Jose Mourinho Inginkan Zlatan Ibrahimovic Kembali ke Manchester United

Jose Mourinho Inginkan Zlatan Ibrahimovic Kembali ke Manchester United

Jose Mourinho Inginkan Zlatan Ibrahimovic Kembali ke Manchester United


Begitulah rumor yang sedang mencuat. Jose Mourinho, yang putus asa karena gejolak yang terus berlangsung di tim asuhannya, sedang mengincar Zlatan Ibrahimovic pada jendela transfer Januari 2019 nanti untuk kembali ke Old Trafford.

Penampilan mengesankan Ibrahimovic bersama LA Galaxy menjadi  salah satu pemicu The Special One menginginkan Ibrahimovic kembali ke sisinya. Sejak bermain di Major Soccer League bersama LA Galaxy, Ibra telah mencetak 21 gol dan 9 assists dalam 25 pertandingan. Sebuah catatan mengesankan yang dibukukan oleh pemain yang berusia 37 tahun ini.

The Red Devils membutuhkan sosok kuat yang tidak hanya mampu mencetak banyak gol, namun juga menjaga stabilitas tim yang sedang terperosok ke posisi 8 klasemen sementara di Liga Premier ini. Mourinho mungkin meyakini bahwa Ibrahimovic akan mempu memberikan pengaruh positif kepada pemain-pemain lainnya di ruang ganti. Bukanlah sebuah kebetulan bahwa sejak kepergian Ibrahimovic dan Wayne Rooney, terjadi disharmoni dalam tim asuhan Jose Mourinho.

Rumor mengenai Mourinho ingin Zlatan kembali ke United mencuat tidak lama setelah Ibrahimovic mengatakan bahwa Mou adalah pelatih yang tepat untuk United.

“Saya kira [Mourinho] memiliki kemampuan untuk memenangkan [Liga Premier]. Saya rasa, ia adalah pelatih yang tepat untuk klub tersebut, tim tersebut. Dan saya merasa bahwa tim tersebut sedang dalam kondisi bagus. Berkembang, menjadi lebih baik. Ini adalah tahun ketiganya [Mourinho] bersama klub, para pemain sudah lebih paham cara bermain yang pelatih inginkan dan bagaimana mereka akan memainkannya. Jadi, saya percaya, dia memang orang yang tepat,” jelas Zlatan, kepada wartawan.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa Jose Mourinho sekarang sedang berusaha mengembalikan “kekuasaannya” terhadap beberapa pemain, yang memang semakin memudar akibat hasil-hasil pertandingan yang inkonsisten. Tidak hanya dipicu hasil pertandingan, beberapa pemain juga merasa marah dan frustrasi karena perlakuannya terhadap pemain lainnya, keputusannya mengenai pemilihan taktik, serta sikap negatifnya di sekitar lapangan latihan.

Zlatan Ibrahimovic mungkin tidak akan memberikan keajaiban sekejap membalikkan telapak tangan, namun kehadirannya di Old Trafford selama 18 bulan sebelum pindah untuk bermain di Benua Amerika sangat penting bagi tim. Seluruh pemain, muda ataupun senior, menganggapnya sebagai pemimpin. Yang lebih penting lagi, Ibrahimovic bertindak sebagai penyokong suasana positif antara para pemain di ruang ganti dan Mourinho sebagai pelatih dikarenakan pengalamannya dilatih oleh Mourinho ketika dulu bermain untuk Inter Milan di Serie A.

Maka dari itu, ketika Ibrahimovic meninggalkan Old Trafford, yang juga diikuti kepergian Wayne Rooney, para pemain kehilangan kesatuan di ruang ganti. Ibrahimovic juga terbukti mampu memimpin, seperti pada saat menginspirasi para pemain muda dengan kerendahan hati dan dedikasinya, serta berada di baris terdepan untuk berbicara kepada media. Sampai sekarang, belum ada pemain yang mampu mengisi tempat kosong yang ditinggalkan Ibrahimovic dan Rooney.

Paul Pogba sebagai pemain dengan profil terbaik di United sekarang, belum mendapat respek yang dulu didapatkan Ibrahimovic secara singkat karena persona dan pencapaian karirnya. Sementara Alexis Sanchez sebagai pemain bergaji tertinggi di Old Trafford sekarang, masih jauh dari sosok pemimpin karena tidak memiliki karisma seperti Ibrahimovic.

Manchester United telah mampu mengatasi nihilnya Ibrahimovic di dalam lapangan, dengan kumpulan gol yang dicetak Romeo Lukaku yang mampu menggantikan yang dicetak Ibrahimovic. Namun, efek kepindahan Ibrahimovic ke MLS begitu terasa bagi tim di luar lapangan.

Jika Jose Mourinho masih berada di Manchester United pada jendela transfer Januari nanti (yang tentu saja masih ada kemungkinan dia dipecat), mewujudkan transfer Ibrahimovic untuk kembali ke Old Trafford bukanlah sebuah ide yang buruk. Faktanya, hal inilah yang dibutuhkan sang pelatih untuk mengembalikan kondisi tim menjadi kondusif.



*dikutip dari berbagai sumber
 
Share This :