Kylian Mbappe : Bocah Lelaki dengan Dunia di Kakinya

Kylian Mbappe : Bocah Lelaki dengan Dunia di Kakinya
Kylian Mbappe : Bocah Lelaki dengan Dunia di Kakinya

Jika anda mencari pesepakbola dengan pencapaian tersukses saat ini, maka bisa jadi jawabannya adalah Raphael Varane. Sebagai bagian dari Timnas Sepakbola Perancis yang mengalahkan Kroasia di final Piala Dunia Rusia Juli 2018 lalu, pria berusia 25 tahun ini menambahkan medali emas piala dunianya ke kumpulan 4 medali UEFA Champions League yang diraihnya bersama Real Madrid. Namun, terlepas dari kesuksesan Varane yang fenomenal, ia tidak berada di posisi seterkenal rekan-rekan satu timnya di Perancis.

Sementara itu Kylian Mbappe, yang masih berusia 19 tahun sekarang, adalah properti sepakbola terpanas di dunia saat ini. Mbappe mungkin tidak mendapat raihan medali sebanyak Varane, namun tak ada yang meragukan bahwa Mbappe memenangkan hati lebih banyak orang di dunia.

Menjalani debut internasional seniornya kurang dari 18 bulan yang lalu, striker kelahiran Paris ini telah menjadi pemain idola para pemain muda, dan pemain yang semua pelatih ingin dapatkan.
   
Golnya di final Piala Dunia – sebuah gerakan cerdas dengan kaki kanannya yang berada di luar jangkauan kiper Kroasia sekaligus mantan rekan setimnya di Monaco, Danijel Subasic – menunjukkan kualitas Mbappe kepada dunia. Menerima operan dari Lucas Hernandez yang berjarak 25 yards dari gawang, dia meraih bola, berputar dengan cepat, menggeser bola untuk menciptakan jarak dengan bek Domagoj Vida sebelum melakukan tembakan rendah ke sudut kiri gawang Kroasia. Semuanya dilakukan dengan rapi, teratur dan brilian, tanpa banyak gaya. Sebuah efisiensi yang maksimum.
   
Meskipun Didier Deschamps kebanjiran talenta muda di dalam timnya untuk Piala Dunia 2018, Mbappe berhasil tampil sebagai starter di seluruh pertandingan Perancis, mencetak 4 gol, dan tetap tak lupa menunjukkan rasa hormat pada pelatih.

Kylian Mbappe : Bocah Lelaki dengan Dunia di Kakinya
Menonton Mbappe menghancurkan pertahanan Argentina yang telah berpengalaman pada ajang turnamen di fase knock out, pertandingan dimana Mbappe mencetak dua gol, adalah salah satu highlights paling bersinar di sepanjang turnamen berlangsung. Dengan kecepatan 37 km/jam yang menakjubkan, Mbappe sukses merepotkan para pemain asal Amerika Selatan tersebut. Eks bek timnas Inggris, Rio Ferdinand, berkelakar dengan mengatakan bahwa kecepatan Mbappe adalah sesuatu yang “ilegal” dan mengatakan bahwa satu-satunya cara bermain menghadapi Mbappe adalah dengan berdoa.

"Saat melawan Belgia, kami memulai pertandingan dengan lambat," jelas Antoine Griezmann. “Tetapi, hanya setelah 20 detik, 'Kiki' [nama panggilan Kylian Mbappe] sudah seperti terbakar. Dia satu-satunya yang bisa melakukan itu."

Namun Mbappe bukan hanya seorang speedster. Sebagai seorang pria yang masih sangat muda, permainannya yang serba bisa memiliki kedewasaan yang bahkan hanya bisa ditemukan pada para pesepakbola profesional level atas yang jauh lebih senior.

“Kylian memiliki banyak bakat yang tak kumiliki,” ujar gelandang Perancis Paul Pogba. “Sudahkah Anda melihat yang dilakukannya sebagai anak seusianya? Aku tak pernah berada di level kemampuan itu.”

