Bagaimana Sistim VAR akan dipakai di Premier League 2019/2020

Bagaimana Sistim VAR akan dipakai di Premier League 2019/2020
Bagaimana Sistim VAR akan dipakai di Premier League 2019/2020

Pemutaran ulang video dengan metode VAR telah menimbulkan banyak kritik, dan terus begitu sampai musim panas ini – tetapi bagaimana Premier League akan menggunakan teknologi tersebut?

Premier League musim 2019/20 akan menjadi musim pertama penggunaan teknologi Video Assistant Referee – tetapi peluncurannya di kalangan klub papan atas Inggris akan sangat berbeda dengan cara yang telah digunakan sebelumnya.

Setelah percobaan berulang kali di FA Cup dan Carabao Cup 2018/19, teknologi tersebut sekarang akan juga mendapatkan tempat untuk pertandingan-pertandingan di liga. Teknologi tersebut telah dihadirkan pada berbagai turnamen internasional musim panas ini, termasuk Copa America dan Piala Dunia Wanita, dimana VAR dikritik karena memakan waktu lama dan penggunaannya yang berlebihan.

Monday’s Times melaporkan bahwa Premier League telah menetapkan pedoman VAR dalam upaya mengurangi ketergantungan pada teknologi tersebut musim depan, dan mengurangi gangguan selama pertandingan. Mantan wasit Premier League Mike Riley, yang sekarang menjadi kepala Professional Game Match Officials Ltd (PGMOL), menyatakan pada koran tersebut bahwa penggunaan VAR di Premier League akan diminimalisasi untuk mencoba menghindari gangguan.

“Yang harus dilakukan dengan hati-hati bukanlah penggunaan VAR untuk mengasisteni wasit pertandingan. Anda harus memercayai orang-orang di luar sana yang berada di lapangan seperti yang para pemain lakukan.”

Handball!
Keputusan VAR atas handball telah menciptakan suatu level kebingungan baru di antara para pemain, manajer, dan penggemar sepak bola pada beberapa bulan belakangan. Champions League 2018/19 memperlihatkan sejumlah keputusan besar handball melalui VAR, termasuk yang dilakukan pemain PSG Presnel Kimpembe saat menghadapi Manchester United, dan pemain Tottenham Danny Rose saat melawan Manchester City.

Akan tetapi, interpretasi Premier League tidak akan seketat itu, dan malahan akan kembali ke penggunaan yang lebih familiar berdasarkan ada atau tidaknya upaya yang disengaja untuk memblok bola dengan tangan. Ini berarti bahwa gol-gol seperti yang diciptakan striker wanita Inggris Ellen White pada saat melawan Swedia akan menjadi sah, dan penalti-penalti seperti yang diberikan kepada Moussa Sissoko pada final Champions League tidak akan diberikan.

Riley menjelaskan: “Masih ada area interpretasi di sekitar cara menentukan handball terbaru yang masih dirumuskan – secara efektif apa yang Anda pertimbangkan sebagai posisi tangan dan lengan yang tidak wajar. Di negara ini kita telah selalu mengutarakan – dan ini pula yang dikatakan oleh para pemain dan manajer kepada kami – bahwa lengan adalah bagian dari pertandingan dan selama Anda tidak mencoba menjangkau dengan tangan Anda untuk memblok sebuah tendangan, maka wasit tak akan memberikan hukuman penalti.

“Yang tidak ingin kami ciptakan adalah budaya ketika para pemain bertahan harus bertahan dengan tangan yang ikut bermain, atau dimana pun para penyerang diperbolehkan menggulirkan bola dengan tangan mereka untuk memenangkan penalti."

Penalti
VAR tidak akan digunakan untuk menilai apakah seorang penjaga gawang keluar dari jalurnya kecuali ada kesalahan yang dibuat oleh wasit. Hal ini diumumkan bulan lalu, setelah sejumlah penalti harus diulang kembali di Piala Dunia Wanita – dan masih bisa diperdebatkan dengan FIFA.

Ketua badan pengawas wasit Pierluigi Collina telah mengesampingkan anggapan mengenai berbagai negara yang membuat keputusannya masing-masing, dengan mengatakan: “Hukum pertandingan adalah sama di seluruh dunia, Yang tertulis sebagai peraturan pada pertandingan harus diberlakukan ke setiap negara anggota FIFA, dan di setiap kompetisi yang diselenggarakan oleh negara anggota FIFA.

Review Monitor Tepi Lapangan
Dalam langkah yang menarik, wasit di lapangan telah disarankan untuk tidak menggunakan monitor kecuali dalam keadaan khusus. Review monitor tepi lapangan berarti terjadinya penundaan yang lama dan kebingungan di tribun penonton, dan Riley mengatakan bahwa kontroversi yang terjadi di Piala Dunia Wanita langsung mengarah pada keputusan ini.

"Kami telah mengatakan bahwa wasit tidak boleh pergi ke monitor lapangan kecuali jika keputusan VAR benar-benar di luar dari apa yang dia harapkan," jelasnya. "Ada beberapa contoh terjadi di Piala Dunia Wanita, keputusan yang sangat subyektif, dimana dibutuhkan tiga atau empat menit dan Anda dapat menghindari semua itu selama yang diberikan VAR kepada Anda adalah sesuatu yang diharapkan oleh wasit."

“Yang harus dilakukan dengan hati-hati bukanlah penggunaan VAR untuk mengasisteni wasit pertandingan. Anda harus mempercayai orang-orang di luar sana yang berada di lapangan seperti yang para pemain lakukan. Apa yang Anda juga tidak inginkan, khususnya pada sebuah pertandingan, adalah mengacaukan intensitas mengalirnya pertandingan.”


Offside
Sejalan dengan bagaimana pemutaran ulang video telah digunakan di tempat lain, offsides akan dinilai bahkan dalam keadaan yang paling ketat - jika seorang penyerang terlihat ujung jari kakinya berada di depan bek, mereka akan dianggap offside.

Kartu Merah

Teknologi ini hanya akan digunakan jika diyakini bahwa wasit di lapangan telah membuat kesalahan yang 'jelas dan kentara' atau mengeluarkan pemain yang salah - seperti yang terjadi di Stamford Bridge pada 2014 dimana Kieran Gibbs diberikan perintah keluar dan bukannya Alex Oxlade-Chamberlain.

Ini mungkin yang sulit bagi wasit di lapangan, karena pemain di sekitarnya mungkin akan memaksa mereka untuk meninjau lebih banyak keputusan daripada yang para wasit inginkan. Let's see.

sumber : FourFourTwo
Share This :