Sebagai pemain, ia terkait erat dengan Milan dan Roma, dua rival Si Nyonya Tua. Dia juga menggantikan Marcello Lippi, pelatih yang dipuja oleh pendukung Bianconeri, dan terasa bahwa Ancelotti tidak memiliki silsilah. Pada tugas sebelumnya, ia dipecat oleh Parma pada tahun 1998 karena finis ke-6 di Serie A.

“Kami berbeda dalam segala hal,” Ancelotti kemudian mengatakan tentang tugasnya sebagai pelatih Juventus. “Saya anak desa. Mereka adalah pengusaha berjas dan dasi. Sebuah jam Swatch di antara Rolex. Plastik versus emas.”

Kegagalan itu relatif, tentu saja. Di Juve, kegagalan berarti sama dengan tak memenangkan Scudetto. Tetapi di musim pertama Ancelotti, mereka unggul sembilan poin dari Lazio dengan delapan pertandingan tersisa, kemudian lima poin unggul dengan sisa tiga pertandingan - dan mereka menyerah di akhir.

Pada pertandingan terakhir 1999-00, Lazio menang 3-0 di kandang sendiri atas Reggina di Roma yang bermandikan sinar matahari. Sementara itu, di Perugia - hanya 85 mil jauhnya - badai menunda babak kedua hingga 80 menit, dengan skor 0-0. Wasit Pierluigi Collina akhirnya membolehkan permainan dilanjutkan, Juventus membutuhkan kemenangan untuk mengamankan gelar. Dalam kondisi putus asa, satu-satunya gol pertandingan dicetak oleh pemain Perugia, Alessandro Calori. Juve telah menghancurkan mimpinya sendiri.

Pada musim 2001, perburuan gelar kembali ketat lagi. Kali ini, Ancelotti sudah diberitahu bahwa dia akan digantikan pada akhir musim, yang secara aneh diumumkan klub kepada para penggemar di paruh waktu pertandingan terakhir musim itu, meskipun Juventus sedang memimpin 1-0 atas Atalanta dan masih bisa memenangkan liga. Di pertandingan lainnya, para pemain Roma telah bermain dengan keunggulan interval 2-0 melawan Parma, dan akhirnya mendapat hasil yang mereka butuhkan untuk menyegel gelar Scudetto ketiga mereka.

"Alasan kepergian Ancelotti?" Pemilik Juve, Gianni Agnelli mengungkapkan. "Sulit untuk bekerja di kota di mana sebagian besar fans dan pers menentang Anda."

Para pemain juga tahu. "Carlo sangat menderita karena para penggemar Juventus tidak menyukainya," kata gelandang Alessio Tacchinardi. “Dia tidak pernah diterima. Orang-orang mengingat masanya di Turin sebagai kegagalan karena dia tidak memenangkan apa pun, tapi saya pikir dia merasakan beberapa musim yang baik. "

“Dia berkembang secara taktis selama masanya bersama kami. Dia mengubah sistem 4-4-2 yang biasa, menambahkan seorang trequartista. Dia menggunakan formasi tersebut dalam karirnya."

Formasi 4-3-1-2 itu kemudian membawa keberhasilan Ancelotti di level domestik dan Eropa dalam pekerjaan berikutnya melatih Milan, termasuk kemenangan adu penalti pada pertandingan Final Liga Champions 2003 di Old Trafford… melawan Juventus.

Dua puluh tahun kemudian setelah kedatangannya di Turin, dan sekarang menjadi salah satu pelatih paling dihormati di dunia, Ancelotti dikaitkan dengan kembalinya ke Juventus selama musim panas, sebelum penunjukan mantan rekannya sekaligus eks manajer Chelsea, Maurizio Sarri. Mungkin dengan tidak mengejutkan, dia pasti tergoda untuk mengumumkan keputusannya di paruh waktu.

sumber : four four two

Post a Comment Blogger

 
Top