Ini adalah pujian untuk pemuda yang bisa dibilang sudah memiliki dunia di bawah kakinya. Namun, meskipun usianya masih muda, Mbappe terlihat mampu mengontrol dirinya atas segala sorotan yang ditujukan kepadanya dengan kedewasaan yang luar biasa. Kredit besar patut diberikan kepada orang tuanya, yang selalu mengawasi setiap perkembangan Mbappe. Ayah Kylian yang berdarah Kamerun, Wilfried Mbappe Lottin, pernah bermain sepakbola regional Perancis sebelum menjadi pelatih AS Bondy U-15, sebuah klub di pinggiran kota sebelah timur laut Paris. Ibunya, Fayza Lamari, yang lahir di Aljazair, pernah menjadi pemain bola tangan top di klub yang sama dengan Ayahnya. Dengan latar yang belakang keluarga seperti itu, tidak mengherankan jika Mbappe akhirnya tampak 'dewasa sebelum waktunya' di dunianya saat ini.

“Dia  memiliki orang-orang baik di sekitarnya,” ujar mantan pemain internasional Kamerun, Patrick Mboma, yang bermain bersama Ayah Kylian di Bondy. “Kedua orang tuanya mencintai olahraga dan selalu melakukan yang terbaik untuk anaknya.”

“Bukanlah sebuah rahasia bahwa Anda membutuhkan keluarga yang solid di belakang Anda jika ingin mencapai sukses di level tertinggi”, tambah Patrick.

Mungkin memang hal yang penting bahwa orang tua terus mengawasi anaknya. “Tak pernah terlihat sedih, Kylian terlihat sedikit tidak bersemangat pada pelajarannya. Ketika berusia 12 tahun, ia pernah mendapatkan delapan peringatan tertulis dari gurunya hanya dalam delapan jam pelajaran. Tetapi dia adalah anak baik yang saya pastikan tidak akan terbuang,” kenang guru Bahasa Perancisnya, Nicole Lefevre.

Telah bermain untuk AS Bondy sejak usia 9 tahun, bakat Mbappe yang luar biasa segera tercium oleh dunia luar. “Sejak masih kecil, Kylian telah menjadi anak yang fenomenal, seorang bintang,” kata presiden klub Atmane Airouche. “Kecepatan dan visinya sangat menakjubkan.” Klub-klub terbesar Eropa dengan cepat menunjukkan ketertarikan mereka, dan Mbappe bahkan berangkat ke London untuk memainkan pertandingan uji coba untuk Chelsea pada usia 11 tahun.

“Kami memainkan pertandingan persahabatan melawan Charlton Athletic,” ingatnya kembali. “Itulah pengalaman pertama saya pergi ke luar negeri dan berkesempatan melihat seperti apa  pertandingan sepakbola di Inggris.”

Mbappe membantu Monaco U-19 memenangkan Gambardella Cup di musim panas 2016, mencetak 2 gol ke gawang Lens, dan menjuarai European U-19 Championship bersama Perancis. Itulah aksi Mbappe yang membuat Manchester City sempat menawarkan 40 juta poundsterling kepada Monaco pada musim panas itu, sebuah tawaran yang langsung ditolak. Pada Februari 2017, Mbappe menunjukkan kepada City bahwa ia berharga lebih dari 40 juta pounds, ketika ia mencetak gol ke gawang City di Champions League.

Kylian Mbappe : Bocah Lelaki dengan Dunia di Kakinya
Musim 2016-2017 adalah musim tak terlupakan ketika Mbappe dan Monaco sebagai klubnya saat itu berhasil memuncaki klasemen akhir Liga 1 Perancis di atas Paris Saint Germain. Ia mencetak 15 gol di liga dan 5 gol yang impresif di Champions League.

Di dalam tim Monaco yang bertaburan dengan bintang berbakat seperti Bernardo Silva, Fabinho, Thomas Lemar, Radamel Falcao, dan atau Benjamin Mendy, Mbappe meneguhkan reputasinya sebagai talenta yang paling menarik di antara para pemain lainnya.

Deschamps memberikannya kesempatan bermain penuh pada satu pertandingan internasional ketika pertandingan tandang melawan Luxemburg di penyisihan Piala Dunia pada Maret 2017, dan Mbappe terus melaju dengan membukukan jumlah total 10 penampilan di sepanjang tahun, dan lalu mencetak gol perdananya di pertandingan internasional melawan Belanda pada penyisihan Piala Dunia lainnya.

“Saya tidak suka membanding-bandingkan pemain,” ujar Thierry Henry. “Mbappe harus menjadi dirinya sendiri dan bukan orang lain. Tetapi, Wow! Dia sangat bagus. Saya sangat suka melihatnya bermain.”

