Evolusi Jose Mourinho

Evolusi Jose Mourinho

Apakah gaya manajerial Jose Mourinho berevolusi sejak hari-hari pertamanya bersama Chelsea dulu? Mari kita cek bersama.

Mourinho melakoni tidak kurang dari 321 pertandingan di semua ajang sebagai pelatih Chelsea dalam 2 periode antara 2004 dan 2015. Ia memenangi 3 titel juara Premier League dan 4 trofi mayor lainnya bersama The Blues, sebelum akhirnya menerima pinangan Manchester United pada Bulan Mei 2016.

Musim lalu, manajer asal Portugal tersebut sukses mengantar MU meraih posisi runner-up di klasemen akhir EPL, posisi liga tertinggi untuk MU sejak Sir Alex Ferguson pensiun. Namun musim ini, kesuksesan musim lalu tersebut seakan lenyap begitu saja sejak MU dibawanya mengantongi rasio point per game terendah dalam sejarah klub di era Premier League.


Beberapa laporan menyebutkan bahwa jajaran petinggi MU siap untuk memecat The Special One awal Bulan Oktober 2018 ini setelah MU dibawanya mengarungi 4 pertandingan tanpa kemenangan. Namun aksi-aksi heroik para pemain Setan Merah kemudian mampu memenangkan pertandingan melawan Newcastle United setelah sempat tertinggal 2 gol. Kemenangan yang untuk sementara dapat sedikit mengangkat beban di atas pundak Mourinho.

Tapi, apakah Mou sebenarnya telah mencapai kesuksesan yang lebih besar dalam jangka waktu yang lebih lama? Dan apakah dia telah berevolusi secara taktis? Mari kita periksa statistiknya.

Pencapaian Mourinho saat ini, sangat identik dengan 2 kali masa kepemimpinannya di Chelsea (kita sengaja tidak membahas pencapaian Mou di liga lain). Start yang kuat di musim pertama, secara tipikal makin membaik di musim kedua, lalu terjun bebas di musim ketiga.



Mengangkat gelar Liga Primer Inggris bersama Chelsea pada Mei 2015, Chelsea entah bagaimana mengalami kemerosotan performa yang signifikan yang akhirnya membuat Mourinho dipecat untuk kedua kalinya pada pertengahan Desember tahun yang sama. Saat meninggalkan Stamford Bridge, Chelsea, yang berstatus juara bertahan saat itu, terjerembab di posisi 16 klasemen.

Kejadian yang mirip kini menerpa Setan Merah. Setelah sukses menyegel posisi kedua di musim keduanya, Mourinho kini membawa MU (sampai pekan ke-9) duduk di posisi ke-10 dengan selisih gol minus, terpaut 9 poin dari pemimpin klasemen sementara, Manchester City dan Liverpool.

Grafik di bawah ini menunjukkan bagaimana pencapaian Mourinho selama lebih kurang 10 tahun bekerja di Inggris, mengungkapkan tren penurunan yang nyata, sebelum akhirnya didepak setelah start yang buruk.

Kesuksesan MU musim lalu banyak terbantu berkat penampilan lini defensif mereka yang solid - hanya kebobolan 28 gol sepanjang musim dan hanya kalah dari Man City yang akhirnya merengkuh gelar juara. Sayangnya, kesolidan lini belakang MU saat itu tak dibarengi dengan moncernya lini depan - hanya mencetak 68 gol alias paling sedikit diantara empat tim teratas musim lalu.

Sudah menjadi rahasia umum, gaya defensif MU di masa kepelatihan Mou telah banyak mendapatkan kritikan sebagai gaya taktik yang negatif dan membosankan, meskipun, ada satu waktu di musim lalu yang cukup bertolak belakang. Mouinho mencatatkan rekor goal per game tertingginya di Inggris pada akhir September tahun lalu bersama MU, yakni 3,4 gol per pertandingan, sebelum akhirnya angka ini tiba-tiba menguap begitu saja.

Mourinho menerapkan formasi utama 4-3-3 pada awal kedatangannya di Stamford Bridge, lalu berubah menjadi 4-2-3-1 di masa kepelatihan keduanya di Kola London. Di musim pertamanya bersama MU, Mourinho masih setia dengan skema 4-2-3-1. Namun memasuki musim baru ini, Mou kembali menggunakan skema 4-3-3 demi mengakomodasi peran Paul Pogba. Gelandang asal Perancis tersebut terbukti lebih efektif berdiri di sisi kiri dari 3 gelandang daripada berduet dengan Nemanja Matic sebagai duo jangkar bertahan. Meski demikian, 4-3-3 versi sekarang jelas tak sebaik 4-3-3 versi Chelsea dulu dimana The Blues menderita kebobolan maupun shots per game paling sedikit, rekor terbaik Mou di tanah Inggris.


Kontras dengan anggapan publik, meski permainan MU tampak membosankan, namun faktanya para pemain MU masih lebih banyak menghabiskan waktu di teritori pertahanan lawan ketimbang di area sendiri. MU-nya Mou tercatat melakukan rata-rata 318 operan di area lawan, lebih banyak dari masa kepelatihannya di Chelsea yang 'hanya' mencatat rata-rata 244 operan di area yang sama.


Kendati demikian, angka statistik ini tampak merosot belakangan ini karena meski banyak melakukan penetrasi ke area lawan, MU gagal membukukan lebih banyak peluang maupun shots on target alias banyak melakukan serangan yang tak efektif. Saat ini, MU berada di peringkat ke-8 untuk urusan konversi gol, di bawah tim-tim seperti Bournemouth dan juga Leicester City.

Jadi kesimpulannya, problema utama Mou di MU saat ini ada di lini depannya. Yang jadi masalah adalah lini defensif mereka saat ini juga sedang dalam performa yang tak terlalu baik. David de Gea sudah kebobolan 14 gol (sampai pekan ke-9), atau hampir 5 kali lipatnya jumlah kebobolan yang diderita Liverpool maupun seteru sekotanya Man City. Hampir dapat dipastikan, Mou akan lebih banyak mencurahkan konsentrasinya untuk lini belakang mereka. Serba tanggung. Jangan harap keajaiban seperti saat melakukan comeback melawan Newcastle akan sering terjadi.


Sejak awal musim, sejatinya Mou sudah terus memaksa manajemen untuk mendatangkan bek baru. Namun seperti yang kita tahu, permohonan itu tak dikabulkan. Kini, Mou berharap dana itu akan tersedia di bursa transfer musim dingin, dan beberapa nama bek berkualitas sudah ada dalam kepalanya. Namun, bisakah Mou mematahkan kutukan musim ketiganya?

sumber : Skysports
Share This :