Review Gameweek 6 EPL 2019/2020 : Tottenham Terlalu Lunak, Man United Madesu!

Review Gameweek 6 EPL 2019/2020 : Tottenham Terlalu Lunak, Man United Madesu!
Review Gameweek 6 EPL 2019/2020 : Tottenham Terlalu Lunak, Man United Madesu!

Jika saya adalah manajer Leicester, Brendan Rodgers, saya akan menggosok-gosokkan kedua tangan saya dan memikirkan betapa hebatnya peluang yang saya dapatkan musim ini. Sementara Liverpool dan Manchester City berada jauh di depan semua orang di puncak klasemen, tim-tim lain yang biasanya berada dalam paket pengejaran semuanya memiliki masalah besar.

The Foxes adalah 'yang terbaik dari yang lain' di tempat ketiga saat ini, dan mereka harus dengan serius berpikir mereka bisa tinggal di sana. Rodgers menargetkan enam besar selama musim panas, dan dari apa yang telah kita lihat sejauh ini, timnya tidak hanya memiliki peluang cemerlang untuk membuat hal itu terwujud, tetapi empat besar adalah kemungkinan yang nyata bagi mereka juga.

Mereka pastinya tidak perlu lagi takut dengan Arsenal, Chelsea, Manchester United atau Tottenham, karena penampilan mereka baru-baru ini telah menunjukkan kepada kita bahwa sama sekali tidak ada yang perlu ditakuti.

Tottenham Terlalu Lembek

Leicester bermain buruk ketika mereka kalah dari United di pekan ke-5. Namun, mereka menunjukkan kualitas mereka ketika mereka mengalahkan Tottenham pada hari Sabtu dan pantas mendapatkan tiga poin. Pasukan Mauricio Pochettino mengalami kesulitan saat ini, terutama saat melakukan laga tandang, dimana mereka belum berhasil meraih kemenangan liga sejak Januari.

Tottenham selalu berhasil memimpin terlebih dulu di babak pertama dalam tiga pertandingan tandang terakhir mereka - melawan Arsenal, Olympiakos dan kemudian The Foxes - tetapi semuanya gagal dimenangkan, yang sedikit banyak memberi tahu kita bahwa mereka memiliki kelembekan yang tampaknya tidak mampu mereka atasi.

Tottenham tak dapat ditampik memang memiliki musim yang brilian terakhir kali, mencapai final Liga Champions sambil tetap mempertahankan spot empat teratas Liga Premier untuk tahun keempat berturut-turut di bawah arahan Pochettino - tetapi mereka masih tampak jauh dari "mencapai level berikutnya" atau memasang target juara yang serius.

Arsenal dan Chelsea memiliki masalah besar di lini belakang

Arsenal menunjukkan karakter yang hebat untuk bangkit dari ketertinggalan 2-1 untuk mengalahkan Aston Villa dengan 10 pemain pada pekan ke-6 kemarin, tetapi kemenangan itu tidak menyamarkan fakta bahwa mereka memiliki masalah besar dalam bertahan. Bukan hanya lini belakang mereka yang bersalah, lini tengah mereka juga tidak memiliki cukup banyak pemain yang tampaknya mampu melakukan sprint untuk mengejar striker lawan.

Chelsea, yang tidak mencatatkan clean sheet dalam delapan pertandingan di semua ajang musim ini, berada di kapal yang sama. Mereka menunjukkan kepada Liverpool bahwa mereka membawa ancaman dan akan selalu mencetak gol, tetapi sayangnya untuk bos Frank Lampard, mereka selalu terlihat mudah untuk kebobolan juga.

Banyak pemain mereka masih muda dan naif, jadi Anda akan mendapatkan banyak ketidakkonsistenan dari mereka - dan itu membuat mereka kebobolan banyak gol. Tentu saja, Chelsea masih akan menampilkan beberapa penampilan bagus - seperti yang terlihat saat mereka kalah dari Liverpool dan atau kemenangan sensasional atas Wolves di akhir pekan sebelumnya, tetapi mereka tidak akan selalu mendapatkan hasil yang tepat karena kurangnya pengalaman mereka.


Manchester United yang Madesu (Masa Depan Suram)!

Jika Arsenal, Chelsea dan Spurs setidaknya terlihat melakukan usaha untuk menang selama akhir pekan - hal yang sama tidak terlihat di skuad Manchester United. Mereka bahkan tampak begitu menyedihkan saat kalah di kandang West Ham. Bos Old Trafford, Ole Gunnar Solskjaer, terlihat sangat positif ketika dia menghadapi media setelahnya, tetapi dia harus menyadari betapa buruk timnya.

Saya mengerti mengapa dia membela anak-anak buahnya, karena dia memiliki beberapa pemain muda dan dia tidak ingin menghancurkan kepercayaan mereka dengan mengkritik mereka di depan umum, tetapi saya pikir dia akan mengatakan hal yang berbeda kepada mereka secara pribadi. Mereka begitu rapuh di setiap sisi di atas lapangan melawan The Hammers, tidak punya semangat berjuang serta kreativitas, urgensi atau percikan dalam serangan. Hal seperti itu tidak bisa diterima. Mereka benar-benar madesu!

Rashford membutuhkan lebih banyak gerakan agresif di dalam kotak pinalti lawan

Sekarang jelas bahwa United melakukan pertaruhan besar-besaran ketika mereka menjual striker Romelu Lukaku ke Inter Milan dan meminta para pemain yang tidak mencetak gol atau pencetak gol yang belum terbukti untuk menggantikannya.

Marcus Rashford memiliki bakat yang sangat besar, tetapi ia masih memiliki banyak ruang peningkatan untuk dilakukan. Mason Greenwood memiliki potensi besar juga, tetapi itu jelas permintaan yang terlalu besar baginya jika diminta untuk memimpin serangan United pada usia 17 tahun.

Dengan Anthony Martial masih cedera, MU bahkan tidak memiliki penyerang tengah yang diakui publik di bangku cadangan untuk menggantikan Rashford ketika ia tertatih-tatih setelah satu jam di Stadion London. Saya memiliki simpati untuk Rashford, yang gagal mencetak gol dalam permainan terbuka di 6 laga berturut-turut musim ini, karena itu tidak akan memberi saya harapan besar untuk mendapatkan 25 atau 30 gol jika saya bermain di tim itu - tetapi ia harus membantu dirinya sendiri juga.

Saya masih belum tahu apakah pemain berusia 21 tahun itu akan mantap berposisi sebagai penyerang tengah, tetapi jika ia akan menjadi striker kelas atas dengan naluri pembunuh, maka gerakannya di kotak pinalti lawan perlu ditingkatkan secara dramatis, dan dia perlu belajar untuk mencetak gol licik juga.

Saya belum melihat apa pun yang menunjukkan bahwa Solskjaer telah menemukan jawaban atas segala masalah yang dihadapi MU saat ini, tetapi satu penghiburan baginya adalah bahwa beberapa klub besar lainnya juga sedang mengalami problema yang kurang lebih serupa.

sumber : BBC
Share This :