Suka Duka Kiper Pilihan Ketiga, Inilah Dunia Mereka

Suka Duka Kiper Pilihan Ketiga, Inilah Dunia Mereka

Tony Warner marah. Ketika itu, Desember 2008, Warner sebagai penjaga gawang pilihan ketiga di Hull City, sedang berlatih ringan sendirian sebelum pertandingan Liga Premier melawan Middlesbrough. Itulah saat ia sebagai pemain senior harus merasakan siksaan ketika tidak dibutuhkan untuk pertandingan padahal biasanya diberikan kesempatan yang besar.

Seorang pramugara bertanya apakah Warner akan bermain. Warner menanggapi dengan singkat. “Sial! Apakah aku terlihat seperti akan bermain?" Ujar Warner kepada ESPN.

Warner bergegas pergi ke ruang ganti, dengan wajah penuh amarah. Senin berikutnya, manajemen menanyakan apa yang salah dan Warner menjelaskan kekesalannya. Setelah mendengarkan Warner, manajemen meletakkan namanya di antara para pemain pengganti untuk pertandingan tandang berikutnya melawan Liverpool, mantan tim Warner, tim yang membangkucadangkannya sebanyak 120 kali tanpa memberikannya kesempatan tampil satu kali pun. Warner mengira dia telah kembali ke dalam tim.

"Pada pertandingan berikutnya, dia [manajer Phil Brown] kembali tidak memainkan saya. Jadi, saya bertanya langsung ke Brown dan mengatakan 'apa yang terjadi di sini, bagaimana bisa saya tidak dimainkan lagi?' Dan dia menanggapi dengan berkata, "Oh, kita berada di Anfield, dan ini adalah ketika Anda memulai karier di Liverpool, saya pikir Anda akan lebih suka berada di bangku cadangan tanpa harus melawan mantan klub Anda."

"Aku berkata kepadanya, ‘Apakah Anda bersungguh-sungguh mengatakannya? Dengar, saya tahu seperti apa Anfield. Saya pernah berada di Anfield lebih lama daripada siapa pun di tim ini. Tidak ada yang pernah merasakan Anfield lebih lama daripada yang pernah saya rasakan. Saya sangat paham seperti apa Anfield di dalam, di luar, di manapun. Saya tidak perlu bantuan untuk melihat klub ini lagi'. Brown lalu berkata ‘Baik, itulah apa adanya, Anda keluar sekarang.’ Ya, dia mengusirku. Lalu aku memanggilnya dengan berbagai sebutan dan sumpah serapah, dan pintu kemudian kubanting. Hidup kadang memang tidak adil.”

Brown, yang sekarang menjadi manajer di Swindon Town, tertawa ketika ditanyakan mengenai masa-masa ketika penuh pertengkaran dengan Warner.

“Kiper ketiga adalah posisi tersulit untuk mendapatkan tempat di Liga Premier,” ujar Brown kepada ESPN. “Posisi itu adalah di mana Tony khawatir, bahwa dia adalah sebuah tantangan karena dia memiliki keyakinan yang sangat kuat dalam kemampuannya sendiri. Tetapi intinya adalah, karakter besar itu tidak ada artinya jika Anda tidak melakukan penyelamatan, atau menjaga gawang Anda agar tidak kebobolan.”

Tony Warner menjadi simbol kehidupan frustrasi seorang kiper ketiga: menghangatkan bangku cadangan dan dianggap tidak penting bahkan ketika latihan.

Selamat datang di kehidupan kiper pilihan ketiga, pemain cadangan yang abadi. Anda berada di setiap sesi latihan, berdiri sebagai target yang tidak tepat karena penyerang mencoba untuk mengesankan pelatih dengan melakukan tembakan roket ke gawang. Pada hari pertandingan, Anda berlatih dan melakukan perjalanan bersama tim, mengetahui bahwa kecuali jika terjadi hal yang sangat tidak terduga (baik kiper pilihan pertama dan kedua), Anda akan menonton dari tribun, atau sebagus-bagusnya dari bangku cadangan. Minggu berikutnya? Mungkin menjadi pemain cadangan, atau, melakukan rutinitas yang sama, lagi.

