Saat Yang Tepat Untuk Mengagumi Seorang Callum Hudson-Odoi

Saat Yang Tepat Untuk Mengagumi Seorang Callum Hudson-Odoi
Saat Yang Tepat Untuk Mengagumi Seorang Callum Hudson-Odoi

Mungkin mudah untuk melebih-lebihkan potensi pemain Inggris yang menjanjikan. Tetapi dalam diri Callum Hudson-Odoi, Chelsea sejatinya memiliki lebih dari sekedar pemain sepakbola yang berbakat - dia juga sangat pintar.

Dihajar oleh ingatan akan apa yang terjadi di waktu-waktu sebelumnya, sepakbola Inggris harus melangkah dengan hati-hati dalam hal pengembangan bakat-bakat muda mereka. Sudah sering terjadi, para pundit di negeri Ratu Elizabeth, atau bahkan para suporternya, salah mendiagnosa bakat-bakat muda yang muncul. Mereka seringkali bereaksi berlebihan terhadap seorang pemain berpotensi, menganggapnya akan dapat menjadi bintang besar di masa depan untuk kemudian tiba-tiba hilang dan terus merosot prestasinya.

Benar-benar sebuah penyangkalan yang disengaja, karena semua orang sangat membutuhkan kesempatan untuk bisa bangga dengan pemain lokal mereka. Mereka ingin bernyanyi tentang dia, menjadi bagian dari kehidupan pemain itu sendiri dan sekaligus untuk mengklaim superioritas dari kesuksesan yang tidak melulu bergantung pada jendela transfer.

Mengapa, misalnya, bahwa Phil Foden tetap di garis depan dan pusat produksi komersial Manchester City? Karena personanya sangat memikat. Mungkin Foden saat ini bukanlah pilihan utama di City, tetapi image yang dia wakili masih sangatlah kuat. Di dunia saat ini, di mana nilai sepakbola sangat sintetis, keaslian semacam itu adalah komoditas yang tak ternilai.

Namun, biayanya adalah kecenderungan untuk sering melihat atribut yang tidak benar-benar ada. Tetapi tentunya tidak dalam kasus Foden, karena begitu dia diizinkan masuk lapangan dari bangku cadangan, dia akan menjadi pemain yang sangat baik. Hanya saja, itu adalah fenomena umum yang sudah biasa.

Hal umum seperti itu, tidak berlaku untuk Callum Hudson-Odoi.

Ketika sikap Chelsea berubah terhadap akademi mereka, selalu ada risiko dan kompensasi yang berlebih. Untungnya, sejauh ini mereka berhasil meminimalkan risiko itu, karena para pemain yang dipromosikan benar-benar memenuhi standar yang disyaratkan. Mungkin Tammy Abraham dan Fikayo Tomori masih dalam evaluasi untuk saat ini, dengan peluang lebih lanjut tergantung pada aktivitas transfer musim panas mendatang, tetapi Mason Mount terlihat sangat mantap dan tidak ada yang buram tentang masa depan Hudson-Odoi.

Apa yang benar-benar mengejutkan tentang Hudson-Odoi sebenarnya bukanlah cara dia membawa bola. Itu cukup memukau, ya, dan ada sesuatu yang memikat dan halus tentang bagaimana ia berlari diantara para pemain bertahan, tetapi yang benar-benar membuat mata terbelalak adalah perasaannya terhadap permainan.

Apa artinya? Gampangnya, ini adalah tentang keputusan. Kami, para pelatih akademi, dilatih untuk memperhatikan potensi seorang pemain muda - seperti kecepatan, skill - dengan beberapa atribut tambahan yang lebih akurat untuk mengukur kepantasan nilainya. Jadi, sementara reputasi Hudson-Odoi saat ini telah dibangun dari gaya bermainnya yang dinamis, masa depannya kemungkinan besar akan ditentukan oleh kemampuannya dalam membaca sekaligus merencanakan jalannya permainan, kemampuan menyesuaikan permainannya sendiri dengan situasi tertentu.

Oke, itu mungkin penilaian yang sedikit prematur, sama prematurnya ketika semua orang berdecak kagum akan potensi Danny Cadamarteri, wonderkid Inggris di masa lalu yang kemudian tumbang begitu saja. Tetapi itulah kesan yang ia tinggalkan pada hari Sabtu saat melawan Newcastle. Dengan gaya mengiris menyisir lapangan, Hudson-Odoi terus menerus mengungkapkan pada menonton bahwa dia menjadi semakin terlibat dalam permainan, meskipun kondisi dalam permainan itu sendiri telah berubah sejak turun minum.

Saat melawan Newcastle, yang terlihat oleh mata awam mungkin adalah kontribusinya untuk satu-satunya gol di pertandingan itu. Itu adalah bola yang bagus untuk Marcos Alonso, berbobot dan terarah dengan baik, tetapi sekaligus mengejutkan melihat posisi Hudson-Odoi saat memberikan assist itu - posisi nomor sepuluh, menjadi pemain pemantul di tepi kotak pinalti lawan, bertindak sebagai poros gerakan. Apa yang ditunjukkannya adalah kemampuannya untuk mengenali bagaimana dia bisa berpengaruh dalam permainan. Newcastle menjadi semakin defensif sepanjang sore itu dan berhasil memblok area tengah dan menahan Mount dan Abraham dengan sangat baik.


Ketika Hudson-Odoi menerapkan kemampuannya di daerah itu, mereka tidak bisa mengatasinya. Sebuah momen kecil di dalam game yang cukup untuk menjadi pembeda antara satu poin dan tiga. Khusus untuk Hudson-Odoi, itu juga bukti ia memiliki atribut tambahan - keengganan untuk menjadi korban perubahan bentuk permainan, dan tekad untuk mengejar kemenangan. Lebih luas, itu menunjukkan banyak pemikiran dalam permainannya.

Yang sering terjadi, pemain muda bermain tepat seperti yang diperintahkan kepada mereka, yang berakibat pada inefisiensi. Mereka melakukan apa yang telah diajarkan kepada mereka, bukannya bereaksi terhadap apa yang mereka lihat. Apa yang diperlihatkan Hudson-Odoi, terutama sejak pulih dari cedera Achilles, adalah keterampilan refleksif yang sebagian besar rekan-rekannya tidak miliki saat berusia 18 tahun.

Potret itu adalah seorang pesepakbola yang sangat berkembang. Seorang pemikir. Hudson-Odoi adalah pikiran yang layak dikagumi, bukan hanya sepasang kaki cepat. Dia orang Inggris dan oleh karena itu kita menanggung risiko, berpotensi menjadi parodi ketika kariernya menanjak, seperti yang sudah terjadi pada banyak pemain muda Inggris lainnya. Tetapi saat ini, rasanya adalah saat yang tepat untuk mengagumi seorang Callum Hudson-Odoi.

sumber : Four Four Two
Share This :
avatar

artikel bola yang sangat bermanfaat
Berita Bola Terbaru

Delete 27 October 2019 at 15:30