Enam Pemain yang Bersinar Di Kasta Kedua Musim 2018/2019

Enam Pemain yang Bersinar Di Kasta Kedua Musim 2018/2019
Liga-liga teratas Eropa memang selalu menarik untuk disimak. Pertarungan antara tim-tim terbaik dan juga pemain-pemain dengan skill aduhai sering menyihir para penggemar sepakbola untuk tak jauh-jauh dari siaran lapangan hijau. Namun, tak jarang pemain-pemain terbaik justru awalnya berangkat dari divisi yang lebih rendah alias jarang terpantau. Berikut adalah beberapa pesepakbola yang menarik perhatian di divisi kedua liga-liga teratas sepakbola Eropa musim 2018/2019.

1. Marco Stiepermann (Norwich City)

Tinggi dan mengesankan secara fisik, eks lulusan akademi Borussia Dortmund ini tidak memiliki tipikal postur sebagai seorang gelandang serang. Malahan, penampilannya terlihat menipu, dan pria berusia 27 tahun ini merupakan seorang playmaker elegan nan imajinatif dengan kecakapannya mengatur tempo. Ia juga mampu melepaskan tembakan akurat dari jarak jauh.

Sebagai seorang pemain yang terpinggirkan dalam skuad Dortmund yang memenangkan titel Bundesliga pada 2011, ia dulunya pemain tetap yang menghuni skuad Jerman muda dari tingkat U-15 dampai U-20, dan telah melalui masa pemulihan yang baik setelah beberapa musim yang tidak terlalu bagus.

2. Joao Filipe (Benfica B)

Dilaporkan sebagai pemain yang akan segera promosi ke skuad senior Benfica, pemain sayap berusia 19 tahun yang juga merupakan second striker ini telah mencetak dan membuat banyak gol untuk tim kasta dua tim Elang ini, serta menghidupkan gaya bermain di UEFA Youth League, khususnya permainan impresifnya ketika mencetak sepasang gol pada kemenangan 3-0 yang memukul telak Bayern Munich.

Dikenal juga dengan panggilan “Jota”, ia telah memenangkan dua gelar junior Eropa bersama Portugal: U-17 and U-19 tahun lalu, ketika menjadi top scorer bersama dengan mencetak lima gol.

Bermain bersama Benfica sejak berusia 8 tahun, ia telah melakukan trial bersama Manchester United pada 2014. Dengan tiga setengah tahun masih menjalankan kontraknya sekarang ini, satu hal yang tidak pernah kurang dari dirinya adalah kepercayaan diri, dengan menyatakan: “Aku seorang virtuoso. Aku suka berada di lapangan untuk melakukan hal-hal mudah yang kusukai. Aku adalah pesepakbola yang berbeda karena aku menguasai sepakbola jalanan di kakiku.”

3. Gaetan Charbonnier (Brest)

Merupakan seorang striker yang selalu haus gol, 16 golnya dalam 22 penampilan perdananya musim ini mewakili hampir setengah jumlah gol Brest untuk mendorong timnya ke posisi promosi.

Dalam bentuk permainan terbaiknya sepanjang hidupnya, pemain yang bersinar di usia 30 tahun ini dikontrak pada musim panas 2017 dari Reims setelah karier yang hampir membuatnya menjadi manusia biasa: momen-momen optimisme yang memabukkan berubah menjadi kebangkitan yang keras.

Dan dia tentu mengalami serangkaian waktu lama dalam masa kemunduran untuk bersaing maju, gagal mendapat lebih banyak kesempatan dari seorang pemain cadangan Paris Saint-Germain ke tim utama, kemudian masa suram di Montpellier, diikuti oleh cedera yang merobek ligamennya pada Februari 2017.
Lincah dan tidak mementingkan diri sendiri meskipun sebagai seorang penyerang tengah.

4. Ilija Nestorovski (Palermo)

Seluruh harapan klub asal Sisilia ini untuk mengakhiri keterasingan dari Serie A selama dua tahun akan sangat bergantung pada kondisi fisik striker sekaligus kapten tim asal Makedonia ini, yang selama beberapa bulan harus absen disebabkan cedera betis.

Absennya pemain ini mengakibatkan Palermo bermain tidak seefektif biasanya, merasakan kehilangan pemain 28 tahun dengan kemampuan spesialis eksekusi bola mati yang mampu menghasilkan tembakan jarak jauh yang luar biasa.

Setelah bermain di Makedonia dan Republik Ceko, ia memulai kepindahannya ke Italia pada tahun 2016 setelah mengakhiri musim luar biasa bersama klub Kroasia Inter Zapresic, di mana ia berhasil mencetak 71 gol dalam tiga musim.

5. Ruben Castro (Las Palmas)

Ketika berbagai upaya untuk segera memperbaiki kesalahan Las Palmas sehingga terdegradasi dari divisi utama musim lalu, setidaknya penyerang veteran mereka telah memenuhi harapan tim dengan tetap berada di grafik unggulan pencetak gol dan penampilan di Divisi Segunda.

Kembali untuk bermain pada periode kedua di klub kota kelahirannya dalam kariernya, pemain berusia 37 tahun yang mungil ini tetap bugar dan tajam seperti dulu dan sekarang menempati peringkat ketiga dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa yang bermain di divisi kedua. Sebagai seorang goleador (top scorer) alami, ia berada pada masa jayanya selama delapan tahun merumput di Real Betis, di mana ia mencetak 148 gol di semua kompetisi untuk menjadi pencetak gol paling produktif dalam sejarah klub.

Setelah dua dekade bermain sebagai pemain profesional, ia dengan cepat mendekati 250 gol sepanjang kariernya. Ketika bermain di level U-21 dulu, dia baru-baru ini dinyatakan tidak bersalah atas kasus kekerasan dalam rumah tangga yang telah berlangsung lama.

6. David Bates (Hamburg)

Tidak ada yang perlu terkejut mengetahui bahwa bek tengah Skotlandia berusia 22 tahun ini telah menjadi pahlawan di Volksparkstadion sejak tiba dengan status bebas transfer dari Glasgow Rangers di musim panas lalu karena ia dianggap masih memiliki kelemahan di titik pertahanan.

Setelah jatuh ke divisi kedua untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka, Hamburg SV harus menyingsingkan lengan baju mereka dan berusaha keras untuk menyusun tim dengan individu yang agresif.

Setelah memenangkan pertandingan pertamanya untuk Skotlandia di musim gugur lalu, ia tidak sebatas mengalami gegar budaya tanah Jerman, tetapi ia juga menngembangkan permainannya, dengan tampil jauh lebih nyaman ketika bermain sepakbola.

sumber : World Soccer
Share This :