Pada musim panas lalu ketika klub-klub Premier League menghabiskan dana sebesar 209 juta poundsterling untuk transfer penjaga gawang, termasuk dua rekor dunia untuk Alisson (£66,8 juta) di Liverpool dan Kepa (£71.6m) di Chelsea. Selain itu, ada dua transfer kiper yang menghabiskan 'hanya' £1,5 juta pada musim panas ini. Robert Green, 38 tahun, dan Lee Grant, 35 tahun, masing-masing bergabung dengan Chelsea dan Manchester United. Ada kemungkinan keduanya akan dimasukkan dalam tim Liga Premier dan Liga Champions, tetapi, kemungkinan yang lebih besar (dan masuk akal) adalah aksi Green dan Grant tidak akan banyak terlihat mengingat Kepa dan Willy Caballero berada di depan Green sementara Grant memiliki David De Gea dan Sergio Romero di depannya. Green dan Grant menjadi sepasang tangan tua yang aman; penjaga gawang untuk sesi latihan. Tentu saja, ini bukan pekerjaan amal. penjaga gawang pilihan ketiga dapat memperoleh upah yang layak – sebuah laporan menyebutkan Green dan Grant digaji £20 ribu per minggu.

Ada tiga macam kiper pilihan ketiga. Yang pertama: kiper berwajah segar yang tidak terluka pada awal karirnya, seperti Lenny Pidgeley di Chelsea pada 2004. Posisinya berada setelah PetrCech dan Carlo Cudicini, tetapi ia senang berada di klub masa kecilnya. Kedua, ada pemain senior yang frustasi dan patah arang di klubnya, dan mencari kemungkinan untuk pindah ke klub lain, seperti Warner di Hull. Terakhir, adalah penjaga gawang veteran yang berada di masa senja karirnya, dibayar dengan gaji yang pantas untuk memberikan kesempatan kepada kiper-kiper muda sementara para veteran ini menjadi pilihan ketika darurat saja, seperti Green dan Grant.

Harry Redknapp melatih Green di Queen's Park Rangers sejak 2012 hingga 2015 dan sangat senang kiper lamanya itu kini memiliki kesempatan bermain di Chelsea, tetapi juga sangat paham betapa sulitnya menjaga kiper ketiga tetap merasa bahagia. "Ini langkah yang bagus untuk Rob Green. Rob menjadi kiper papan atas, tapi dia mungkin harus berjuang ekstra keras dan berlatih setiap hari demi hanya menjadi bagian dari taktik Chelsea."

"Penjaga gawang adalah posisi yang spesial," lanjut Redknapp. "Mereka masuk dan bekerja di lapangan. Green dan Grant adalah para profesional yang mulai habis, seperti dulu saya bersama Jimmy dan Carlo. Dan pada akhirnya, kadang-kadang mereka mengajarkan kiper tim utama satu atau dua hal. Jika Rob Green pernah dibutuhkan, dia tidak akan mengecewakan Anda, ia akan melakukan pekerjaannya dan Anda akan percaya padanya."

Mark Schwarzer selalu berperan sebagai kiper ketiga dalam 26 tahun karir sepakbolanya. Dia ada di Middlesbrough selama 539 pertandingan tim, dan kemudian Fulham, berada dua musim di Chelsea dan satu lagi di Leicester dalam peran yang sama seperti Green dan Grant. Selama tiga musim terakhir tersebut, ia membuat 10 penampilan Premier League dan menjadi bagian dari dua tim pemenang gelar Liga Premier.

"Menjadi kiper ketiga akan lebih sulit ketika Anda masih lebih muda dan Anda memiliki keinginan untuk bermain sepanjang waktu," kata Schwarzer kepada ESPN. "Jika Anda lebih muda, Anda menyerap atmosfer, mencoba memproses semuanya, tetapi pada dasarnya Anda ada di sana hanya untuk diberikan tendangan bola."

"Pada akhirnya, seperti ketika saya di Chelsea, Anda harus menerima kenyataan bahwa Anda hanyalah seorang penjaga gawang pilihan ketiga dan Anda hanya bisa menerimanya," tambah Schwarzer. "Hal ini dapat menyebabkan turunnya moral, karena Anda dianggap tidak penting. Tidak peduli seberapa keras Anda bekerja, atau seberapa sering Anda bekerja, Anda tahu Anda sebatas menjadi orang yang akan dihujani tembakan bola saat latihan ... Dalam satu titik, itu adalah kondisi yang sangat sulit untuk diterima."