Berbagai spekulasi menyeruak mengenai potensi pindahnya remaja berusia 18 tahun ini dari AS Monaco pada musim panas 2017, dan pada hari terakhir jendela transfer, diumumkanlah bahwa Kylian Mbappe bergabung dengan PSG.

Kontraknya sangat menarik, dengan sang pemain menandatangani kontrak sebagai pemain pinjaman dengan opsi pembelian permanen senilai 145 juta Euro. Pembelian akan menjadi wajib jika PSG tetap berada di posisi atas dan akan menjadikannya pemain termahal kedua sepanjang sejarah sepakbola.

“Bergabung dengan PSG adalah mimpi saya,” ujar Mbappe setelah kontrak ditandatangani. “Tim ini memainkan sepakbola menyerang dan bermain di sini berarti saya bisa kembali ke Paris tempat saya lahir dan tumbuh. PSG adalah tempat saya bisa berkembang di level personal serta memenangkan trofi.”

Tahun 2017 berakhir dengan Mbappe mendapatkan posisi ketujuh pada voting Ballon d’Or – sekaligus menjadi pemain termuda yang pernah masuk ke 10 besar. Tak hanya itu, 33 golnya dalam satu tahun kalender membuat ia dinobatkan menjadi pencetak gol termuda terbanyak pada tahun tersebut.

Jika 2017 adalah tahun dengan pencapaian pribadinya, maka tahun 2018 adalah tahun timnya meraih berbagai pencapaian gemilang. PSG memenangkan League Cup setelah mengalahkan mantan tim Mbappe, AS Monaco, di mana Mbappe dijadikan Man of The Match. Ia juga mendapatkan medali emas Ligue 1 setelah timnya memuncaki klasemen akhir musim 2017-2018. Tidak buruk untuk musim pertama bersama klub tempat ia kembali ke kampung halaman.

Tentu, seluruh pencapaian mengesankan ini tampak tidak lebih berkesan dibandingkan pencapaian timnas Perancis yang berhasil membawa pulang trofi Piala Dunia Rusia 2018, trofi kedua sepanjang sejarah timnas Perancis. Hal lainnya yang terjadi, Kylian Mbappe dinobatkan menjadi pemain muda terbaik sepanjang turnamen Piala Dunia 2018.

Kylian Mbappe : Bocah Lelaki dengan Dunia di Kakinya
“Saya tidak bisa menggambarkan betapa bangganya saya mampu memenangkan Piala Dunia,” tuturnya. “Saya telah mewujudkan mimpi masa kecil saya, dan telah membuat seluruh timnas Perancis bahagia. Ya, itu tidak ternilai.”

Mbappe telah menjadi simbol semangat Perancis: muda, dinamis, berani. Presiden Perancis, Emmanuel Macron, jelas tersentuh oleh kemenangan di Piala Dunia dan oleh Mbappe khususnya, dan Macron secara naluriah mencium kepala bocah itu ketika menjadi delegasi resmi yang memberikan trofi di Moscow.

“Sebelum kami meninggalkan Rusia, ia [presiden] meminta kami untuk membawa sebuah bintang kedua [Piala Dunia kedua] ke Perancis,” tawa Mbappe. “Ya, kami berhasil membawanya pulang dan meletakkan trofi di kantornya, jadi saya rasa kami melakukannya dengan baik.”

Karier Mbappe yang belum begitu panjang memang terlihat seperti dongeng bagi seorang yang masih begitu muda. Namun, masih banyak sekali target bagi pemain seistimewa ini. Memenangkan Champions League bersama klubnya dan kejuaraan Eropa bersama negaranya, adalah yang harus mulai dilakukan. Lalu, ada juga penghargaan individual pada akhirnya, seperti pemain terbaik dunia sepanjang tahun.

Dengan era Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi yang mendominasi penghargaan individu dalam satu dasawarsa tampak mendekati akhir, bukan hal yang tidak mungkin bahwa pria Perancis yang masih muda, ramah, serta sederhana ini akan dinobatkan sebagai yang terbaik lebih awal dari yang diperkirakan. Jadi, jika Anda saat ini belum mulai mengagumi talenta bocah ini, saya sarankan Anda untuk segera melakukannya. 😊

sumber : World Soccer
Share This :