Kendati demikian, tidak semua kiper ketiga merasa sengsara. Contohnya adalah Mark Schwarzer sendiri, yang kesempatan bermainnya dipotong oleh Petr Cech dan Thibaut Courtois saat di Chelsea.

“Bagi saya, masa di Chelsea terasa hebat, karena Jose Mourinho saat itu menghargai dan mengerti bahwa posisi kiper ketiga itu sulit, tetapi juga penting karena posisi itu adalah tentang menjadi positif dan melakukan hal yang benar ... karena jika Anda menunjukkan perasaan kecewa, maka akan berpengaruh pada pemain lainnya,” kata Schwarzer. “Mereka ingin Anda berada di puncak permainan Anda untuk memastikan orang-orang yang berlatih bersama Anda juga berada di level permainan terbaik mereka."

Sementara Schwarzer berada di akhir karirnya, Pidgeley memulai perjalanan karirnya sebagai penjaga gawang ketiga di Chelsea. Sekarang bermain untuk Farnborough Town, ia juga membantu mengelola bisnis taman milik ayahnya, ia tampak sangat senang pada tiga musim di Chelsea di mana ia sempat membuat dua penampilan bersama tim utama.

"Ini semua memang sungguh tentang waktu," kata Pidgeley. "Saya berusia 20, lalu 21, dan berada di klub besar, saya tidak benar-benar berharap mendapatkan kesempatan bermain, namun saya cukup puas. Hal itu (perasaan puas) membantu saya untuk tidak stres, dan saya tidak marah. Pidgeley belajar dari perjuangan awalnya untuk menjadi penjaga gawang pilihan pertama di Millwall selama dua tahun sebelum merasakan menjadi pemain nomaden dimana ia bermain untuk 11 klub lain dalam perjalanan ke tempat istirahatnya saat ini bersama Farnborough.

“Saya berada di Carlisle, Bradford, Exeter dan saya ada di bangku cadangan atau bermain, saya kadang berpikir semacam ‘Apa yang saya lakukan?’” ujar Pidgeley. “Saya merasa dalam pikiran saya seharusnya saya bermain dan saya jauh dari rumah, dan jika Anda tidak bermain ketika Anda berpikir Anda seharusnya bermain, maka Anda menjadi frustrasi. Akan tetapi itu semua juga tergantung pada klub dan orang-orang di dalamnya.”

Pidgeley tidak pernah memaki dengan kata-kata kasar seperti Warner, tetapi bisa bersimpati setelah mendengar kisah perkelahian Warner dengan Brown. “Ya, kedengarannya seperti Denzel,” kata Pidgeley, mengacu pada julukan Warner dari tokoh dalam komedi situasi BBC “Only Fools and Horses.”

"Saya adalah pilihan ketiga di Cardiff dan berselisih dengan manajemen, lalu saya berakhir di tribun," kata Warner. "Ada berbagai jenis kiper – Anda bisa memiliki penjaga gawang nomor satu, yang hebat. Kemudian Anda memiliki orang lain yang sangat senang berada di bangku cadangan saja dan mereka hanya diam di sana, dan Anda mungkin akan mendapatkan perpanjangan kontrak karena Anda tidak menendang pintu dan Anda adalah pilihan yang aman.

Warner sekarang berada di Accrington Stanley sebagai pelatih penjaga gawang, dan bahkan duduk sebagai kiper cadangan pada pertandingan pertama musim ini, berusia 44 tahun, karena klub ini tidak memiliki opsi kiper cadangan.

Warner juga berbincang mengenai mengapa ia dapat mengerti bahwa Green dan Grant, seperti dirinya juga, melakukan perpindahan klub. Ini bukan masalah menerima kekalahan dengan bergabung sebagai penjaga gawang ketiga, tetapi lebih merupakan kesempatan untuk menambahkan bagian-bagian tak terduga ke karir mereka, seperti mendapatkan gaji dan bonus, tentu saja dengan risiko menjalani hidup yang nomaden.

sumber : ESPN
Share This :